Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Mino (Mini Nopia) - Banyumas, Jawa Tengah |
Mino singkatan dari mini nopia salah satu kue kering khas Banyumas, Jawa Tengah. Mini nopia berbentuk bulat kecil dengan ukuran lebih kecil jika dibandingkan dengan nopia biasa. Diameter mini nopia biasanya sekitar 2-3 cm. Mini nopia dibuat dari bahan utama tepung terigu rendah lemak, gula pasir, mentega, minyak sayur, gula Jawa dan air. Nopia juga dikenal dengan nama telor halilintar atau dalam bahasa Banyumasan disebut ndhog gludhug
Tekstur dan Rasa mini nopia keras dan renyah kulit luarnya, sedangkan di bagian dalamnya berisi adonan gula merah yang manis dan lembut. Pada awalnya mino hanya mempunyai rasa satu varian, yaitu rasa bawang merah goreng atau brambang goreng. Dalam perkembangannya isi mini nopia muncul varian baru yang menggunakan isian yang berbeda, seperti kacang hijau atau cokelat.
Sejarah dan asal usul mino di Kabupaten Banyumas sudah ada sejak zaman dulu, kemudian diwariskan secara turun temurun di Kabupaten Banyumas. Nopia pertama kali dipopulerkan oleh keluarga Tionghoa yang tinggal di Banyumas, yaitu sekitar tahun 1.880. Pada masa itu produk kue-kue tidak hanya dimonopoli oleh orang Tionghoa saja, akan tetapi diproduksi juga oleh penduduk lokal. Pada awalnya penduduk Banyumas mengakui bahwa keterampilannya dalam memproduksi nopia diturunkan dari dua generasi di atas. Namun demikian meski kue yang berbentuk bulat tersebut bukan karya asli nenek moyang Banyumas, nopia akan dikenal dan menjadi symbol masyarakat Banyumas. Pada awalnya mino dibuat dengan ukuran besar, tapi seiring dengan perkembangan waktu, muncul nopia mini, yaitu nopia yang dibuat dengan ukuran kecil, untuk memudahkan mengonsumsi dan distribusi.
Sebagai sentra produksi mino di Desa Pakunden, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas. Produksi Mino (mini nopia) di kampung tersebut sudah berlangsung cukup lama dan diwariskan secara turun temurun. Kampung ini menjadi terkenal karena sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai pembuatan mino. Kampung Mino di Pakunden, Banyumas menjadi destinasi wisata yang menarik bagi wisatawan yang belajar tentang proses pembuatan makanan khas Banyumas. Di kampung tersebut menyediakan tempat untuk melihat sekaligus berpraktek membuat nopia mini dengan dipandu oleh perajin mino. Kegiatan tersebut merupakan upaya pelestarian Mino sebagai makanan khas Banyumas dan sebagai edukasi kepada masyarakat dan generasi muda agar dapat mengenal lebih dekat dengan kue mino dan mengetahui sejarah bagaimana terbentuknya serta perkembangan kuliner khas daerahnya, selanjutnya mencintai budayanya dalam bentuk kuliner tradisional dan khas dari daerahnya, selanjutnya mereka mencintai budayanya dalam bentuk kuliner tradisional dan khas dari daerahnya, khususnya kuliner mino (nopia mini).
Selain di Pakunden, mino (mini nopia) dapat ditemukan diberbagai toko oleh-oleh di Banyumas dan sekitarnya. Biasanya, dijual dalam kemasan plastik dengan berbagai ukuran.