Organisasi Kesenian Tunggul Wulung – Kesenian Cingpoling (Cingpoling Tunggul Wulung) - Purworejo, Jawa tengah

Data Teknis
KategoriSanggar Komunitas Seni
Kategori SubSanggar Komunitas Seni
No Inventaris-
NamaOrganisasi Kesenian Tunggul Wulung – Kesenian Cingpoling (Cingpoling Tunggul Wulung) - Purworejo, Jawa tengah
Pencatat Karya BudayaDwi Hastuti, S.Pd.
NarasumberMarijo
ProvinsiJawa Tengah
Kabupaten/KotaKAB. PURWOREJO
Penginput DataDwi Hastuti, S.Pd.
z. Nama kegiatan : Kesenian tradisional/ Seni Pertunjukan/Kesenian Cingpoling Tunggul Wulung. Kesenian Cingpoling diperkirakan muncul pada masa penjajahan Belanda, sekitar abab XVII, di Desa Kesawen, Kecamatan Pituruh, Kabupaten Purworejo. Pada saat itu, Desa Kesawen, Kecamatan Pituruh masuk dalam wilayah Kadipaten Karangduwur. Pada masa sekarang, Kesenian Cingpoling, Desa Kesawen, Kecamatan Pituruh, Kabupaten Purworejo berada di dalam organisasi kesenian Tunggul Wulung yang terbentuk sejak tahun 1957. Kesenian ini terus berkembang dari generasi ke generasi yang kemudian disahkan berdasarkan SK dari Depdikbud Kabupaten Purworejo dengan Nomor 0534/103061/J.91. Kesenian Cingpoling merupakan penggambaran prajurit Demang yang memerintah wilayah Kesawen (kala itu pemerintahan belum dipimpin oleh lurah atau kepala desa) yang saat itu sedang melakukan pisowanan. Dalam pisowanan tersebut, Demang Kesawen membawa upeti yang hendak diserahkan kepada Adipati Kadipaten Karangduwur dengan dikawal oleh tiga (3) orang prajuritnya yang bernama Krincing, Dipomenggolo, dan Keling. Sambil menunggu acara pisowanan dimulai, Demang Kesawen bersama tiga (3) prajuritnya melakukan latihan beladiri di lapamgan Kadipaten. Ketika mereka sedang asyik berlatih beladiri, diketahui oleh Adipati Karangduwur. Rupanya, beliau tidak berkenan jika Demang Kesawen dan anak buahnya melakukan latihan beladiri di alun-alun Karangduwur. Untuk itu, Adipati memperingatkan kepada Demang Kesawen dan anak buahnya, agar tidak mengulangi kegiatan serupa lagi di masa yang akan datang. Walaupun telah ditegur oleh Adipati Karangduwur, ternyata Demang Kesawen tidak jera. Pada pisowanan selanjutnya dia berkeinginan untuk kembali melakukan kegiatan beladiri di alun-alun kawedanan. Untuk itu dia mengajak musyawarah dua orang kepercayaannya, yaitu Jagabaya dan Komprang. Kemudian Komprang mengusulkan untuk melakukan penyamaran agar identitas ketiga orang yang dulu menimbulkan masalah tidak terbongkar. Oleh karena itu perlu disiapkan tatanan gerak meniru jogetan/tari dari semua pendherek Ki Demang. Komprang bertindak selaku sutradara, empat (4) orang sebagai pemukul bunyi-bunyian, satu (1) orang sebagai kemendir/pemayung, dua (2) orang sebagai pemencak, lainnya sebagai pengombyong. Dengan demikian ciri dari Dipomenggolo yang ada uci- uci/benjolan di dahi, Krincing yang mempunyai pusar bodong/sedikit menonjol, dan Keling yang mempunyai belang di betis akibat penyakit kulit, tertutup busana dan gerak tari. Akhirnya, terbentuklah tim kesenian yang terdiri dari para prajurit kademangan. Dari tiga (3) nama tokoh prajurit Krincing, Dipomenggolo dan Keling inilah nama kesenian ini menjadi Cingpoling. Ragam gerak pada kesenian Cingpoling dilakukan berulang-ulang karena pada dasarnya ini bukan merupakan suatu tarian, namun penyamaran gerak seorang prajurit. Adapun urutan gerakannya sebagai berikut: cakrak, ujung, titenan, gambul, dugangan, kitrangan, jajagan, adon-adon, gebragan, genjotan, limpen dan teteran. Personil Cingpoling pada awalnya terdiri dari 17 orang, tetapi pada kondisi sekarang yang masih eksis hanya sembilan (9) orang sebagai jumlah minimal yang harus dipenuhi, dengan rincian: satu (1) orang sebagai kemendir/pembawa payung, dua (2) orang sebagai pemencak, dua (2) orang sebagai pengiring, dua (2) orang sebagai penabuh ketipung, dua (2) orang sebagai penabuh kecrek. Kostum dan Alat terdiri dari: 1. Tutup Kepala: a. Bentuk Pacul Gowang untuk Kemendir dan Pemencak. b. Iket corak wulung untuk pemain lain. 2. Baju: baju berwarna hitam dengan corak dan asesoris seperti serdadu Belanda, khusus untuk Kemendir dan Pemencak. Busana anggota lain beskap motif lurik model Yogyakarta. 3. Alas Kaki: sandal khusus bertali atau sepatu disesuaikan dengan lokasi tampil. 4. Asesoris: kacamata hitam, sampur, keris. 5. Alat: a. Bendera atau panji-panji yang tiangnya berupa penyamaran untuk membawa tombak sebagai alat pengamanan. b. Kecer sebanyak 2 (dua) buah yang pada awalnya berupa senjata lempar dan pada bagian pinggiran kecer bergerigi runcing. c. Terompet adalah alat penyamaran senjata tulup/paser. d. Pedang tidak tersamarkan. e. Alat musik: kendang bunting, bendhe, kecer, dan terompet.Pada perkembangannya divariasi dengan tambahan bass drum. f. Alat lain berupa: bokor, lilin piring yang pada masa awal perkembangan digunakan untuk tempat sesaji. Ragam Gerak: 1. Ujung. Adalah gerakan hormat (sembah) kepada pimpinan. 2. Cakrak Gerakan berjalan menuju tempat pertunjukan samapi medan pentas. 3. Titenan Maju dengan sikap merunduk yang dilaksanakan oleh pemencak, kadang menengadah, kadang menunduk lalu mundur sampai batas tertentu. 4. Gambul Maju dengan sikap titenan, sampai di Tengah lalu tempelan bahu (gambol) antar pasangan. Maju hingga batas, lalu mundur tanpa gambol, terus maju lagi terus gambul. 5. Dugangan Adalah gerak langkah maju kembali mundur dengan jalur bebas, dibagi dalam dua regu, dilanjutkan sampai membentuk lingkaran. 6. Kitrangan Masing-masing pimpinan regu mengambil posisi berjauhan, gerakam ketika akan membentuk lingkaran. 7. Jajagan Gerak setelah membentuk lingkaran, pimpinan regu (pemencak) telah siap bertanding. 8. Adon-Adon Pemencak mengambil tempat berjauhan, berhadapan, maju dengan gaya merunduk dan menengadah dan sambil memainkan pedang, setelah dekat merunduk dengan berputar mengarah kiblat lain. Atau datang dari arah Selatan dan Utara menjadi arah timur dan barat dengan merunduk mundur lalu maju setelah dekat kemudian terjadi adu pedang, kemudian kembali ke tempat semula. 9. Gebragan Gebragan adalah gerakan memainkan pedang berulang-ulang. 10. Genjotan Gerakan seperti adon-adon , salah satu diantaranya jatuh tersungkur, yang satunya seperti akan menginjak-injak. Dilaksanakan bergantian, bangun dan tersungkur sambil membabat pemayung. 11. Teteran Gerak seperti semula berposisi di tempat semula dengan gaya ksatria, setelah dekat dilakukan gerakan meliuk-liuk kemudian meletakkan pedangnya, keduanya merunduk di atas pedang yang diletakkan sambil bersikap seperti adu kekuatan. 12. Limpen Selesai teteran, kembali ke posisi semula dalam keadaan jongkok seperti di adegan emprak, masing-masing berusaha akan mengambil senjata yang ditinggalkan di tengah arena. Cara pengambilannya dengan memperhatikan pengawasan/ sikap lawan. Jika lawan terlena, maju. Bila diketahui lawan, pura-pura takut, begitu seterusnyaa. Karena tidak ada yang kalah, keduanya berjajar berdekatan, langsung menghadap pimpinan. Makna dari Kesenian Cingpoling: Melestarikan gerak seni dan disiplin ksatria pengawal menjadi satu kesatuan yang indah, enak ditonton, dan dipadukan dengan alat musik dan asesoris yang dalam waktu tertentu digunakan sebagai alat pengamanan. Nilai Filosofis Kesenian Cingpoling: Nilai pengabdian dari seorang pengawal kepada pimpinan yang disebabkan oleh kondisi dan tekanan yang melarangnya tetapi karena tanggungjawabnya maka tugas pengamanan harus dilakukan dengan cara apapun. Dalam hal ini, pengawal yang dipimpin oleh tiga tokoh, yaitu: Krincing, Dipo, dan Keling (Cingpoling) memilih dengan menyamarkan dalam bentuk seni pertunjukan. Fungsi Kesenian Cingpoling: Pada masa dahulu merupakan media penyamaran gladi keprajuritan dari para pengawal Demang Kesawen saat melakukan pisowanan dalam bentuk tarian. Pada perkembangannya saat ini bergeser fungsinya, yaitu murni untuk hiburan dan pertunjukan yang disesuaikan dengan perkembangan zaman.

 Ketua : Marijo; Wakil: Simun; Sekretaris: Eko Priyono; Bendahara Samadi; Anggota:17 orang