Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaTari Eklek - Pacitan, Jawa Timur
Sejarah: Tari eklek diciptakan pada tahun 1975 oleh Sukarman Spd, MPd ketua LPK Seni Pradhapa Loka Bhakti yang didirikan pada tg 28 Mei 2007. LKP Pradapa Loka Bhakti (PLB) adalah lembaga yang fokus pada bidang seni tari dan karawitan, di Pacitan, Jawa Timur. Pradapa Loka Bhakti berarti kuncup yang berbakti. Dimaksudkan meskipun kecil, tetapi mempunyai peran terhadap kehidupan, yaitu dalam pembentukan sikap, kepribadian, tingkah laku, maupun moral anak didik. Organisasi Pradapa Loka Bhakti resmi tercatat di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pacitan pada tanggal 10 Juli 1980. Namun jika dilihat dari keberadaannya sebenarnya embrio sanggar ini telah ada sejak tahun 1975 yang digagas oleh Sukarman, S.Pd.,MM. Materi yang diajarkan di lembaga ini adalah tari tradisi, dan kreasi baru serta musik karawitan. Muridnya kurang lebih 150 anggota termasuk juga 100 orang anak didik. Lembaga ini sangat eksis di dunia seni pertunjukan. Dibuktikan dengan terciptanya karya-karya seni pertunjukan pada tiap tahunnya. Tiap tahun juga tidak pernah absen mengikuti festival-festival baik tingkat regional dan juga nasional. Prestasi tertinggi diraih pada tahun 2005 yaitu dengan dinobatkan sebagai juara umum Parade Tari Nusantara. Kemenangan ini mengantarkannya untuk mengikuti Indonesian Dance Festival di Taman Ismail Marzuki Jakarta tahun 2006. Sampai saat ini, Pradapa Loka Bhkati masih tetap berusaha mencari kebaruan dalam karyanya dan berusaha mengikuti perkembangan dunia seni pertunjukan. Upaya penggarapan karya tari dan musik ini selalu berorientasi pada penciptaan ragam baru yang tentunya tidak lepas dari akar tradisi Jawa dan Indonesia. Karya-karya yang dihasilkan adalah: Tingkat Lokal: tari Unyil (1990), tari Angsa (1989), tari Sukarena (1991), tari Slawatan (1991), tari Owal-awul (1992), tari Oglor (1992), tari Pahargyan (1993), tari Rampak (1994), tari Amos (1995), tari Robana (1995), tari Genyeng (1996), tari Alap-alapan Roro Rati (1996), tari Srumbung Mojo (1997), tari Sembako (1998), Sendra tari Eklek (2001), tari Kething-kething (2001), tari Jaran Kore (2001), tari Jeda 2001, tari Badutan (2003), tari Joringan (2003), tari Pengemis (2004), tari Srimpen (2007), tari Golek Kayu (2007), tari Sekar Jagad (2007), tari Surup (2007), tari Songkrek (2008), tari Kidung Beber (2013).Tingkat Nasional adalah tari Eklek (1978), tari Rung sarung (2005), tari Oglor (1993), tari Rumah Pintar (2009), tari Sesarungan Jiwa (2005), dan Tingkat Internasional adalah tari Lekoh (2006). Deskripsi: Eklek adalah wadah/tempat membawa sabit yang diikatkan di pinggang. Petani membawa eklek ketika pergi ke ladang dan sawah untuk kepraktisan. Cangkul dan perlengkapan lain dipikul dan sabit dimasukkan dalam eklek. Pada saatnya sabit digunakan untuk memotong rumput atau dedaunan sebagai pakan ternak, dikeluarkanlah sabit dari wadahnya. Jika telah selesai dimasukkan lagi. Disebut eklek karena pada saat dipakai berjalan, benturan antara sabit dan wadah yang berbahan kayu suaranya, eklek-eklek-eklek. Masing-masing eklek mempunyai suara khas sesuai dengan jenis bahan kayu, besar/kecil sabit, dan cara berjalan pemakainya. Seseorang dapat dikenali dari suara ekleknya ketika dia berjalan. Alat ini dipakai oleh petani/peternak di wilayah pegunungan selatan Jawa Timur. Serombongan peternak yang berjalan di hutan membawa di atas kepala dedaunan untuk pakan ternak dan masing-masing mengenakan eklek dengan tinggi rendah nada yang berbeda menghasilkan suara yang merdu. Tari Eklek Pacitan menggambarkan kehidupan sehari-hari petani pedesaan dalam menggembala ternak. Eklek merupakan asesoris yang cocok dipakai oleh petani/peternak sebagaimana orang perkotaan mengenakan ponsel di dompet yang diikatkan di pinggang. Kostum tari eklek ada yang mengenakan celana hitam yang dibalut kain batik, telanjang dada mengenakan asesoris hiasan dan di bagian kepala mengenakan semacam hiasan tanduk kerbau berwarna hitam. Ada pula yang mengenakan baju dan celana hitam dan di bagian kepala mengenakan ikat kepala. Musik pengiring sederhana berupa ‘kothekan bambu’, kendhang, demung. Gerakan tari seperti gerakan olahraga. Tarian ini juga ditarikan di sekolah-sekolah.