Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaKerajinan Batu Mulia/Batu Akik - Pacitan, Jawa Timur
Sejarah: Daerah Pacitan kaya dengan aneka bebatuan yang tidak hanya elok dipandang dalam bentuknya sebagai obyek wisata–kars, tetapi juga untuk diolah sebagai cinderamata bernilai seni. Kurang lebih ada sekitar 50 rumah yang membuka sendiri kerajinan home industry batu akik Pacitan. Sejarah dimanfaatkannya batuan mulia di Pacitan awalnya dimulai dari pendatang yang mencari batuan tersebut di lahan-lahan milik penduduk. Pada saat itu untuk mengambil batuan mulia hanya cukup ijin dari pemilik lahan tempat bebatuan itu berada. Namun setelah penduduk menyadari bebatuan itu sangat bernilai pengambilan batu dengan transaksi. Bahkan pada umumnya pengambil batu melengkapi dengan cara ritual yaitu permohonan kpd penunggu batu, dengan taburan bunga, membakar kemenyan, dan ada yang menyiramkan minyak wangi. Dari penuturan warga sekitar tahun 1956 belum ada transaksi pengambilan batu, baru sekitar tahun 1957 penduduk pemilik lahan yang ada batunya sudah memecah batu-batu itu dan menjualnya serembat harganya seringgit, sekitar tahun 2000 per kg 500 rp sampai 2005 ada yang dijual 2.000/kg. Pengrajin batu akik Sukodono menikmati kejayaannya cukup panjang mulai tahun 1960-an sampai tahun 1990-an. Produk batunya terkenal indah, karena proses pembuatan dan bahan bakunya juga berkualitas tinggi. Unit Bina Industri Batu Mulia (UBIBAM) adalah merupakan usaha yang mengelola Batu Permata dan Asesoris lainnya yang banyak diminati konsumen baik Nasional maupun Internasional, bahkan produk Batu Mulia saat ini telah menjadi salah satu Icon dan Brand Image dari Kabupaten Pacitan. Keberadaan UBIBAM (1989) berawal dari peranan PT. PUSRI Palembang dalam rangka mengembangkan sentra Batu Mulia (AKIK) di wilayah Kecamatan Donorojo dan sekitarnya melalui pelayanan dan bantuan kepada pengrajin. Dalam perkembangannya lembaga dan asset UBIBAM diserahkan Pemerintah Kabupaten Pacitan. Dan saat itu berkembang pesat sentra-sentra industri kecil di sekitar wilayah itu dan terdapat 201 unit usaha Batu mulia (AKIK) serta menyerap tenaga kerja sejumlah 616 orang, sedang produknya mampu menembus pasar regional, nasional maupun internasional. Kepala Bidang Produksi dan Pergudangan UPT Ubibam Donorojo, Suroso mengaku tempat untuk mengembangkan sentra batu mulia itu sudah tiga tahun terakhir tidak pernah beroperasi. Penyebab tak beroperasinya unit pelayanan yang juga sebagai tempat untuk melatih masyarakat menjadi pengrajin batu mulia tersebut lantaran berkurangnya jumlah karyawan yang ada. Dulu pas jaya-jayanya, antara sekitar tahun 2007, UPT Ubibam banyak karyawannya. Bahkan, jumlahnya mencapai 25 orang. Namun, sejak tahun 2011 lalu, jumlah pengrajinnya sudah mulai berkurang. Hingga akhirnya saat ini, tidak ada sama sekali pengrajinnya. Deskripsi: Industri Batu Mulia berjumlah sekitar 96 unit usaha dengan penyerapan tenaga kerja 250 orang. Pemasarannya di Yogyakarta, Bali, Surabaya dan Jakarta. Terdiri dari bermacam-macam perhiasan seperti kalung, liontin, tasbih, bros, souvenir dan peralatan rumah tangga seperti batu unik, asbak rokok. Sebagai salah satu kompetensi Inti Daerah dan Produk Unggulan Kabupaten Pacitan, produk lokal mampu menembus pasar global seperti Belanda, Arab Saudi dan Swis dengan berbagai jenis batu Fosil, batu kristal dan cincin. sentra pengembangan berada di Kecamatan Donorojo yaitu Desa Cemeng, Gendaran, Sukodono dan wareng Kecamatan Punung. Salah satu kerajinan asli Kabupaten Pacitan adalah batu akik. Batu akik Pacitan sudah dikenal banyak orang memiliki kualitas tinggi dengan bahan baku batuan mulia. Salah satu desa penghasil batu akik di Pacitan adalah Desa Gendaran, Donorojo. Di Desa ini, kerajinan batu akik diproduksi oleh warga sekitar dan menghasilkan bermacam – macam produk, diantaranya kalung, gelang, cincin dan berbagai jenis produksi lainnya. Gendaran yang merupakan salah satu Desa di Kecamatan Donorojo memiliki keunggulan potensi batu akik atau batu mulia yang tidak dimiliki desa – desa lain di Pacitan. Sejak dahulu batu akik Gendaran yang menjadi trade mark Batu Akik Pacitan banyak dikenal di Indonesia, dan bahkan pemasarannya sudah sampai ke luar negeri. Wisatawan memborong batu akik di tempat wisata Goa Gong, Goa Tabuhan, atau Pantai Watukarung. Kalau kesini keunggulannya harganya bisa lebih murah karena di sentra produksinya langsung.. Tanah Pacitan mengandung batu batuan yang bagus untuk diolah menjadi batu mulia. Batu jenis jasper, fosil kayu, kalsedon, dan pasir kwarsa tersimpan melimpah di bumi Pacitan. Bahan material berupa bongkahan batu besar itu dipotong sesuai bentuk dan ukuran yang diinginkan. Setelah dipoles, batu akik itu digosok dengan amplas dan bubuk batu intan. Ada juga yang masih menggunakan potongan bambu untuk finishingnya. Proses panjang itu akhirnya membentuk batu akik yang sangat menawan. Dan batu-batu itu diberi nama sesuai alur serat, ketajaman serta warnanya. Seperti, batu Sulaiman berserat garis-garis dan warnanya seperti madu. Batu yahman warnanya seperti batu sulaiman, namun uratnya menyerupai bentuk air.Sedangkan batu yahman bungur berwarna ungu-kecubung. Batu pan¬cawarna, sesuai dengan namanya, mengandung lima macam warna. Adapun batu badar asem memiliki serat seperti ram¬but halus, dan sering juga dis¬ebut rambut cendana. Peralatan untuk memroses batu alam ke batu akik secara tradisional: kuali, pukul, gergaji, gir sepeda, wungkal, pasah, pecahan kaca, amplas, sangling, grenda, panic. Namun, masa keemasan batu akik Pacitan saat ini sudah mulai surut. Penurunan jumlah pembeli terlihat menjelang Indonesia dilanda kri¬sis moneter pada 1998. Pedagang di Pasar Kliwon mulai sepi pembeli, se¬hingga berpengaruh pada pengrajin. Produksi batu akiknya melorot tajam. Desa Sukodono mulai sepi kemba¬li. Para pengrajin batu mulia ini su¬dah banyak beralih profesi, tetapi di depan rumah maupun di dalamnya, masih tersimpan beberapa peralatan untuk memproduksi batu yang sudah tidak terawat lagi. Di Kecamatan Donorojo, selain Desa Sukodono, para pengrajin batu akik juga tersebar di Desa Gendaran. Namun, akibat melorotnya jumlah permintaan batu akik yang terjun bebas, para pekerja dan pengrajin di Gendaran banyak yg menin¬ggalkan profesinya. Sekarang pasar batu akik su¬dah sepi. Jarang pengrajin yang mau memroduksi batu akik.. Pembeli batu akik saat ini berbeda jauh dengan 20 tahun yang lalu. Masa kejayaan pengra-jin batu akik berkisar tahun 1960-an sampai 1995-an. Setelah krismon ta¬hun 1998, masa suram mulai melanda pengrajin batu akik, sehingga sampai saat ini belum ada usaha untuk men¬gangkat kembali batu akik ini. Pada masa kejayaan itu batu akik menjadi mata pencaharian utama warga desa, tetapi ketika masa suram tiba warga desa banyak yang men¬inggalkan profesinya sebagai pengra¬jin batu akik.