Data Teknis
| Kategori | Warisan Budaya |
| Kategori Sub | Warisan Budaya |
| No Inventaris | - |
| Nama | Upacara Baritan - Pacitan, Jawa Timur |
| Karya Budaya | Adat Istidat Masyarakat |
| Karya Budaya Sub | Upacara Tradisional |
| Kondisi Saat Ini | Masih Bertahan |
| Status Budaya | Pencatatan |
| Pelaku Komunitas | R. Katno, S.Sos, MM |
| Pencatat Karya Budaya | Dra. Sumintarsih, M.Hum. |
| Narasumber | http://retnoayumadyaratri.blogspot.com/2010/12/baritan.html http://www.yourepeat.com/watch/?v=Qph7HwKGxQo UJUNG TIMUR JTV Eps. BARITAN Pacitan 2014 -01-27 |
| Provinsi | Jawa Timur |
| Kabupaten/Kota | KAB. PACITAN |
| Penginput Data | Dwi Hastuti, S.Pd. |
Sejarah:
Upacara adat Baritan ini sudah dilaksanakan sajak tahun 1800 an yang lampau. Artinya sudah turun-temurun dari mulai wareng, canggah, buyut, embah, putro, putu (generasi Dusun Wati sekarang). Dalam pelaksanaanya upacara Baritan telah mengalami beberapa perubahan. Dulu hanya diniati, dikendureni, dan dikabulkan. Perubahan ini terlihat dengan adanya musik genjrengan, pencak silat, tari – tarian, wayang kulit, yang bersifat hiburan. Baritan sebagai suatu adat, merupakan hasil warisan dari nenek moyang/pendahulu dari masyarakat Dusun Wati, Desa Gawang Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Pacitan. Nama Pacitan berasal dari kata Pace jika dimakan dapat memberi kekuatan.
Upacara adat ini diangkat dari tradisi pada zaman Ki Ageng Soreng Pati, abdi kinasih Ki Ageng Buwono Keling. Dikisahkan pada saat masyarakat tertimpa wabah penyakit yang berkepanjangan, Ki Ageng Soreng Pati memerintahkan masyarakat untuk melaksanakan kurban dengan menyembelih kambing jantan kendhit dan ayam tulak sejodho sebagai sedekah bumi.
Sekitar abad 15 ada seorang tokoh bernama Kyai Surengpati, tokoh ini diyakini oleh masyarakat sebagai cikal bakal desa setempat
Diskripsi:
Upacara adat Baritan berasal dari Dusun Wati, Desa Gawang, Kecamatan Kebonagung. Upacara adat ini merupakan upacara tolak bala di saat ada bencana atau wabah penyakit. Upacara adat ini diadakan setiap bulan Suro. Baritan berasal dari kata rid/wiriddan yang berarti memohon petunjuk atau perlindungan dan keselamatan kepada Tuhan. Namun akibat pengaruh dialek setempat kata rid/wiridan berubah menjadi Baritan. Baritan ini dalam bahasa lain disebut tolak bala. Upacara baritan dilakukan melalui beberapa syarat diantaranya upacaranya harus diadakan di perempatan jalan dusun karena barada di tengah-tengah sehingga memudahkan masyarakat berkumpul yang berasal dari empat arah jalan dusun yang merupakan bertemunya poncoboyo di perempatan tersebut, sehingga masyarakat bisa mengusir dari situ , melaksanakan korban menyembelih kambing jantan kendhit, ayam tulak sejodho dan berbagai sesajen lainnya.Upacara baritan ini dilaksanakan dua tahun sekali tepatnya pada hari Senin bulan Sura/Muharam tahun Jawa/Islam dengan hari baik menurut perhitungan juru kunci, waktunya pada siang hari di saat matahari di tengah-tengah bumi kurang lebih jam 12.00 WIB sampai selesai. Hal ini dikarenakan bahwa pada jam 12.00 siang semua warga Dusun Wati sudah pulang dari bekerja yang sebagian besar adalah petani. Selain itu paginya mempersiapkan perlengkapan upacara yang sifatnya baku seperti pusaka dan kambing jantan kendhit yang harus dibeli pagi harinya.
Baritan dilaksanakan dengan tujuan untuk memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar diberikan keselamatan lahir dan bathin, dijauhkan dari gangguan dan penyakit.
Upacara adat ini diangkat dari tradisi pada zaman Ki Ageng Soreng Pati, abdi kinasih Ki Ageng Buwono Keling. Dikisahkan pada saat masyarakat tertimpa wabah penyakit yang berkepanjangan, Ki Ageng Soreng Pati memerintahkan masyarakat untuk melaksanakan kurban dengan menyembelih kambing jantan kendhit dan ayam tulak sejodho (sebagai sedekah bumi). Upacara adat ini dilaksanakan di perempatan jalan untuk memudahkan berkumpulnya warga yang berasal dari empat penjuru jalan. waktu pelaksanaannya pada siang hari saat matahari tepat di tengah bumi atau kurang lebih pukul 12.00 siang.
Dalam prosesi upacara berjalan pelan serombongan warga yang mengenakan seragam jawa, ada rombongan yang membawa palawija hasil dusun sebagai sedekah bumi. Arak-arakan juga diikuti kesenian yang berkostum seperti ‘raksasa’. Upacara ditutup dengan kendhuri makan bersama nasi yang dibungkus daun jati dengan lauk urap-urap dan ayam.