Data Teknis
| Kategori | Warisan Budaya |
| Kategori Sub | Warisan Budaya |
| No Inventaris | REK/WBTB/2017/01/00063 |
| Nama | Beksan Lawung Ageng Keraton Yogyakarta |
| Karya Budaya | Seni Pertunjukan |
| Karya Budaya Sub | Seni Tari |
| Kondisi Saat Ini | Masih Bertahan |
| Status Budaya | Penetapan |
| Pelaku Komunitas | Belum diisi |
| Pencatat Karya Budaya | -Data Pencatat belum ada- |
| Narasumber | - |
| Provinsi | DI Yogyakarta |
| Kabupaten/Kota | KOTA YOGYAKARTA |
| Penginput Data | Juniar Firdiansyah |
Beksan Lawung Ageng merupakan tarian pusaka (Yasan Dalem) Keraton Yogyakarta yang diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I pada abad ke-18. Tarian sakral berkarakter gagah ini terinspirasi dari tradisi "watangan", yaitu latihan ketangkasan prajurit berkuda yang saling menyerang menggunakan tombak berujung tumpul bernama lawung. Di balik gerakannya yang dinamis dan tegas, Beksan Lawung Ageng menyimpan strategi diplomasi yang cerdas, karena sejatinya tarian ini digunakan sebagai sarana terselubung untuk melatih fisik, mental, dan taktik perang para prajurit keraton di tengah pembatasan militer yang ketat oleh kolonial Belanda pada masa itu.Secara filosofis dan struktur pertunjukan, tarian klasik ini merefleksikan nilai-nilai keprajuritan, kedisiplinan, serta kepatuhan penuh terhadap pemimpin yang terbagi ke dalam beberapa peran spesifik seperti Lurah, Jajar, dan Abdi. Setiap penari mengenakan busana kebesaran prajurit tradisional lengkap dengan penutup kepala kuluk dan kain bermotif khusus, serta bergerak seirama dengan iringan musik gamelan yang megah dan berwibawa. Sebagai salah satu warisan budaya takbenda, Beksan Lawung Ageng tidak hanya sekadar pertunjukan seni estetis, melainkan sebuah representasi agung dari semangat ksatria, patriotisme, dan falsafah hidup masyarakat Jawa yang terus dilestarikan oleh Keraton Yogyakarta hingga saat ini.