Wayang Sadat - Kab. Klaten, Jawa Tengah

Data Teknis
KategoriWarisan Budaya
Kategori SubWarisan Budaya
No Inventaris-
NamaWayang Sadat - Kab. Klaten, Jawa Tengah
Karya BudayaSeni Pertunjukan
Karya Budaya SubSeni Visual
Kondisi Saat IniMasih Bertahan
Status BudayaPencatatan
Pelaku KomunitasBelum diisi
Pencatat Karya BudayaInsani Suciati, S.Pd.
Narasumberhttp://waporg.blogspot.com/2010/01/kesenian-tradisional-klaten.html http://wayangprabu.com/tag/klaten/ https://www.google.com/search?q=wayang+sadat+klaten&client=firefox-a&rls=org.mozilla:en-
ProvinsiJawa Tengah
Kabupaten/KotaKAB. KLATEN
Penginput DataM. Raga Putra Ammarsada
Sejarah: Klaten memiliki wayang kulit khas, yang membedakannya dengan wayang kulit dari daerah lain. Meski sama-sama terbuat dari kulit yang disamak, tokoh yang ditampilkan berbeda. Bukan Kresna, Arjuna, Semar, atau yang lainnya, melainkan tokoh-tokoh seperti Sunan Kalijaga, Raden Patah, Sunan Kudus, dan wali-wali lainnya di Tanah Jawa. Wayang kulit ini biasa disebut wayang sadat. Sadat adalah akronim dari sarana dakwah dan tabligh. Wayang ini berkembang di Dusun Mireng, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten Timbulnya kesenian ini sejak tahun 1970, sampai sekarang kesenian ini terpelihara dengan baik di Desa Mireng Kecamatan Trucuk Deskripsi: Wayang Sadat Wayang sadat adalah suatu bentuk kesenian rakyat yang berupa wayang kulit, namun cerita wayang sadat ini bertemakan cerita cerita sejarah Islam dan ceritanya diambil dari cerita akhir kerajaan Majapahit sampai awal kerajaan Mataram. Wayang sadat ini dapat dipentaskan siang hari ataupun malam hari, kesenian ini dimainkan oleh seorang dalang dengan diiringi gamelan lengkap slendor dan pelog. Keistimewaan : - teknik pakeliran bersifat kontemporer menurut jalan ceritanya - Jajar pertama tidak harus atau mesti kraton - Untuk kayon atau gunungan sebelah kanan gunungan didampingi pohon beringin dan gunungan sebelah kirinya didampingi pohon kelapa - Warna kelir kuning, bingkai hijau dengan ukuran kurang lebih 3,5 meter lebar 2 meter Lama pementasan menurut kebutuhan, dialog percakapan dengan bahasa jawa. Timbulnya kesenian ini sejak tahun 1970, sampai sekarang kesenian ini terpelihara dengan baik di Desa Mireng Kecamatan Trucuk