Slametan Gongso Ageng - Sukoharjo, Jawa Tengah

Data Teknis
KategoriWarisan Budaya
Kategori SubWarisan Budaya
No Inventaris-
NamaSlametan Gongso Ageng - Sukoharjo, Jawa Tengah
Karya BudayaAdat Istidat Masyarakat
Karya Budaya SubRitus
Kondisi Saat IniMasih Bertahan
Status BudayaPencatatan
Pelaku KomunitasSanjoyo
Pencatat Karya BudayaDwi Hastuti, S.Pd.
NarasumberSanjoyo
ProvinsiJawa Tengah
Kabupaten/KotaKAB. SUKOHARJO
Penginput DataDwi Hastuti, S.Pd.
Desa Wirun, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah merupakan sentra produksi gamelan. Pembuatan gamelan di desa tersebut sudah dilakukan secara turun temurun dan masih eksis hingga saat ini. Pada pembuatan gamelan terdapat suatu tradisi spiritual unik yang disebut dengan Slametan Gongso Ageng atau Slametan Gangsa Ageng. Masyarakat percaya bahwa proses pembuatan gong memerlukan keharmonisan lahir dan batin, serta restu dari Yang Maha Kuasa. Oleh karena itu, sebelum proses peleburan logam dan penempaan gong dilakukan, dilaksanakan ritual yang dinamakan Slametan Gongso Ageng. Waktu pelaksanaan ritual, biasanya pada hari yang dianggap baik menurut penanggalan Jawa. Ritual Selamatan ini hanya dilakukan pada saat akan membuat gong dengan ukuran besar, yakni gong yang mempunyai diameter 90 cm atau lebih. Fungsi dari ritual Slametan ini adalah memohon berkah dari kelancaran dari Tuhan agar pada proses pembuatan gamelan, khususnya gong dengan ukuran besar diberi , keselamatan dalam bekerja, kelancaran dan menghasilkan gamelan yang mempunyai kualitas yang tinggi. Masyarakat percaya bahwa jika ritual tersebut tidak dilaksanakan saat akan membuat gong berukuran besar, maka akan terjadi kegagalan produksi, misalnya gong akan pecah pada saat proses penempaan. Jalannya ritual, beberapa hari sebelum ritual dilaksanakan, pengrajin melakukan puasa dan menjaga diri sebagai bentuk penyucian lahir dan batin. Kemudian baru dilaksanakan ritual Slametan Gongso Ageng. Setelah semua sesaji sudah disiapkan maka pada pagi hari ritual Slametan Gongso Ageng dilaksanakan. Sesaji ritual terdiri dari: nasi golong, nasi asahan, nasi gudangan, nasi wuduk, ingkung, jajan pasar, bubur merah putih, pisang raja, bunga setaman. Ritual yang dipimpin oleh bapak Modin dan diawali dengan do’a. Isi dari do’a dari memohon kepada Yang Maha Kuasa keselamatan dan kelancaran dalam bekerja, dan menghasilkan gong berkualitas baik. Ritual diakhiri dengan makan bersama berbagai macam sesaji yang sudah di beri do’a. Selesai acara proses pembuatan gong yang ukurannya besar dimulai dengan peleburan timah dan tembaga.