Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Asal Mula Tradisi Saparan di Dusun Gondang Desa Ngawis - Gunung Kidul, DI Yogyakarta |
Dusun Gondang merupakan salah satu dusun yang berada di Wilayah Desa Ngawis, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Di Dusun tersebut terdapat suatu tradisi yang dilakukan secara turun temurun, yakni tradisi Saparan. Tradisi ini dilaksanakan setiap tahun sekali yaitu pada setiap tanggal 24 Sapar. Adapun asal mula dilaksanakan tradisi ini adalah ada kaitannya dengan seorang tokoh yang bernama Kyai Asmorogati. Kyai Asmorogati adalah seorang prajurit pengikut Pangeran Sambernyowo yang lari menyelamatkan diri dari kejaran kompeni. Akhirnya pengembaraan Kyai Asmorgati sampai di Dusun Gondang, Desa Ngawis. Setelah beberapa lama menetap di Dusun Gondang Kyai Asmorogati diangkat menjadi bekel yang menguasai wilayah Gondang, Karanganom, Melikan, dan Karanglo. Sampai akhirnya Kyai Asmorogati wafat pada tanggal 24 bulan Sapar dan dimakamkan di Makam Gondang. Kyai Asmorogati meninggalkan beberapa pusaka antara lain: cemethi, udheng gilig, dan pakaian keprajuritan. Benda-benda tersebut sampai sekarang masih ada dan disimpan oleh Ibu Karsih. Ibu Karsih merupakan salah seorang keturunan Kyai Asmorogati.
Selanjutnya masyarakat setempat menganggap bahwa makam Kyai Asmorogati sebagai tempat yang dikeramatkan, sehingga dijadikan tempat ziarah. Untuk mengenang Kyai Asmorogati maka penduduk setempat membuat selamatan yang kemudian disebut tradisi Saparan. Tradisi Saparan dilakukan setiap tahun sekali, yaitu pada setiap tanggal 24 Sapar. Sajian disediakan oleh mereka yang dikabulkan permintaannya. Selain sebagai hari dilaksanakan selamatan, tanggal d 24 Sapar merupakan hari pantangan bagi penduduk Ngawis. Pada tanggal tersebut penduduk Ngawis dilarang melakukan sesuatu, misalnya punya hajat, mengawali membangun rumah dan lain sebagainya.
Demikian cerita asal mula dilaksanakan tradisi Saparan di Dusun Gondang Desa Ngawis, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Pesan yang terkandung dari cerita tersebut adalah nilai keramat.