Data Teknis
| Kategori | Warisan Budaya |
| Kategori Sub | Warisan Budaya |
| No Inventaris | - |
| Nama | TARI SAKERAH - BANGKALAN, JAWA TIMUR |
| Karya Budaya | Seni Pertunjukan |
| Karya Budaya Sub | Seni Tari |
| Kondisi Saat Ini | Sudah Berkurang |
| Status Budaya | Pencatatan |
| Pelaku Komunitas | Sanggar Maduraras |
| Pencatat Karya Budaya | Suyami, M.Hum. |
| Narasumber | Sumber lisan dari narasumber Bapak Ramyadi sebagai pencipta ‘Tari Sakera’an’ dan Bapak Sudiyono sebagai penata iringan. |
| Provinsi | Jawa Timur |
| Kabupaten/Kota | KAB. BANGKALAN |
| Penginput Data | Rizki Dian Saputra |
Sejarah:
TARI SAKERA’AN diciptakan oleh Bapak Ramyadi pada tahun 1992 untuk lomba Festival Tari Karya Daerah se Prov. Jatim. Penciptaan TARI SAKERAH (SAKERA’AN) terinspirasi oleh cerita rakyat Bangkalan tentang Pak Sakerah dalam mempertahankan harga diri dan kewibawaan seorang suami.
Pak Sakerah adalah orang Madura yang bekerja sebagai mandor tebu di Pasuruan. Nama aslinya adalah Sagiman. Sebagai mandor tebu Pak Sakerah sering berani menentang Belanda sehingga kemudian dia ditahan oleh Belanda. Pak Sakerah mempunyai istri bernama Marlena. Pada saa Pak Sakerah dipenjara, Marlena, istrinya diganggu oleh keponakannya sendiri yang bernama Brudin. Mendengar istrinya diganggu lelaki lain, Pak Sakerah sangat marah. Dengan kekuatannya dia lalu menjebol penjara, lalu mengamuk. Brudin dibunuh dan istrinya dimarahi. Setelah berhasil membunuh Brudin, Pak Sakerah lalu membunuh lurah dan carik Belanda yang dulu menyebabkan dirinya masuk penjara. Akhirnya Pak Sakerah ditangkap kembali oleh Belanda pada saat dia ngrema.
Deskripsi:
Pada saat ini untuk meregenerasikan Tari Sakera’an kepada generasi muda agak sulit, karena ‘tari sakera’an’ merupakan tari gagahan (laki-laki) untuk memperkenalkan karakter Pak Sakerah sebagai pembela rakyat, jadi cocoknya juga ditarikan oleh penari laki-laki. Sementara pada masa sekarang jarang ada laki-laki Madura yang mau menjadi penari, dengan alasan gengsi.