Kesenian Angguk Rodat - Kab. Boyolali, Jawa Tengah

Data Teknis
KategoriWarisan Budaya
Kategori SubWarisan Budaya
No Inventaris-
NamaKesenian Angguk Rodat - Kab. Boyolali, Jawa Tengah
Karya BudayaSeni Pertunjukan
Karya Budaya SubSeni Tari
Kondisi Saat IniMasih Bertahan
Status BudayaPencatatan
Pelaku KomunitasBelum diisi
Pencatat Karya BudayaInsani Suciati, S.Pd.
Narasumberhttp://www.solopos.com/2012/01/31/tari-angguk-rodat-wujud-pujian-kepada-tuhan-158884
ProvinsiJawa Tengah
Kabupaten/KotaKAB. BOYOLALI
Penginput DataM. Raga Putra Ammarsada
Sejarah: Tari Angguk Rodat, begitu kesenian asli Dukuh Tempel, Desa Seboto, Kecamatan Ampel ini biasa disebut. Kesenian asli Boyolali ini memiliki keunikan tersendiri. Kesenian angguk Rodat ini sudah ada sejak tahun 2006. Angguk Rodat ini memadukan nada-nada yang dihasikan dari alat musik angklung, rebana dan jidor. sehingga tercipta sebuah harmonisasi irama yang dapat dinikmati penonton. Deskripsi: Tari Angguk Rodat, begitu kesenian asli Dukuh Tempel, Desa Seboto, Kecamatan Ampel ini biasa disebut. Kesenian asli Boyolali ini memiliki keunikan tersendiri. Keunikan jenis kesenian tari-tarian ini terletak pada penari-penarinya. Mereka menari diiringi paduan suara yang bernyanyi dengan sejumlah alat musik sebagai bunyi-bunyiannya. Para penari menari dengan lincah, pemusik pun tak kalah atraktif dengan memainkan alat musik berupa angklung, rebana dan gendang besar yang disebut jidor. “Gerak penari lebih dipusatkan pada lengan, tangan dan kepala, ada sentuhan spiritual dalam tarian berupa gerakan-gerakan itu dibarengi dengan liukan badan. Diiringi demngan melantunkan syair berisi puji-pujian kepada Tuhan dan rasulnya. Para pemain tarian ini selalu mengenakan pecis dilengkapi kacamata hitam. Tari Angguk Rodat berisi lantunan doa-doa bermakna mulia. Pujian itu berupa pitutur ingkang mulyo yaitu sesuai Quran dan hadis yang dikemas dengan menggunakan bahasa Kesenian Jawa atau disesuaikan dengan istilah Jawa. Kesenian Angguk Rodat ini memadukan nada-nada yang dihasikan dari alat musik angklung, rebana dan jidor. sehingga tercipta sebuah harmonisasi irama yang dapat dinikmati penonton. Kesenian itu biasanya tampil pada penyelenggaraan hari-hari besar agama Islam. Namun, juga tak jarang tampil untuk acara pernikahan, peresmian maupun acara lainnya.