Data Teknis
| Kategori | Warisan Budaya |
| Kategori Sub | Warisan Budaya |
| No Inventaris | - |
| Nama | PAPANG SÈ KAMANTAN - BANGKALAN, JAWA TIMUR |
| Karya Budaya | Tradisi dan Ekspresi Lisan |
| Karya Budaya Sub | Cerita Rakyat |
| Kondisi Saat Ini | Masih Bertahan |
| Status Budaya | Pencatatan |
| Pelaku Komunitas | R.M. Hasan Sasra |
| Pencatat Karya Budaya | Suyami, M.Hum. |
| Narasumber | Referensi dari sumber lisan, wawancara dengan narasumber Bapak R.M. Hasan Sasra, budayawan Bangkalan. |
| Provinsi | Jawa Timur |
| Kabupaten/Kota | KAB. BANGKALAN |
| Penginput Data | Rizki Dian Saputra |
Sejarah:
Menurut cerita dari masyarakat setempat dan hasil wawancara dengan R.M. hasan sasra selaku budayawan di Kabupaten Bangkalan, cerita PAPANG SÈ KAMANTAN terjadi di bangkalan pada masa pemerintahan Pangeran Cakraningrat VI yang dikenal dengan sebutan Sultan Abdul Kadirun, yaitu sekitar tahun 1815. Ketika itu sang raja menghendaki, masjid kraton yang selama ini hanya dipakai oleh keluarga raja, ingin dihibahkan kepada rakyat, siapa saja yang ingin menjalankan shalat di masjid kraton dipersilahkan. Untuk itu Sultan Abdul Kadirun ingin memperbesar bangunan masjid. Pembangunan memperbesar bangunan masjid dilakukan dengan bantuan seluruh rakyat. Pada akhirnya ketika ingin mebuat tiang masjid, sang raja memerintahkan kepada seluruh rakyat untuk mencari kayu yang bagus, besar, lurus dan tua untuk membuat empat buah tiang utama masjid. Akan tetapi setelah semua rakyat Bangkalan dikerahkan, kayu bahan tiang masjid yang memenuhi harapan hanya ada sejumlah tiga batang. Untuk melengkapi, tiang keempat hanya ada sebatang kayu yang bentuknya agak bengkok, dan panjangnya kurang satu jengkal. Raja dan seluruh rakyat Bangkalan bingung. Akhirnya datang orang pintar bernama Bhuju’ Langghuna. Mengetahui hal itu Bhuju’ Langghuna meminta kain kafan. Kemudian kayu bengkok dan kurang panjang tersebut dimandikan seperti layaknya memandikan mayat. Seelah dimandikan, kayu tersebut dibungkus dengan kain kafan, selanjutnya diusung keliling kota Bangkalan seperti layaknya mengusung kemanten (pengantin) seraya semua orang memanjatkan doa kepada Tuhan, agar kayu tersebut bisa dijadikan tiang masjid seperti 3 kayu lainnya. Setibanya kembali di halaman masjid, ketika kayu tersebut dibuka kain kafannya, ternyata kayu tersebut sudah berubah bentuk menjadi lurus dan panjang sama persis dengan ketiga kayu calon tiyang masjid yang lain. Ketika orang-orang bertanya kepada Bhuju’ langghuna, mengapa kayu yang semula bengkok dan panjangnya kurang, setelah diarak bisa berubah menjadi lurus dan bertambah panjang sehingga cukup untuk tiyang masjid sama dengan tiga tiang lainnya, Bhuju’ Langghuna menjelaskan bahwa menurut pengamatan beliau, konon di dalam kayu tersebut ada ularnya. Kalau ularnya masih hidup akan tetap melingkat. Tetapi kini ularnya sudah mati, sehingga kayunya bisa diluruskan. Akhirnya tiang tersebut disebut PAPANG SÈ KAMANTAN yang maksudnya ‘tiang yang dikemantenkan’ (diarak seperti pengantin).
Deskripsi:
Cerita rakyat PAPANG SÈ KAMANTAN sampai saat ini masih diyakini kebenarannya oleh warga masyarakat Kabupaten Bangkalan. Menurut warga masyarakat Bangkalan, di antara 4 tiang utama Masjid Agung Bangkalan, satu diantaranya, yaitu yang berada di paling depan sebelah kanan, itulah tiang yang berasal dadi kayu yang dikemantekan. Bagi orang yang percaya, jika berada di dalam Masjid Agung Bangkalan, dan membaca wiridan di dekat tiang tersebut sering didatangi orang yang sangat tampan, berkulit putih, dan berjubah putih.