Data Teknis
| Kategori | Warisan Budaya |
| Kategori Sub | Warisan Budaya |
| No Inventaris | - |
| Nama | JAMU ANGA’ PAKA’AN - BANGKALAN, JAWA TIMUR |
| Karya Budaya | Pengetahuan dan Kebiasaan Perilaku |
| Karya Budaya Sub | Pengobatan Tradisional |
| Kondisi Saat Ini | Masih Bertahan |
| Status Budaya | Pencatatan |
| Pelaku Komunitas | Hj. Subaidah |
| Pencatat Karya Budaya | Suyami, M.Hum. |
| Narasumber | Referensi dari sumber lisan, wawancara dengan Ibu Hj. Subaidah selaku peracik jamu ramuan Madura, dan Bapak R.M. Hasan Sasra selaku budayawan di Kabupaten Bangkalan. |
| Provinsi | Jawa Timur |
| Kabupaten/Kota | KAB. BANGKALAN |
| Penginput Data | Rizki Dian Saputra |
Sejarah:
JAMU ANGA’ PAKA’AN merupakan ramuan jamu racik yang khusus diperuntukkan bagi wanita pengantin baru. Wanita Madura (Bangkalan) pertama kali meminum JAMU ANGA’ PAKA’AN pada pagi hari setelah melewati malam pertama setelah menikah. Tradisi minum JAMU ANGA’ PAKA’AN pada wanita pengantin baru Madura sudah berlangsung sejak jaman dahulu, mungkin sejak di madura (Bangkalan) masih bersifat kerajaan. Pada jaman dahulu, ketika masih ada tradisi adat UPACARA ADAT TOMPANG TRESNA, JAMU ANGA’ PAKA’AN segera diberikan oleh ibu pengantin wanita kepada putrinya pada saat pengantin priya mengembalikan bilah keris tanpa sarung kepada ayah mertuanya. Pada saat itu sang ayah akan segera memanggil istrinya bahwa ‘Upacara Adat Tompang Tresna’ sudah berhasil dilalui oleh pasangan pengantin baru dengan baik. Mendengar hal itu sang ibu dengan girang akan tergopoh-gopoh memanggil anak perempuannya, lalu ditanya “pening tidak, pusing tidak’, dan sebagainya, selanjutnya kepada anak perempuannya akan segera disodorkan JAMU ANGA’ PAKA’AN yang memang sudah disediakan.
JAMU ANGA’ PAKA’AN terbuat dari bahan daun sirih, kunci, kunyit, dan jahe. Cara membuat, semua bahan direbus, lalu airnya diminum dalam kondisi hangat.
Deskripsi:
Sampai saat ini tradisi minum JAMU ANGA’ PAKA’AN wanita pengantin baru di Bangkalan Madura masih terus dilestarikan. Hal itu disamping untuk menjaga kesehatan dan kekuatan bagi pengantin wanita, juga untuk memberikan kepuasan yang maksimal kepada suami. Pada saat ini, ketika ‘Upacara Adat Tompang Tresna’ sudah tidak dilakukan, JAMU ANGA’ PAKA’AN untuk wanita pengantin baru diberikan pada pagi hari setelah malam pertama, ketika pasangan pengantin sudah mandi besar dan melakukan shalat subuh. Biasanya pada pagi-pagi sekali mempelai laki-laki akan mengetuk pintu kamar ayah mertuanya untuk melakukan sungkeman yang dalam bahasa setempat disebut ‘ator bhakte’. Setelah itu ayah pengantin perempuan akan memanggil istrinya, memberitahukan bahwa menantunya akan ‘ator bhakte’. Selanjutnya ayah pengantin wanita akan memberikan wejangan/nasehat tentang kehidupan berumah tangga kepada menantunya. Sementara itu, ibu pengantin wanita akan menghampiri putrinya untuk diberi minuman JAMU ANGA’PAKA’AN.