Cerita Tentang Ki Ageng Wonokusumo - Gunung Kidul, DI Yogyakarta

Data Teknis
KategoriWarisan Budaya
Kategori SubWarisan Budaya
No Inventaris-
NamaCerita Tentang Ki Ageng Wonokusumo - Gunung Kidul, DI Yogyakarta
Karya BudayaTradisi dan Ekspresi Lisan
Karya Budaya SubCerita Rakyat
Kondisi Saat IniSudah Berkurang
Status BudayaPencatatan
Pelaku KomunitasBelum diisi
Pencatat Karya BudayaDwi Hastuti, S.Pd.
NarasumberSri Sumarsih. 1997. Fungsi Cerita Rakyat Terhadap Kehidupan Masyarakat di Karangmojo, Kabupaten Gunung Kidul. dalam Laporan Penelitian Jarahnitra. Yogyakarta, BKSNT Yogyakarta
ProvinsiDI Yogyakarta
Kabupaten/KotaKAB. GUNUNG KIDUL
Penginput DataDwi Hastuti, S.Pd.
Dusun Wonontoro merupakan salah satu dusun yang berada di Wilayah Desa Jatiayu, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Di desa tersebut terdapat bangunan yang menerut cerita merupakan petilasan dari Ki Ageng Wonokusumo I. Beliau adalah salah satu petera dari Ki Ageng Giring IV, namun dari ibu yang bukan Rara Lembayung. Ki Ageng Wonokusumo I meninggalkan kediaman orantuanya untuk mengembara sambil melaksanakan laku prihatin. Akhirnya beliau menjadi seorang yang memiliki ilmu kebatinan. Selama mengembara Ki Ageng Wonokusumo sempat tinggal di beberapa tempat yang kemudian oleh masyarakat tempat-tempat tersebut kemudian dikeramatkan. Salah satu tempat yang pernah dikunjungi Ki Ageng Wonokusumo adalah Dusun Wonontoro yang pada saat itu dusun tersebut masih berujud hutan. Pada suatu hari ada seseorang yang datang ke Wonontoro. Ia menemui seorang penduduk yang namanya Jokolelono. Orang tersebut bertanya kepada Jokolelono tentang keberadaan Ki Ageng Wonokusumo. Merasa khawatir dengan tamu tersebut akan berbuat jahat kepada Ki Ageng Wonontoro maka Jokolelono menjawab sekenanya dengan mengatakan bahwa Ki Ageng Wonokusumo sudah wafat pada tanggal 23 Jumadilakir yang lalu. Konsekwensi dari jawaban tersebut maka Jokolelono membuat makam tiruan yang dibangun di tempat yang sering ditinggali oleh Ki Ageng Wonokusumo saat berkunjung ke Wonontoro. Tempat yang menyerupai makam tersebut merupakan suatu petilasan. Tidak jauh dari petilasan ini terdapat mata air yang tak pernah kering walaupun di musim kemarau. Menurut cerita mata air tersebut pernah dipakai oleh Ki Ageng Wonokusumo berwudlu. Sejak saat itu petilasan tersebut sering dikunjungi orang yang datang dari berbagai tempat, baik dari Wonontoro sendiri maupun dari luar Wonontoro. Mereka datang dengan maksud ingin memohon sesuatu. Ucapan Jokolelono bahwa Ki Ageng Wonokusumo wafat pada tanggal 23 Jumadilakir, maka tanggal tersebut dijadikan patokan untuk melakukan selamatan yang dilakukan di petilasan Ki Ageng Wonokusumo. Sajian untuk selamatan dari mereka yang merasa permohonannya terkabul adalah dengan menyembelih kambing. Bagi masyarakat yang berasal dari luar Wonontoro yang ingin membuat sesaji untuk selamatan ia dapat menumpang masak di rumah salah seorang penduduk yang tinggal di Wonontoro. Selamatan dilakukan secara besar-besaran karena yang hadir cukup banyak. Menurut penuturan dari juru kunci orang yang bernadar cukup banyak maka jumlah kambing yang disembelih juga banyak. Pada saat pelaksanaan selamatan orang yang hadir tidak hanya orang yang biasa ziarah tetapi banyak pula warga Wonontoro yang hidup diperantauan menyempatkan pulang untuk menghadiri selamatan ini.