Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaOrganisasi Mardi Santosaning Budi (MSB)
Organisasi Mardi Sanotasaning Budi (MSB) berdiri pada hari Minggu Wage, tanggal 30 Mei 1990 di Kadipaten Wetan, Plengkung Tamansari, Yogyakarta. Pendiri MSB adalah Bapak Hardjodipuro bersama-sama dengan Bapak Abdul Madjid, Bapak RP. Judodipurpo (Somadipuro), Bapak Praptoatmodjo, Bapak Prapto Mulyono, Bapak Dipososro, Bapak Warsono, B.Sc., Bapak Slamet MangkuWasasmito dan Bapak Dirjo Tugimin. Lahirnya ajaran ini berawal dari akibat dari rasa keprihatinan terhadap bangsa akibat penjajahan. Setelah melakukan tapa brata Bapak Hardodipuro mendapat banyak tuntunan dari Tuhan untuk menjalankan ajaran-jaran yang diberkahinya yang kemudian ajaran-ajaran tersebut dipraktekkan dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam perkembangannya , ajaran ini mendapat perhatian terutama dari sesame pejuan yang ingin memperoleh ketenangan hidup. Tujuan didirikannya organisasi Mardi Santosaning Budi adalah untuk mendalami kawruh (ilmu) dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.Lambang organisasi MSB berbentuk bulat bergerigi. Di dalam bulatan terdapat gambar gelang rantai, gambar padi dan kapas, tulisan MSB dengan aksara Jawa, gambar gerigi dan tulisan MSB serta gambar bintang tiga. Masing-masing gambar mempunyai arti dan makna. Ajaran MSB bersumber pada serta keyakinan dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, yang diwariskan secara turun temurun. Inti dari ajaran tersebut bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan untuk melaksanakan tugas dan kewajiban hidupnya yang kemudian dipanggil kembali kehadapanNya. Sehingga MSB mengajarkan kepada warganya agar manusia selalu mendapat tuntunan luhur dan diberi berkah ketentraman, keselamatan dan kebahagiaan lahir dan batin. Organisasi Mardi Sanotasaning Budi (MSB) berdiri pada hari Minggu Wage, tanggal 30 Mei 1990 di Kadipaten Wetan, Plengkung Tamansari, Yogyakarta. Pendiri MSB adalah Bapak Hardjodipuro bersama-sama dengan Bapak Abdul Madjid, Bapak RP. Judodipurpo (Somadipuro), Bapak Praptoatmodjo, Bapak Prapto Mulyono, Bapak Dipososro, Bapak Warsono, B.Sc., Bapak Slamet MangkuWasasmito dan Bapak Dirjo Tugimin. Lahirnya ajaran ini berawal dari akibat dari rasa keprihatinan terhadap bangsa akibat penjajahan. Setelah melakukan tapa brata Bapak Hardodipuro mendapat banyak tuntunan dari Tuhan untuk menjalankan ajaran-jaran yang diberkahinya yang kemudian ajaran-ajaran tersebut dipraktekkan dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam perkembangannya , ajaran ini mendapat perhatian terutama dari sesame pejuan yang ingin memperoleh ketenangan hidup. Tujuan didirikannya organisasi Mardi Santosaning Budi adalah untuk mendalami kawruh (ilmu) dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.Lambang organisasi MSB berbentuk bulat bergerigi. Di dalam bulatan terdapat gambar gelang rantai, gambar padi dan kapas, tulisan MSB dengan aksara Jawa, gambar gerigi dan tulisan MSB serta gambar bintang tiga. Masing-masing gambar mempunyai arti dan makna. Ajaran MSB bersumber pada serta keyakinan dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, yang diwariskan secara turun temurun. Inti dari ajaran tersebut bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan untuk melaksanakan tugas dan kewajiban hidupnya yang kemudian dipanggil kembali kehadapanNya. Sehingga MSB mengajarkan kepada warganya agar manusia selalu mendapat tuntunan luhur dan diberi berkah ketentraman, keselamatan dan kebahagiaan lahir dan batin.

-