Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaPELET KANDHUNG - BANGKALAN, JAWA TIMUR
Sejarah: PELET KANDHUNG berarti ‘pijat kandungngan’. Upacara adat PELET KANDHUNG merupakan upacara adat daur hidup yang diselenggarakan pada saat seorang calon ibu hamil untuk pertamakalinya, dan kandungan sudah berusia 7 bulan. Tujuan dari penyelenggaraan upacara adat PELET KANDHUNG adalah sebagai pemberitahuan kepada kerabat dan handai taolan bahwa ada seorang calon ibu yang baru pertama kali hamil. Upacara adat PELET KANDHUNG di Bangkalan sudah ada sejak jaman dahulu ketika pemerintahan di Bangkalan masih dengan sistem kerajaan. Jalannya upacara adat PELET KANDHUNG,hadirin laki-laki membaca Surat Yusuf dan Surat Maryam di serambi luar. Sementara itu, di dalam dilakukan ‘PELET KANDHUNG’ (pemijatan kandungan) oleh dukun bayi. Setelah selesai pemijatan oleh dukun, kemudian ibu dan mertua perempuan serta para kerabar dan hadirin wanita mengusap perut si calon ibu seraya mengucapkan doa-doa, agar kelak si bayi bisa lahir dengan mudah dan selamat, tidak ada halangan suatu apa. Setelah selesai pemijatan, sang calon ibu dengan dibimbing dukun bayi, menyepak ayam yang sudah diikatkan di kaki tempat tidur. Dalam menyepak ayam tersebut harus benar-benar keras hingga ayam merasa kesakitan dan berbunyi keok. Hal itu dimaksudkan agar kelak pada saat melahirkan sang calon ibu tidak merasa kesakitannya, karena rasa sakitnya sudah dirasakan oleh ayam. Setelah disepak, ayam tersebut lalu dilepaskan dari ikatan, kemudian dikurung, untuk kemudian diberikan kepada dukun setelah upacara PELET KANDHUNG selesai. Setelah menyepak ayam, si calon ibu diselimuti kain putih yang tipis lalu dibimbing oleh sang dukun menuju pakeban (tempat mandi) diiringkan. Suami, ibu, mertua, dan para kerabat. Di tempat tersebut si calon ibu disuruh menginjak kelapa muda dengan kaki kanan, sedangkan kaki kirinya menginjak telur ayam dengan hati-hati, tidak boleh sampai pecah. Setelah diinjak, telur ayam diambil oleh sang dukun lalu diletakkan di atas perut sang calon ibu agar menggelinding dan pecah. Kalau telur pecah dan isinya menyiprat ke mana-mana, yang hadir akan serentak berseru jebbing (perempuan). Jika telur tdak pecah atau pecah tapi tidak menyhiprat kemana-mana, yang hadir akan serentak berseru kacong (laki-laki). Setelah itu, selanjutnya sang calon ibu didudukkan pada tempat duduk, kemudian suami, dukun bayi, orang tua, mertua beserta para kerabat memandikan sang calon ibu menggunakan air rendaman bunga setaman, dengan menggunakan gayung yang terbuat dari tempurung kelapa muda lengkap dengan daging kelapanya, dan diberi tangkai ranting pohon beringin yang masih lengkap dengan daunnya. Setelah dimandikan lalu diberi pakaian yang paling baru dan bagus, kemudian berkeliling menemui para tamu wanita, yang akan serentak mengucapkan raddin…raddin (cantik). Selanjutnya oleh seorang pinisepuh diberi JAMU BONGKES RAJA dalam cengkele. Setelah jamunya diminum, cengkele-nya dilempar ke halaman. Jika cengkele jatuh tertelungkup, para hadirin akan serentak berteriak jebbing (perempuan), jika cengkele jatuh terlentang, para hadirin akan berteriak kacong (laki-laki). Setelah minum jamun, oleh sang suami si calon ibu disuapi nasi punar dengan lauk telur ayam rebus. Selesai makan, si calon ibu menimang kelapa gading muda yang sudah digambari wayang ‘Arjuna’ dan ‘sembadra’ untuk selanjutnya diserahkan kepada suami. Pada saat itu para hadirin mengucapkan doa agar kelak bayi yang dikandung lahir dengan selamat tanpa cacat, kalau lahir laki-laki berwajah tampan seperti Arjuna, kalau lahir perempuan berwajah cantik seperti Sembadra. Setelah boneka kelapa gading diserahkan kepada suaminya, si calon ibu kemudian menjual rujak manis atau cendol kepada para hadirin. Sesudahnya, si calon ibu duduk bersanding dengan suaminya sembari memangku boneka kelapa gading, menunggu selesainya pembacaan surat yusuf dan surat Maryam. Setelah pembacaan surat yusuf dan surat Maryam selesai, kemudian dibacakan doa selamat yang dipimpin oleh sedan surat Maryam selesai, kemudian dibacakan doa selamat yang dipimpin oleh seorang kiai/sesepuh. Dengan demikian, upacara adat PELET KANDHUNG selesai. Ada yang kemudian dilanjutkan dengan mamaca (macapatan) oleh para sesepuh. Deskripsi: Sampai saat ini upacara adat PELET KANDHUNG di wilayah Kabupaten Bangkalan, Madura, masih dilaksanakan dengan baik