Data Teknis
| Kategori | Warisan Budaya |
| Kategori Sub | Warisan Budaya |
| No Inventaris | REK/WBTB/2016/01/00076 |
| Nama | Langen Mandra Wanara |
| Karya Budaya | Seni Pertunjukan |
| Karya Budaya Sub | Seni Tari |
| Kondisi Saat Ini | Masih Bertahan |
| Status Budaya | Penetapan |
| Pelaku Komunitas | Belum diisi |
| Pencatat Karya Budaya | -Data Pencatat belum ada- |
| Narasumber | - |
| Provinsi | DI Yogyakarta |
| Kabupaten/Kota | KOTA YOGYAKARTA |
| Penginput Data | Juniar Firdiansyah |
Langen Mandra Wanara adalah sebuah dramatari gaya Yogyakarta yang menggunakan dialog berbentuk tembang macapat, dengan sumber materi dramatik wiracarita Ramayana, yang diciptakan oleh K.P.H. Yudonegoro III (K.G.P.A.A. Danurejo VII) pada tahun 1890. Dramatari berdialog tembang ini disusun sebagaimana layaknya sebuah opera, tetapi dengan tata cara penyajian mirip wayang wong gaya Yogyakarta. Perbedaan yang paling menyolok dibandingkan dengan penyajian wayang wong adalah dialognya yang menggunakan tembang macapat dalam bentuk rambangan dan sekar gendhing yang diselingi dengan senggakan, dan hampir seluruh perannya ditampilkan dengan Joged Jengkeng (gerak tari dilakukan dalam posisi jongkok).Langen Mandra Wanara merupakan sebuah seni tradisi yang hidup dan berkembang atas partisipasi masyarakat sebagai pemangku keseniannya. Langen Mandra Wanara berasal dari bahasa Jawa yaitu langen yang berarti bersenang-senang, mandra yang berarti banyak dan wanara yang berarti Kera. Jadi Langen Mandra Wanara dapat diartikan sebuah seni pertunjukan yang banyak menggunakan peran kera.