Kesenian Kuda Lumping/Kesenian Jaran Kepang - Temanggung, Jawa Tengah

Data Teknis
KategoriWarisan Budaya
Kategori SubWarisan Budaya
No Inventaris-
NamaKesenian Kuda Lumping/Kesenian Jaran Kepang - Temanggung, Jawa Tengah
Karya BudayaSeni Pertunjukan
Karya Budaya SubSeni Tari
Kondisi Saat IniMasih Bertahan
Status BudayaPenetapan
Pelaku KomunitasBelum diisi
Pencatat Karya BudayaDrs. Ign. Wahjudi Pantja Sunjata
NarasumberDinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Temanggung
ProvinsiJawa Tengah
Kabupaten/KotaKAB. TEMANGGUNG
Penginput DataRisma Alifatun Nada
Sejarah: Kesenian kuda lumping atau jaran kepang merupakan bentuk apresiasi dan dukungan rakyat jelata terhadap pasukan berkuda Pangeran Diponegoro dalam menghadapi penjajah Belanda. Ada pula pendapat yang menyebutkan bahwa tari kuda lumping menggambarkan kisah perjuangan Raden Patah, yang dibantu oleh Sunan Kalijaga, melawan penjajah Belanda. Juga ada pendapat yang mengatakan bahwa, tarian kuda lumping mengisahkan tentang latihan perang pasukan Mataram yang dipimpin Sultan Hamengku Buwono I, Raja Mataram, untuk menghadapi pasukan Belanda. Terlepas dari beberapa pendapat tersebut sebenarnya kesenian kuda lumping merefleksikan semangat heroisme dan aspek kemiliteran sebuah pasukan berkuda atau kavaleri. Hal ini terlihat dari gerakan-gerakan ritmis, dinamis, dan agresif, melalui kibasan anyaman bambu atau jaran kepang, menirukan gerakan layaknya seekor kuda di tengah peperangan. Kadang-kadang dalam pertunjukan kesenian kuda lumping, juga menampilkan atraksi yang mempertontonkan kekuatan supranatural berbau magis, seperti atraksi mengunyah kaca, berjalan di atas pecahan kaca, dan lain-lain. Atraksi ini merefleksikan kekuatan supranatural yang pada jaman dahulu berkembang di lingkungan Kerajaan Jawa yang dipergunakan untuk melawan pasukan Belanda. Deskripsi: Kesenian Kuda Lumping atau jaran kepang biasanya ditampilkan pada event-event tertentu, seperti menyambut tamu kehormatan, dan sebagai ucapan syukur, hajatan, dan sebagainya. Dalam pementasanya tidak diperlukan suatu koreografi khusus. Musik untuk mengiringi tari kuda lumping cukup sederhana, hanya terdiri dari Kendang, Kenong, Gong, dan Slompret, yaitu seruling dengan bunyi melengking. Syair-syair yang dibawakan dalam mengiringi tarian, biasanya berisikan himbauan agar manusia senantiasa melakukan perbuatan baik dan selalu ingat kepada Sang Pencipta. Selain mengandung unsur hiburan dan religi, kesenian kuda lumping ini seringkali juga mengandung unsur ritual. Karena sebelum pergelaran dimulai, biasanya seorang pawang hujan akan melakukan ritual, untuk mempertahankan cuaca agar tetap cerah karena pertunjukan kuda lumping biasanya dilakukan di lapangan terbuka. Dalam pementasan tari kuda lumping ada 3 fragmen tarian yaitu: tari Buto Lawas yang ditarikan oleh 4 - 6 orang penari pria; Tari Senterewe yang dibawakan oleh penari pria dan wanita, dan tari Begon Putri yang dibawakan oleh 6 orang penari putri.