Data Teknis
| Kategori | Warisan Budaya |
| Kategori Sub | Warisan Budaya |
| No Inventaris | - |
| Nama | Tradisi Resik Lawon Mojopanggung |
| Karya Budaya | Adat Istidat Masyarakat |
| Karya Budaya Sub | Upacara Tradisional |
| Kondisi Saat Ini | Masih Bertahan |
| Status Budaya | Pencatatan |
| Pelaku Komunitas | Jam’i Abdul Ghani |
| Pencatat Karya Budaya | Th. Esti Wuryansari, S.Ant. |
| Narasumber | - |
| Provinsi | Jawa Timur |
| Kabupaten/Kota | KAB. BANYUWANGI |
| Penginput Data | Dwi Hastuti, S.Pd. |
Tradisi resik lawon atau ritual mencuci kain kafan penutup makam Buyut Cungking merupakan tradisi yang disakralkan oleh warga Desa Mojopanggung. Tradisi sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu dan masih berlangsung hingga sekarang. Tradisi resik lawon diselenggarakan secara rutin oleh warga Cungking, Desa Mojopanggung, Kecamatan Giri, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur. Buyut Cungking merupakan sesepuh yang mbabat alas (membuka hutan) membangun daerah Banyuwangi yang dulu masih masuk wilayah Kerajaan Blambangan.
Tradisi resik lawon diadakan pada hari kamis atau minggu antara tanggal 10 hingga 15 bulan Ruwah. Tradisi resik lawon ini diadakan untuk menghormati Ki Wongso Karyo yang merupakan leluhur masyarakat Cungking yang kemudian dikenal dengan nama Buyut Cungking. Ritual diawali dengan kerja bakti membersihkan makam dan beberapa warga membuka kain kafan penutup makam untuk dibersihkan. Kain kafan tersebut kemudian dibawa ke Dam Krambatan Banyu Gulung yang ada di Desa Banjarsari untuk dicuci. Setelah dicuci kain putih sepanjang 110,75 meter dibawa kembali ke Balai Tajuk untuk dibilas dan diperas.
Tradisi resik lawon dilakukan oleh kaum laki-laki, sedangkan kaum perempuan bertugas untuk menyiapkan makanan di Balai Tajuk untuk disajikan setelah kaum laki-laki menyelesaikan tugasnya membersihkan lawon. Warga Desa Mojopanggung mempunyai keyakinan bahwa air bekas perasan kain kafan bisa membuat awet muda bagi orang yang meminumnya selain itu juga bisa mendatangkan keberkahan dan kesehatan sehingga menjadi rebutan warga desa.
Setiap lembar kain kafan diperas dan dibilas sampai tiga kali dalam dua bak yang berbeda. Setelah dibilas dan diperas kain kafan kemudian dijemur di tengah jalan dengan bantuan bambu dan tali tambang warna hitam. Satu hal penting adalah kain kafan yang telah dicuci tidak boleh kena tanah. Setelah kering, kain kafan dilipat dan disimpan di Balai Tajuk selama satu minggu. Setelah disimpan satu minggu kain kafan tersebut dilabuh atau dipendam di sekitar makam Buyut Cungking. Tradisi resik lawon diakhiri dengan nyekar ke makam Buyut Cungking sebagai bentuk permintaan maaf warga bila ada kesalahan selama upacara resik lawon berlangsung. Tradisi resik lawon dilaksanakan setiap tahun, jika tidak dilaksanakan mereka percaya akan ada bencana yang melanda daerah mereka.