Mie Lethek - Kab. Bantul, D.I. Yogyakarta

Data Teknis
KategoriWarisan Budaya
Kategori SubWarisan Budaya
No Inventaris-
NamaMie Lethek - Kab. Bantul, D.I. Yogyakarta
Karya BudayaKemahiran Kerajinan Tradisional
Karya Budaya SubMakanan / Minuman Tradisional
Kondisi Saat IniMasih Bertahan
Status BudayaPenetapan
Pelaku KomunitasYassir Ferry
Pencatat Karya BudayaDwi Hastuti, S.Pd.
NarasumberWawancara dengan Yassir Ferry
ProvinsiDI Yogyakarta
Kabupaten/KotaKAB. BANTUL
Penginput DataDwi Hastuti, S.Pd.
Mie lethek adalah sejenis bihun. Sesuai dengan namanya disebut mie lethek karena warna mie tidak pada umumnya berwarna putih atau kuning, akan tetapi terlihat kusam karena dalam pembuatannya tidak menggunakan bahan pemutih, pewarna maupun pengawet. Mie lethek terbuat dari bahan dasar tepung tapioka atau tepung singkong. Mie lethek diproduksi oleh pabrik yang dikelola oleh Yassir Ferry yang sekaligus menjadi pemiliknya. Yassir merupakan generasi ke-3 pemilik pabrik mie lethek yang ia kelola. Pada awalnya pembuatan mie lethek yang ada di Bantul dirintis oleh oleh kakeknya yang bernama Umar Bisyir pada tahun 1940. Umar Bisyir adalah orang dari Arab yang mempunyai tujuan awal datang ke Indonesia mempunyai misi berdakwah. Setelah bertemu dengan salah seorang temannya yang bernama KH. Bakir yang tinggal di Kauman Yogyakarta dan setelah bertukar pikiran maka Umar Yassir mendirikan pabrik mie lethek yang bertempat di Dusun Bendo. Sehingga pabrik mie tersebut didirikan tidak semata-mata untuk tujuan bisnis akan tetapi lebih bersifat sosial. Alat-alat yang digunakan dalam membuat mie lethek semuanya menggunakan alat tradisional, seperti alat penggiling tepung berupa batu silinder seberat 1 ton yang ditarik dengan menggunakan tenaga sapi, dan oven dengan bahan bakar kayu. Hanya alat pencetak mie yang saat ini sudah diganti menggunakan mesin yang dioperasikan oleh tiga orang pekerja. Awalnya alat pencetak atau pres mie menggunakan “tarikan” yang harus dioperasikan secara manual oleh delapan pekerja. Selain itu juga banyak alat-alat lain yang dipakai dalam proses pembuatan mie lethek. Adapun proses pembuatan Mie Lethek ada beberapa tahap yaitu setelah bahan baku diaduk, kemudian dimasukkan ke tungku kukusan, lalu diaduk lagi untuk mengatur kadar airnya. Pada proses pengadukan inilah sangat unik dan menarik, karena pada proses pengadukan ini dilakukan dengan tenaga sapi. Proses selanjutnya adonan tersebut dipres dan dikukus lagi selama kurang lebih dua jam. Proses terakhir adalah pencetakan dan penjemuran di bawah sinar matahari hingga kering. Pasca pengeringan selama 8 jam mie di packing dengan diberi merek Mie Garuda. Selanjutnya Mie lethek siap untuk dipasarkan. Pemasaran Mie lethek Garuda hingga saat ini hanya dipasarkan di pasar tradisional di daerah Yogyakarta dan sekitanya.