Data Teknis
| Kategori | Warisan Budaya |
| Kategori Sub | Warisan Budaya |
| No Inventaris | - |
| Nama | Legenda Gunung Kelud - Kediri, Jawa Timur |
| Karya Budaya | Tradisi dan Ekspresi Lisan |
| Karya Budaya Sub | Cerita Rakyat |
| Kondisi Saat Ini | Masih Bertahan |
| Status Budaya | Pencatatan |
| Pelaku Komunitas | Belum diisi |
| Pencatat Karya Budaya | Insani Suciati, S.Pd. |
| Narasumber | Kumpulan Legenda-legenda daerah di kabupaten Kediri jilid 1. Pemerintah Kabupaten Kediri. Kantor Pariwisata dan Seni Budaya https://id-id.facebook.com/notes/kota-kediri/legenda-gunung-kelud-dan-dewi-kilisuci |
| Provinsi | Jawa Timur |
| Kabupaten/Kota | KAB. KEDIRI |
| Penginput Data | Supriyanto |
Sejarah:
Gunung Kelud menurut legendanya bukan berasal dari gundukan tanah meninggi secara alami. Gunung Kelud terbentuk dari sebuah pengkhianatan cinta seorang putri bernama Dewi Kilisuci terhadap dua raja sakti Maheso Suro dan Lembu Sora. Kala itu, Dewi Kilisuci anak putri Jenggolo Manik yang terkenal akan kecantikannya dilamar dua orang raja, namun yang melamar bukan dari bangsa manusia, karena yang satu berkepala lembu bernama Raja Lembu Sora dan satunya lagi berkepala kerbau bernama Maheso Suro. Untuk menolak lamaran tersebut, Dewi Kilisuci membuat sayembara yang tidak mungkin dikerjakan oleh manusia biasa, yaitu membuat sumur di atas puncak gunung Kelud, dan harus selesai dalam satu malam atau sampai ayam berkokok.
Deskripsi:
Pada zaman dahulu alkisah Senopati Buto Locoyo memiliki 2 orang anak yang bernama Joko Lodro dan Sinyo lodro. Ketika Jiko Lodro berusia 10 tahun dan Sinyo Lodro berusia 6 tahun telah ditinggal ibunya untuk menghadap Yang Kuasa, maka dicelah-celah kesibukan Senopati Buto Locoyo ini dengan sabar dan semangat mendidik kedua putranya hingga dewasa dengan menurunkan ilmu-ilmu kesaktian dan kanuragan yang masing-masing mewarisi ilmu Handuko Kurdo dan Ilmu Banteng Amuk. Mengingat kesibukan ayahnya dalam mendampingi Maha Patih narotama, Senopati Buto Locoyo tidak mengawasi anaknya secara ketat sehingga anak tersebut berulah berbuat onar di masyarakat yang sampai terdengar oleh Prabu Erlangga. Dengan kejiadian ini marahlah Senopati Buto Locoyo pada kedua anaknya yang disabdakan jadi mirip seekor macan dan seekor kerbau dan kemudian disuruh pergi ke arah barat tak boleh berada di Kahuripan. Lambat laun kedua bocah ini pemuda ini membuat daerah sendiri yang diberi nama Bandarangin, dimana Joko Ludiro bergelar Mahesosuro dan Singo Lodro bergelar Jatasuro. Mahesosuro mendengar bahwa di Dahanapura ada seorang yang cantik jelita. Kemudian menyuruh adiknya datang ke Dahanapura melihat kecantikan Dewi Kilisuci, Jatasura berbalik hati. Oleh karena itu ia mempunyai niat untuk mempersuntingnya sendiri dengan membunuh Mahesasuro, kakaknya sendiri. Setelah niatnya berhasil, Dewi Kilisuci memberi syarat agar dibuatkan sumur di bukit Kelud sampai keluar airnya dan diselesaikan sebelum fajar tiba. Patih Pujanggeleng dan Dewi Suci datang untuk memeriksa hasilnya, kemudian sang patih bersiasat untuk membawa prajurit yang telah siap membawa daun-daun kelor dan tombak-tombak kelor bersiaga di dekat sumur tersebut. Ketika telah dekat sumur tersebut Patih Pujanggeleng memasukkan boneka mirip Dewi Kilisuci ke dalam sumur, tanpa pikir panjang Jatasura langsung menolongnya sebab ia khawatir jatuhnya Dewi Kilisuci dapat meninggal karena benturan batu yang ada di dalam sumur. Tak lama kemudian ribuan prajurit memasukkan daun kelor dan tombak-tombak kelor beserta batu-batuan kedalam sumur tersebut sampai penuh, dan akhirnya tamatlah riwayat Jatasura dengan mengeluarkan sesumbar: “Yoh wong Kediri mbesuk bakal pethuk piwalesku sing makaping-kaping, yoiku Kediri bakal dadi kali, Blitar dadi Latar, Tulung Agung bakal dadi kedungâ€. Dengan tumpukan batu-batuan yang menggunung inilah kemudian masyarakat menamakan tempat ini menjadi sebuah Gunung Kelud.