Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaCerita Tentang Kyai Sejati dan Nyai Sejati - Gunung Kidul, DI yogyakarta
CeritarRakyat tentang Kyai Sejati dan Nyai Sejati merupakan salah satu cerita rakyat yang ada di Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunung Kidul. Cerita tersebut diceritakan secara lisan dan turun temurun dari generasi ke generasi. Kyai Sejati dan Nyai Sejati merupakan tokoh yang dianggap sebagai penunggu mata air di Gunung Bang. Kehadiran tokoh tersebut diketahui oleh Kyai Jaluwesi melalui petunjuk ghaib. Menurut kepercayaan, tokoh tersebut berupa manusia namun tidak dapat dilihat oleh orang biasa, perjalanannya mengikuti arah mata angin. Ketika ditanya tentang siapa sebenarnya Kyai Sejati, dirinya menjelaskan bahwa ia berasal dari Gunung Merapi. Selanjutnya Kyai Sejati juga menjelaskan bahwa selain dia ada Nyai Sejati berasal dri Gunung Lawu yang juga sebagai penunggu mata air di Gunung Bang. Nyai Sejati akan datang pada tanggal 14 bertepatan dengan hari Senin Paing. Kyai Sejati dan Nyai Sejati tidak tinggal di Gunung Bang tetapi akan kembali ke tempat asalnya yaitu Gunung Merapi dan Gunung Lawu. Namun jika sewakt-waktu ada yang minta bantuan maka kedua tokoh tersebut dapat dipanggil yaitu dengan cara membakar kemenyan. Pada suatu ketika Kyai Sejati minta kepada Kyai Jaluwesi untuk berpindah ke arah barat daya , yaitu di goa Pindul. Kyai Sejati menjanjikan bahwa akan diberi bekal gamelan satu pangkon (perangkat) atas kepindahan Kyai Jaluwesi . Sampai sekarang di goa Pindul terdapat batu yang dipercaya merupakan perubahan ujud dari gamelan milik Kyai Jaluwesi yang berasal dari pemberian Kyai Sejati. Selain itu ada pesan lain yang disampaikan oleh Kyai Sejati bahwa bahwa tumbuh-tumbuhan yang namanya pohon jalumampang yang pada saat itu banyak tumbuh di sekitar goa Pindul dapat dipakai sebagai obat abuh(bengkak). Sejak saat itu penduduk menggunakan tumbuh-tumbuhan tersebut sebagai obat tradisional. Kyai Jaluwesi mau pindah namun dengan syarat bahwa kelak jika Gunung Bang ramai dihuni manusia maka sekali waktu yaitu pada hari Senin Paing diperbolehkan mengadakan pertunjukan jambrung(ledhek). Adapun yang menjadi pelaku ledhek adalah anaknya, yaitu Widada-Widadi. Sejak saat itu di tempat tersebut dilaksanakan tradisi pertunjukan tarian ledhek di setiap tahunnya, waktunya dipilih hari Senin Paing, bertepatan dengan dengan datangnya Kyai Sejati ke Gunung Bang. Setelah beberapa lama tinggal di goa Pindul, Kyai jaluwesi melakukan moksa di tempat tersebut. Selanjutnya Ki Jaluwesi dianggap sebagai makhluk penunggu goa Pindul. Garis besar cerita tersebut mengungkapkan pesan dari Kyai Sejati kepada Kyai Jaluwesi serta asal mula diadakannya pertunjukan ledhek di Gunung Bang yang dilakukan oleh anak kembar Kyai Jaluwesi yang bernama Widada-Widadi. Cerita tersebut terkandung pesan nilai keramat.