Kerajinan Wayang Kulit Dumplengan - Pitu, Ngawi Jawa Timur

Data Teknis
KategoriWarisan Budaya
Kategori SubWarisan Budaya
No Inventaris-
NamaKerajinan Wayang Kulit Dumplengan - Pitu, Ngawi Jawa Timur
Karya BudayaKemahiran Kerajinan Tradisional
Karya Budaya SubMakanan / Minuman Tradisional
Kondisi Saat IniMasih Bertahan
Status BudayaPencatatan
Pelaku KomunitasSuwito
Pencatat Karya BudayaTh. Esti Wuryansari, S.Ant.
Narasumber-
ProvinsiJawa Timur
Kabupaten/KotaKAB. NGAWI
Penginput DataDwi Hastuti, S.Pd.
Kerajinan wayang berbahan dasar dari kulit hewan sapi dan kambing Desa Dumplengan, Kecamatan Pitu, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur masih bertahan meski minat terhadap kesenian tradisional semakin menipis. Semakin menipisnya minat masyarakat terhadap kesenian tradisional tidak menurunkan semangat salah seorang pengrajin wayang kulit, Suwito untuk terus memproduksi wayang kulit. Suwito menekuni pembuatan wayang kulit semenjak tahun 1980-an dan masih berjalan hingga sekarang meskipun pesanan wayang kulit sudah tidak seramai dulu. Wayang kulit diciptakan berdasarkan cerita saat kejayaan Kerajaan Majapahit yang mengambil cerita Ramayana dan Mahabarata. Berangkat dari nilai sejarah yang tinggi tersebut Suwito ingin melestarikan budaya wayang kulit. Usaha pembuatan wayang ditekuni di rumahnya. Semua proses pembuatan wayang kulit dilakukannya sendiri, kecuali jika banyak pesanan barulah ia dibantu oleh dua orang temannya. Proses pembuatan wayang kulit diawali dengan menggambar pola wayang di atas kulit sapi atau kambing. Setelah pola tergambar kemudian dilanjutkan dengan proses penatahan. Gambar yang telah tertatah kemudian dilakukan pengecatan dan pengeringan. Dalam sehari Suwito rata-rata mampu menghasilkan satu buah tokoh wayang kulit, sedangkan untuk membuat hiasan dinding wayang kulit dengan ukuran satu kali satu meter membutuhkan waktu sekitar satu minggu. Pemesanan dulunya didominasi untuk keperluan pagelaran namun kini masyarakat berminat pada hiasan dinding. Hal ini karena keunikan dan keindahan wayang kulit dengan berbagai ukuran yang ditawarkan. Hambatan yang dihadapi oleh Suwito adalah kesulitan untuk mendapatkan bahan baku kulit sapi atau kulit kambing. Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku, kulit sapi didatangkan dari Klaten, Jawa Tengah, sedangkan untuk bahan baku kulit kambing didatangkan dari Ngawi, Magetan, dan sekitarnya. Di tengah menurunnya pemesanan, Suwito bertekad membuat wayang kulit tidak hanya untuk mendapatkan penghasilan namun lebih pada upaya pelestarian warisan budaya.