Makanan Tradisional Sagon - Kab. Bantul, D.I. Yogyakarta

Data Teknis
KategoriWarisan Budaya
Kategori SubWarisan Budaya
No Inventaris-
NamaMakanan Tradisional Sagon - Kab. Bantul, D.I. Yogyakarta
Karya BudayaKemahiran Kerajinan Tradisional
Karya Budaya SubMakanan / Minuman Tradisional
Kondisi Saat IniMasih Bertahan
Status BudayaPencatatan
Pelaku KomunitasRiyanto
Pencatat Karya BudayaDwi Hastuti, S.Pd.
NarasumberWawancara dengn Sarijah
ProvinsiDI Yogyakarta
Kabupaten/KotaKAB. BANTUL
Penginput DataDwi Hastuti, S.Pd.
Sejarah: Sagon termasuk salah satu makanan tradsional khas Yogyakarta. Sagon sudah ada sejak jaman dahulu. Namun tahun berapa makanan sagon mulai ada dan bagaimana sejarahnya khususnya di Bantul tidak dapat diketahui. Salah seorang perajin sagon yaitu Bp Riyanto berada di Kampung Wiyoro, Kalurahan Baturetno, Kaecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Bp. Riyanto memulai usaha membuat sagon sejak sekitar 25 tahun yang lalu. Usaha membuat sagon yang dikelola oleh Bp Riyanto merupakan usaha yang turun temurun dari neneknya yang bernama Ibu Sarijah. Sampai sekarang produksi sagon yang dikelola oleh Bp. Riyanto masih tetap bertahan. Deskripsi: Sagon termasuk salah satu makanan tradisonal khas Yogyakarta, khususnya di wilayah Bantul. Sagon dibuat dari bahan baku beras ketan yang dibuat tepung, kelapa parut dan gula pasir serta diberi bumbu sedikit garam. Rasanya manis dan gurih, dengan tekstur agak kasar. Salah seorang yang mempunyai usaha membuat sagon di daerah Bantul yakni Bp Riyanto yang berlokasi di Jl. Wonosari Km 7, Wiyoro Lor Rt 02 Baturetno, Banguntapan, Bantul. Usaha pembuatan sagon yang dikelola oleh Bp Riyanto dimulai sejak tahun 1950-an. Usaha pembuatan sagon tersebut merupakan usaha yang turun temurun dari neneknya. Sagon hasil produksi Bp. Riyanto dibuat dengan cara yang masih sangat sederhana, tanpa pengawet maupun pewarna pewarna. Sehingga sagon buatan Bp Riyanto tidak tahan lam jadi hanya mampu bertahan 2(dua) sampai 3(tiga) hari saja. Alat-alat yang dipakai untuk membuat sagon antara lain gilingan tepung, parutan kelapa, tempat untuk tepung ketan dan gula pasir, cetakan sagon, alat pemanas yaitu berupa angklo dengan bahan bakar arang. Proses membuat sagon tidak begitu sulit, pertama beras ketan dicuci bersih kemudian di giling untuk dijadikan tepung. Kemudian kelapa yang sudah dibersihkan kulit arinya di parut dengan menggunakan parutan kelapa. Untuk selanjutnya tepung ketan dicampur dengan kelapa parut dengan perbandingan untuk beras ketan sebanyak 1kg maka kelapa yang diperlukan sebanyak 4 buah kelapa dan diberi sedikit garam. Kemudian sedikit demi sedikit tepung ketan dan parutan kelapa dimasukan kedalam cetakan yang berbentuk bulat, lalu secara bergantian dimasukkan gula pasir. Selanjutnya cetakan ditutup lalu dibakar di atas bara api yang ada di angklo, begitu juga diatas tutup cetakan diletakkan bara api, sehingga sagon akan matang dari bawah sampai di permukaan atasnya. Hanya dengan waktu kira-kira dua menit sagon sudah matang. Dengan dibantu 1 orang tenaga kerja, dalam 1 hari Bp. Riyanto rata-rata menghasilkan 100 buah sagon. Untuk pemasaran sagon hasil produksinya dijual di toko makanan miliknya. Pada musim liburan biasanya permintaan meningkat. Karena sagon hasil produksi Bp. Riyanto sangat cocog untuk oleh-oleh.