Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Sugengan Tingalan Dalem Jumenengan |
Sugengan Tingalan Dalem Jumenengan merupakan upacara selamatan dalam rangka ulang tahun penobatan, yaitu untuk memperingati hari penobatan Sultan sebagai raja di Kraton Yogyakarta. Dalam hal ini, ulang tahun tersebut berdasarkan perhitungan tahun Jawa. Untuk Sri Sultan Hamengkubuwono X, upacara penobatannya dilaksanakan setiap tanggal 29 Rajab.
Bentuk-bentuk ritus yang ditampilkan dalam penyelenggaraan upacara Sugengan Dalem Jumenengan meliputi :
- Puasa dan bersuci bagi para petugas yang terlibat dalam kegiatan
- Ritual dalam penyiapan dan pengolahan bahan-bahan untuk sesaji
- Ritual dalam penyelenggaraan upacara
Urutan upacara :
a. Persiapan fisik dan non fisik
Upacara selamatan Sugengan Tingalan Dalem Jumenengan melibatkan hampir seluruh warga kraton. Persiapan fisik yang dilakukan dalam penyelenggaraan upacara tersebut dengan bersuc, yaitu dengan berpuasa dan Siram Jamas (mandi keramas). Sedangkanpersiapan fisik, pihak kraton mempersiapkan sarana dan prasarana yang akan digunakan dalam penyelenggaraan upacara.
Sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam penyelenggaraan upacara Sugengan Tingalan Dalem Jumenengan terdiri atas :
1. Bahan untuk membuat kue apem
2. Bahan sesaji untuk pusaka Kanjeng Kyai Pleret
3. Bahan sesaji untuk makluk halus penunggu kraton
4. Bahan seaji untuk Bangsal Prabayekso
5. Bahan untuk keperluan sugengan plataran
b. Membuat apem
Apem terbuat dari dari bahan tepung beras dan gula. Persiapan membuat apem dilakukan sejak dua hari menjelang upacara. Pembuatan apem dilakukan di Bangsal Sekar Kedhaton dan yang bertugas membuat apem adalah para putri kraton.
c. Menyiapkan sesaji untuk pusaka dan makluk halus
Pusaka yang diberi sesaji khusus adalah Kanjeng Kyai Pleret dan mkhluk halus yang diberi sesaji adalah Kyai Jegot(penunggu Bangsal Prabayaksa), Kyai Jayuda (penguasa Kali Winongo), dan penunggu saka guru Bangsal Kencana dan Bangsal Prabayaksa.
Sesaji untuk pusaka Kanjeng Kyai Pleret diletakkan di Bangsal Prabayaksa selama satu malam. Sesaji tersebut terdiri dari : Seekor mendo kendhit,Satu ambeng nasi rasulan, Dua ambeng asi golong, Dua ambeng nasi Rawuhan, Satu ambeng dhahar adhem-adheman, lirang pisang ditambah daun sirih, dan Tukon pasar.
Sesaji Kyai Jegod yang berupa botol jenewer dan 1 botol legen dan sesaji satu tube candu, roti, beberapa batang rokok, minuman kopi tanpa gula, juadah, mata uang yang beri warna putih dengan kapur, dan seekor ayam hidup. Sedangkan sesaji untuk saka guru (tiyang utama) Bangsal Kencana dan Bangsal Prabayeksa terdiri dari tumpeng pustaka dan tumpeng woran.
d. Sugengan plataran
Diselenggarakan di Tratag Bangsal kencana, imulai kurang lebih pukul 10.00WIB, dipimpin oleh seorang abdi dalem dari reh pengulon. Sesaji yang diperlukan terdiri dari Dhahar rasulan, gula, ketan kolak, dan bermacam-macam dhahar (nasi, dua buah cething sumbul, makanan tertentu, tumpeng sewu, tumpeng saka guru, apem, ketan kolak, sajen buangan, dan khusus Sugengan Tingalan Dalem Jumenengan pada tahun Dal ditambah dengan bumbu tumbuk.
Upacara dimulai pada pukul 10.00 WIB dengan dibawanya 8 blawong yang berisi 32 apem mustoko untuk dijadikan satu dengan sajian sugengan plataran Menyusul barang labuhan dikeluarkan dari Bangsal Prabayeksa dan dibawa ke Bangsal Kencana. Selanjutnya pembacaan do’a yang dilakukan oleh pengulu kraton. Kemudian barang-barang labuhan dipindahkan ke Bangsal Srimanganti. Bersamaan dengan itu di tempat upacara diadakan pembagian sajian sugengan plataran yang menandai berakhirnya prosesi upacara sugengan plataran.
Makna simbolis dari upacara Sugengan Tingalan Dalem yakni ungkapan rasa syukur kepada Tuhan karena berkat rahmat-Nya beliau dapat menduduki tahta dan memimpin rakyatnya.