Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaCerita tentang Sendang Beji di Dusun Kulwo - Gunung Kidul, DI Yogyakarta
Cerita tentang Sendang Beji di Dusun Kulwo merupakan salah satu cerita rakyat yang ada di Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunung Kidul. Hingga kini cerita tersebut masih dipercaya masyakat setempat. Diceritakan bahwa ada di suatu Sendang yang terletak di Desa Bejiharjo, namanya Sendang Beji Kulwo. Sendang tersebut berkaitan dengan tokoh yang bernama Anglingdarmo. Anglingdarmo merupakan putra mahkota dari Raja Mlawapati. Pada saat muda Anglingdarmo diperintahkan oleh ayah bundanya untuk meningkatkan bidang Kanuragan. Kemudian Anglingdarmo mencari tempat untuk bertapa, dan tempat yang dipilih yaitu adalah sebuah bukit namanya Gunung Sungging. Dengan ditemani oleh dua pengawalnya yang bernama Kyai Senggolo dan Kyai Septo. Ketika Anglingdarmo meninggalkan Gunung Sungging, kedua abdinya masih tetap disitu hingga meninggal. Arwah dari kedua abdi tersebut dipercaya oleh masyarakat setempat menjadi penunggu Belik Gelatik dan Ngringin. Tidak jauh dari Gunung Sungging terdapat dusun yang bernama Kulwo. Di dusun tersebut ada Sendang Beji dan Telaga Banyubening. Telaga Banyubening ini pernah dijadikan tempat mandi putri Nawangwulan. Putri Nawangwulan mencuri perhatian Anglingdarmo. Hal tersebut membuat Anglingdarmo mencari akal agar bisa bertemu dengan Nawangwulan. Kemudian menyamar sebagai burung mliwis putih. Selanjutnya ketika Nawangwulan mandi di telaga tersebut maka mliwis putih sebagai jelmaan Anglingdarmo tersebut akan berenang di sekitarnya. Tidak jauh dari Gunung Sungging, tepatnya arah barat daya ada sebuah goa namanya Bendogrowong. Tempat tersebut dikuasai oleh Baurekso, yaitu raja Raksasa yang gagah dan sakti. Raksasa tersebut mempunyai anak perempuan yang sudah menginjak dewasa yang bernama Nawangsih. Nawangsi meminta kepada ayahnya untudicarikan jodoh seorang pria yang masih keturunan s. Raja raksasa kemudian meminta sang patih untuk mencari informasi tntang pria yang diinginkan oleh putrinya. Akhirnya sang patih mendapatkan informasi bahwa di Gunung Sungging ada seorang putra raja yang sedang bertapa. Kemudian demi keselamatan maka Anglingdarmo mau ditunangkan dengan Nawangsih. Akan tetapi Anglingdarmo mencari akal bagaimana caranya bisa melepaskan diri dari Raksasa Baurekso dan membatalkan perjodohannya dengan Nawangsih. Akhirnya Anglingdarmo minta izin kepada Raksasa Baurekso untuk pergi merantau dalam waktu lama untuk menambah ilmu. Dengan cepat Anglingdarmo meninggalkan Goa Bendogrowong menuju Goa Glatik yaitu sebuah Goa yang diambil dari nama Patih Mlawapati namanya Glatik Madrim D. Sampai kini goa tersebut masih ada, namun mulut goa banyak ditumbuhi pohon liar. Di goa tersebut Anglingdarmo ditemui oleh seekor ular naga yang bernama Nagaraja. Setelah Anglingdarmo menceritakan keadaan dirinya yang terjadi pada dirinya dalam menghadapi Raja Baurekso, maka Nagaraja akan membantunya. Kemudian Nagaraja berangkat ke Goa Bendogrowong. Dalam perjalanannya melalui bawah tanah dan pada beberapa tempat ia menyembul ke permukaan tanah. Tempat-tempat Nagaraja menyembul ini kemudian menjadi mata air berjumlah ada 7 buah. Sampai sekarang mata air tersebut masih ada, yaitu: Pindul, Gedong, Sendang Beji, Banyumata, Sendang Buntung, Kali Selang, dan Banyubening, Sesampai di Goa Goa Bendogrowong, Nagaraja berperang melawan raksasa Baurekso. Perang dimenangkan oleh Nagaraja. Mengetahui bahwa ayahnya kalah maka Nawangsih bunuh diri. Anglingdarmo merasa lega, dengan segera anglingdarmo menenmui Nawangwulan yaitu putrid yang diidam-idamkan, setelah bertemu ia kembali ke negeri Mlawapati. Garis besar cerita tersebut adalah mengungkapkan kaitan antara Sendang Beji di Dusun Kulwo dengan tokoh Anglingdarmo. Di samping itu tokoh tersebut juga mempuyai kaitan dengan Goa Bendogrowong dan Goa Glati. Tempat-tempat tersebut dianggap penting oleh masyarakat Bejiharjo. Pesan yang terkandung dari cerita tersebut adalah ilaiadalah nilai keramat.