Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Jaranan/Jaran Kepang - Jember, Jawa Timur |
Sejarah:
Di beberapa daerah di Jawa seperti Bangkalan, Sampang, Magetan, Bondowoso, Jember, Madiun, Ngawi dan kabupaten lainnya memiliki seni pertunjukan yang dikenal dengan nama Jaranan (ada beberapa variasi nama). Kesenian Jaranan sudah muncul sejak lama. Disebut jaranan karena asal kata dari jaran atau kuda dengan akhiran an. Oleh karena itu kata jaranan berarti seperti jaran atau seperti kuda. Property yang utama adalah berupa peralatan yang terbuat dari anyaman bambu dan seakan mirip dengan kuda. Jaranan masuk dalam genre seni yang berasal dari rakyat atau seni massa. Fungsi seni jaranan ada yang dipakai sebagai sarana hiburan namun ada juga yang dipakai sebagai sarana ritual.
Di Jember ada beberapa grup kesenian yang mengembangkan kesenian jaranan, seperti yang terdapat di Kencong , Kaliwates dan daerah Umbulsari. Salah satu grup tersebut bernama Kridho Budoyo. Grup tersebut lahir sekitar tahun 2006. Grup ini memfokuskan diri dalam pengembangan kesenian jaranan campursari. Grup kesenian Kridho Budoyo beralamatkan di Jl. Kauman No. 8 Mangli Kecamatan Kaliwates Kabupaten Jember Provinsi Jawa Timur. Pimpinan grup tersebut dipegang oleh bapak H. Mukhtar.
Deskripsi:
Jaranan adalah seni tari yang dimainkan oleh empat sampai enam orang yang mengapit kuda-kudaan dari anyaman bambu, dengan membawa pecut atau cemeti, dengan diiringi alunan musik kas Jawa. Gamelan untuk mengiringi tarian tersebut berupa satu unit musik gamelan Jjawa berupa ketuk, kenong, kempul, gong suwukan, terompet, kendang dan angklung. Penari jaranan dahulu hanya laki-laki namun sekarang banyak juga yang ditarikan oleh perempuan. Penari perempuan umumnya hanya untuk tarian hiburan.
Dalam keseluruhan pagelaran tari jaranan ada atraksi penari masuk dalam dunia alam bawah sadar (trance(. Istilah Jawanya ndadi (kesurupan) atau ( trance). Atraksi ndadi inilah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi para audiens. Tatkala penari trance maka ada beberapa kebiasaan yang dilakukan dan berada di luar kebiasaan manusian pada umumnya, seperti mengunyah gelas; minum air mendidih; badannya dipaku atau ditusuk memakai deruji panas; berjalan di atas bara api dan lainnya. Oleh karena itu dalam setiap pementasan umumnya sebuah grup jaranan selalu memiliki seseorang yang dianggap memiliki kelebihan atau dukun. Dialah yang akan “menyembuhkan” penari yang kesurupan.