Data Teknis
| Kategori | Warisan Budaya |
| Kategori Sub | Warisan Budaya |
| No Inventaris | REK/WBTB/2016/01/00071 |
| Nama | Suran Mbah Demang |
| Karya Budaya | Adat Istidat Masyarakat |
| Karya Budaya Sub | Upacara Tradisional |
| Kondisi Saat Ini | Masih Bertahan |
| Status Budaya | Penetapan |
| Pelaku Komunitas | Belum diisi |
| Pencatat Karya Budaya | -Data Pencatat belum ada- |
| Narasumber | - |
| Provinsi | DI Yogyakarta |
| Kabupaten/Kota | KAB. SLEMAN |
| Penginput Data | Juniar Firdiansyah |
Menurut sejarahnya, Cokrodikromo adalah seorang demang yang hidup pada masa 1880 di Demakijo (sekarang Desa Banyuraden). Ia seorang yang memilki kemampuan bisa mendekteksi keberadaan sumber mata air arthesis. Demang yang memiliki nama asli Asrah ini, sewaktu masih muda gemar bertapa. Asrah muda dipercaya Belanda menjadi mandor di pabrik gula Demakijo karena keberaniannya mengusir perampok. Banyaknya prestasi yang dimiliki Asrah, Belanda kemudian mengangkatnya menjadi Demang Demakijo.Syahdan, dahulu kala di bulan Asyura (Muharram) terjadi kemarau panjang hingga mengakibatkan kekeringan di wilayah Demakijo. Maka dengan kemampuannya, Demang Cokrodikromo bisa membuat sumur yang airnya tidak pernah habis hingga sekarang. Sumur tersebut kemudian dikenal dengan sebutan Sumur Mbah Demang, selain bisa mengatasi kekeringan di wilayah Demakijo, air sumur tersebut juga dipercaya memiliki kasiat dapat menyembuhkan penyakit serta membuat awet muda.