Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaRATO ISLAM ONGGU’ - BANGKALAN, JAWA TIMUR
Sejarah: RATO ISLAM ONGGU’ adalah sebutan bagi Ki Pragalba, raja di kerajaan Plakaran di Arosbaya. Cerita ini konon terjadi pada waktu agama Islam belum masuk ke Pulau Madura. Ketika itu raja-raja madura masih memeluk agama Buddha. Begitu pula Ki Pragalba, raja Kerajaan Plakaran di wilayah Arosbaya. Disebutkan Ki Pragalba mempunyai putra bernama Ki Pratanu. Ki Pratanu tabiatnya sangat baik, sehingga oleh ayahandanya dia dinobatkan menjadi Pangeran Adipati dan kelak akan dinobatkan menjadi raja di Kerajaan Plakaran menggantikan kedudukan Ki Pragalba. Setelah dijadikan Pangeran Pati, Ki Pratanu bermimpi didatangi orang bersorban putih dan berjubah putih. Orang tersebut memerintahkan kepada Ki Pratanu untuk menganut agama Islam dan disuruh berguru kepada Sunan Kudus di Jawa Tengah. selama tujuh malam berturut-turut Ki Pratanu mengalami mimpi yang sama. Akhirnya hal itu ia beritahukan kepada ayahandanya, yaitu Ki Pragalba. Mendengar cerita putranya mengenai mimpinya tersebut, Ki Pragalba mengijinkan putranya untuk belajar agama Islam kepada Sunan Kudus di Jawa Tengah. Namun Ki Pragalba tidak mengijinkan Ki Pratanu sendiri yang berangkat ke Kudus, melainkan memerintahkan kepada patihnya, yaitu Empo Bagenno. Ki Bagenno pun segera berangkat untuk mencari sunan Kudus. Begitu bertemu dengan Sunan Kudus, Sunan Kudus sudah tahu akan maksud kedatangan Empu Bagenno. Empu Bagenno pun langsung diterima menjadi santrinya. Empe Bagenno kemudian dicukur rambutnya, dipotong kuku-kukunya, dimandikan sampai bersih lalu disuruh mengenakan pakaian baru. Setelah itu Empu Bagenno diajari cara mengucapkan dua kalit syahadat. Bertahun-tahun Empu Bagenno tinggal di Kudus untuk belajar agama Islam. Akhirnya dia ingat akan tugasnya, bahwa dirinya belajar agama Islam atas perintah rajanya. Dia pun berniat akan kembali ke Plakaran. Sunan Kudus tidak keberatan Empu Bagenno kembali ke Plakaran. Sunan Kudus memerintahkan agar sesampainya di Plakaran, Arosbaya, Empu Bagenno harus menyebarluaskan agama Islam yang sudah dipelajarinya. Sesampainya di Plakaran Empu Bagenno memberitahukan kepada Ki Pratanu, bahwa dirinya sudah belajar agama Islam dan sudah masuk Islam. Mendengar berita tersebut Ki Pratanu marah, karena Empu Baginno telah lancang mendahuluinya masuk Islam terlebih dahulu. Empu Bagenno menjelaskan bahwa untuk mempelajari agama Islam memang harus masuk menjadi pemeluk agama tersebut. Mendengar penjelasan tersebut ki Pratanu memaklumi tindakan Empu Bagenno yang telah mendahuluinya memeluk agama Islam. Ki Pratanu lalu mengajak Empu Bagenno menghadap ayahnya, Ki Pragalba. Seperti halnya Ki Pratanu, Ki Pragalba pun sangat marah ketika diberitahu bahwa Empu Bagenno sudah masuk Islam. Namun akhirnya Ki Pragalba pun maklum, bahwa untuk belajar agam Islam memang harus memeluk agama tersebut. Ki Pragalba juga merestui Empu Bagenno dan Ki Pratanu menyebarkan agama islam di Madura, namun sang raja sendiri tidak mau memeluk agama Islam, melainkan masih memegang teguh kepercayaan lama, yaitu tetap beragama Buddha. Sampai pada saat sakit keras pun Ki Pragalba masih bertahan tidak mau memeluk agama Islam. Namun menjelang ajal, Ki Pragalba mengangguk-angguk ketika oleh Ki Pratanu dituntun untuk membaca kalimat syahadat. Jadi Ki Pragalba memeluk agama Islam hanya dengan cara mengangguk-anggukkan kepala, tanpa dengan ucapan, karena sudah tidak bisa berbicara. Oleh karena itulah Ki Pragalba disebut sebagai RATO ISLAM ONGGU’ (Raja islam mengangguk). Deskripsi: Pada saat ini cerita rakyat tentang RATO ISLAM ONGGU’ sudah tidak begitu dikenal dalam kehidupan masyarakat Bangkalan, maupun Madura pada umumnya. Apalagi oleh anak-anak dan generasi muda. Bahkan para orang tua yang tinggal di sekitar lokasi cerita pun jarang yang mengenalnya.