Tradisi Eretan - Pacitan, Jawa Timur

Data Teknis
KategoriWarisan Budaya
Kategori SubWarisan Budaya
No Inventaris-
NamaTradisi Eretan - Pacitan, Jawa Timur
Karya BudayaAdat Istidat Masyarakat
Karya Budaya SubUpacara Tradisional
Kondisi Saat IniMasih Bertahan
Status BudayaPencatatan
Pelaku KomunitasR. Katno, S.Sos, MM
Pencatat Karya BudayaDra. Sumintarsih, M.Hum.
Narasumberhttp://news.detik.com/surabaya/read/2014 http://frendi-setiawan.blogspot.com/2014 wawancara dgn R.Katno, S.Sos, MM, Kasi Kesenian, Sejarah dan Nilai Tradisi Disparbudpora Pacitan
ProvinsiJawa Timur
Kabupaten/KotaKAB. PACITAN
Penginput DataDwi Hastuti, S.Pd.
Sejarah: Tradisi eretan adalah sebuah cerminan tentang kearifan lokal dan budaya gotong-royong warga Wora-wari, Kebonagung. Warga yang tergabung dalam serikat nelayan Kebonagung menyelenggarakan tradisi eret atau eretan. Eret adalah mencari ikan dengan menggunakan jaring panjang yang dipasang melingkari teluk. Kedua ujung jaring ada di daratan dan kemudian ditarik bersama untuk menggiring ikan kearah pesisir. Ikan yg berhasil digiring nantinya akan terperangkap ke dalam jaring panjang tersebut, atau menangkap ikan jaring keruk. Tradisi eret ini sebenarnya memang bukan hal baru, sebuah kegiatan yang biasa dilakukan oleh nelayan. Hal yang baru adalah kegiatan itu dijadikan agenda baru menjadi sebuah tradisi yang dikemas untuk kepariwisataan yang diprakarsai oleh camat setempat, Mohammad Fatkhurrohman, Camat Kebonagung. Filosofi yang muncul dalam tradisi eret ini adalah Eretan Ngupaya Mina, yang merupakan kalimat bahasa Jawa dengan makna saling bergandengan mencari ikan. Sebuah nilai yang mungkin sulit didapat dalam zaman yang serba pragmatis dan mementingkan kepentingan sendiri. Diskripsi: Jalannya upacara: 10 pria berperawakan kekar berbaris di bibir pantai, tertuju pada sosok tua Wasito (53). Mulutnya komat-kamit terucap dalam sedekah bumi. Wujudnya berupa ingkung (ayam dimasak bumbu) dengan nasi dan lauk. Sajian itu ditata di atas hamparan pasir. Intinya memohon keselamatan dan ketenteraman hidup. Pembacaan dipimpin tokoh agama desa setempat. Setelah doa selesai, barulah 10 pria nelayan satu per satu berjabat tangan dengan kepala desa dan kyai, yang bermakna mohon doa restu sebelum berangkat melaut . Perlahan-lahan 2 perahu bergerak menjauhi pantai. Perahu yang satu menuju ke ujung teluk sebelah kiri. Sedangkan satu perahu lain ke ujung teluk sebelah kanan. Jarak antara ujung teluk sekitar 500 meter. Tujuannya untuk menjaga agar jaring yang ujungnya tertambat di kedua ujungnya tidak putus. Dengan cara itu para nelayan menangkap ikan secara turun temurun. Tinggal 5 meter lagi kedua perahu mendarat di hamparan pasir. Tanpa diminta, puluhan warga lain yang sejak tadi menunggu berhamburan menuju kedua ujung tali jaring yang tertambat di dua perahu. Sekilas tampak seperti perlombaan tarik tambang. Bedanya, yang ditarik adalah jaring penuh aneka jenis ikan. Begitulah semangat kebersamaan tertanam di antara nelayan Pantai Dangkal. Tak hanya saat melaut, ketika mengambil hasil tangkapan pun mereka lakukan bersama-sama. Tradisi ini sudah berlangsung turun-temurun. Mereka yang datang ke sini bukan hanya warga desa sini, tapi juga dari desa-desa sekitar. Setelah ikan terkumpul, barulah nelayan pemilik perahu dan jaring membaginya. Semua mendapat bagian sesuai perannya. Baik pria pendorong perahu maupun warga yang suka rela menarik tali jaring, semua dapat ikan. Semua orang beramai-ramai menikmati nasi dan ayam ingkung sebelum pulang ke rumah masing-masing. Eretan Ngupaya Mina, bermakna saling bergandengan mencari ikan. Pelaksanaan Tradisi ini dimulai ketika 10 pria berbaris di bibir pantai dan sesespuh di komunitas tersebut membacakan doa yg intinya terkait sedekah bumi yang berwujud ayam dimasak bumbu lengkap dengan nasi dan lauk. Sajian itu ditata di atas hamparan pasir. Sajian tersebut lantas dibacakan doa dipimpin tokoh agama desa setempat. Setelah doa selesai, 10 pria memulai tugas mereka maju ke arah kepala desa. satu per satu berjabatan tangan dengan kepala desa dan kyai. Kemudian, 10 pria tsb beramai-ramai mendorong 2 perahu yang tertambat di tepi pantai. Setelah perahu mengapung, 4 pria menaiki 2 perahu. Sedangkan 6 lainnya menunggu di pesisir. Perlahan perahu tersebut bergerak menjauhi pantai. Beberapa waktu kemudian, kedua perahu bergerak kembali ke pinggir. Lajunya tak terlalu kencang. Tujuannya untuk menjaga agar jaring yang ujungnya tertambat di kedua ujungnya tidak putus. Dengan jarak kurang lebih lima meter dari pantai, puluhan warga lain yang sejak tadi menunggu berhamburan menuju kedua ujung tali jaring yang tertambat di dua perahu untuk menarik jaring penuh aneka jenis ikan. Paska sukses menarik ikan, dan ikan terkumpul, barulah nelayan pemilik perahu dan jaring membaginya. Semua mendapat bagian sesuai perannya. Baik para pria pendorong perahu maupun warga yang suka rela membantu menarik tali jaring, semua membawa ikan. Sambil membawa ikan dengan berbagai jenis, para warga tersebut kembali menuju tempat semula. Agenda akhir dari tradisi eretan adalah memakan dan menikmati nasi dan ayam ingkung yang sudah disajikan sebelum acara dimulai. Tradisi eretan Pacitan pun selesai. Selain agenda inti eretan, budaya unik ini juga dimeriahkan dengan tari รขโ‚ฌโ€œ tarian yang dilaksanakan oleh sinden atau penari setempat.