Data Teknis
| Kategori | Warisan Budaya |
| Kategori Sub | Warisan Budaya |
| No Inventaris | - |
| Nama | Upacara Adat Ritual Gunung Kelud - Kediri, Jawa Timur |
| Karya Budaya | Adat Istidat Masyarakat |
| Karya Budaya Sub | Upacara Tradisional |
| Kondisi Saat Ini | Masih Bertahan |
| Status Budaya | Pencatatan |
| Pelaku Komunitas | Belum diisi |
| Pencatat Karya Budaya | Insani Suciati, S.Pd. |
| Narasumber | Disbudpar Kabupaten Kediri |
| Provinsi | Jawa Timur |
| Kabupaten/Kota | KAB. KEDIRI |
| Penginput Data | Supriyanto |
Sejarah:
Alkisah Kerajaan Bandarangin, rajanya bernama Joko Lodro bergelar Maheso Suro dan patihnya, adik sang raja bernama Singo Lodra bergelar Jata Suro. Sang Raja Maheso Suro menyuruh adiknya untuk melamarkannya seorang Ratu yang cantik jelita dari kerajaan Dahanapura. Ketika Jata Suro melihat kecantikan Dewi Kilisuci, ia berbalik hati ingin mempersuntingnya sendiri Dewi Kilisuci. Oleh karena itu ia membunuh Mahesa sura, agar bisa mempersunting dewi Kilisuci. Setelah berhasil membunuh kakaknya, Jata Suro melamar Dewi Kilisuci, namun Dewi Kilisuci memberi syarat agar dibuatkan sumur, di daerah Kelud sampai keluar airnya dan sebelum fajar tiba. Patih Pujanggeleng bersama Dewi Kilisuci bersiasat, prajurit yang sudah siap membawa tombak-tombak beserta batu-batuan dilemparkan ke dalam sumur oleh prajurit Dahanapura sampai penuh, dan akhirnya tamatlah riwayat Jata Sura. Sebelum ajalnya Jata Suro mengeluarkan sesumbar: ‘Yoh Wong Kediri mbesuk bakal pethuk piwalesku sing makaping-kaping yoiku, Kediri bakal dadi kali, Blitar dadi Latar, Tulungagung bakal dadi kedhung. Artinya: Hai orang Kediri nbesok akan mendapat pembalasan saya yang berkali-kali, yaitu Kediri akan menjadi sungai, Blitar akan jadi halaman (datar/rata), Tulungagung menjadi telaga. Sedangkan tumpukan-tumpukan batu yang menggunung, kemudian masyarakat Kediri menyebutnya Gunung Kelud. Berangkat dari legenda dan sesumbat Jatasura tersebut maka masyarakat sekitar daerah Kelud sengaja membuat tolak balaknya sendiri-sendiri, tujuannya meredakan kemarahan Jata Sura yang setiap saat akan menghancurkan daerah sekitarnya bersama-sama dengan letusan dan lahar gunung kelud. Tiap-tiap desa telah mempunyai prosesi sendiri-sendiri yakni, ada menyiapka sesaji, ada yang melaksanakan kenduri (selamatan) dan lain-lain, yang dilaksanakan pada setiap bulan sura. Adapaun yang dilakukan masyarakat desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar kabupaten Kediri adalah menyelenggarakan Upacara Adat Tradisi yang disebut Larung Sesaji Gunung Kelud.
Deskripsi:
Ritual Sesaji Gunung Kelud rutin dilaksanakan oleh masyarakat sekitar lereng kelud khususnya di wilayah Kecamatan Ngancar pada setiap hari pasaran Sabtu Wage pada Bulan Sura/Muharam setiap tahunnya. Upacara adat ini dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur atas berkah kesuburan tanah serta sebagai wujud memohon perlindungan kepada Tuhan Yang maha Esa agar terhindar dari bencana dan marabahaya yang ditimbulkan oleh Gunung Kelud.
Proses pelaksanaan Ritual Sesaji Gunung Kelud pada prinsipnya adalah dengan membawa sajian bunga tiga warna (kembang telon) dan membakar kemenyan atau yuswa/ratus kemudian mengadakan semedi dengan membaca mantra-mantra tertentu untuk meminta sesuai dengan tujuannya masing-masing. Untuk sesaj khusus dari masyarakat Desa Suguhwaras Kecamatan Ngancar secara bersamaan dengan sajian yang lengkap sebagai berikut:
Bahan sesaji:
1. Wedang kopi murni
2. Lodhoh tawar
3. Badek
4. Kembang talon
5. Kembang setaman
6. Nasi gurih dengan laukya
7. Ayam panggang (ingkung)
8. Ayam yang masih hidup
9. Buceng ketan
10. Minuman keras/Jenewer
11. Buah-buahan yang berwarna merah dan hijau
12. Nasi kuning (sego punar)
13. Ratus, candu, menyan
14. Pisang raja, dll