Upacara adat Pethik Pari - Pacitan, Jawa Timur

Data Teknis
KategoriWarisan Budaya
Kategori SubWarisan Budaya
No Inventaris-
NamaUpacara adat Pethik Pari - Pacitan, Jawa Timur
Karya BudayaAdat Istidat Masyarakat
Karya Budaya SubUpacara Tradisional
Kondisi Saat IniSudah Berkurang
Status BudayaPencatatan
Pelaku KomunitasR. Katno, S.Sos, MM
Pencatat Karya BudayaDra. Sumintarsih, M.Hum.
Narasumberhttp://www.youtube.com/watch?v=1wybcLPOdwg, Ali Mustofa -wawancara dgn R.Katno, S.Sos, MM, Kasi Kesenian, Sejarah dan Nilai Tradisi Disparbudpora Pacitan
ProvinsiJawa Timur
Kabupaten/KotaKAB. PACITAN
Penginput DataDwi Hastuti, S.Pd.
Sejarah: Upacara adat Methik Pari biasa dilakukan oleh masyarakat Desa Jeruk yang terletak di puncak pegunungan Kecamatan Bandar yang mayoritas penduduknya adalah petani. upacara adat ini dimulai sebelum zaman penjajahan, yakni pada zaman nenek moyang kita mengenal bercocok tanam padi. Upacara adat Methik Pari merupakan upacara rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas pemberian limpahan rejeki berupa panen padi. Upacara ini dilakukan menjelang panen tiba tepatnya sehari sebelum panen raya, dan biasanya dilakukan pada malam hari. Dalam Sastra Lisan Jawa (1979) oleh Yoharni Harjono, dkk. Dalam tulisan (1983) yang disunting oleh Subagya Sastrawardojo dkk.J. Kats (1915) membahas cerita Dewi Sri dari Surabaya, terutama bagian selatan, menimbulkan tradisi, ’jagong bayi’. Dewi Sri memberi nasihat kepada ibu-ibu agar membaca mantra-mantra tertentu agar bayi mereka selamat dari godaan makhluk halus. Di sebuah cerita karena durhaka kepada ayahnya Prabu Sri Mahapunggung dikutuk menjadi ular sawah, Raden Sadana menjadi burung sriti. J. Kats juga membandingkan berbagai cerita Dewi Sri. Cerita ini sejalan dengan naskah Cariyos Sri Sadana koleksi Museum Sanabudaya Yogyakarta seri Nomer PB A 65.Kemuning (1957) membahas cerita Dewi Sri dari Jawa Tengah. Rassers (1959), dalam membahas cerita Panji, membicarakan Dewi Sri dan Sadana, keduanya putra prabu Sri Mahapunggung di kerajaan Purwacarita. Dewi Sri menjadi bidadari, isteri Dewa Wisnu. Ia dikejar-kejar Lembu Gumarang, lantas turun ke dunia menitis pada isteri prabu Sri Mangukuhan di Medangkamulan. Dalam cerita itu Wisnu menitis pada prabu Mangukuhan. Cerita tersebut sejalan dengan yang dikemukakan oleh Pigeaud (1924). Dewi Sri oleh masyarakat Jawa dikaitkan dengan makanan pokok, yaitu padi. Dewi Sri dimitoskan sebagai dewi padi. Dalam cerita rakyat yang terdapat di Blora, seluruh tubuh Dewi Sri berubah menjadi berbagai tanaman. Pitono (1983) membahas tokoh Dewi Sri dalam budaya Jawa dihubungkan dengan tokoh Dewi Sri di India. Menurutnya di Jawa dasar-dasar mitos Dewi Sri sudah ada sebelum budaya India masuk. Sedangkan mitos Dewi Sri di India hanya memperkuat mitos adanya padi di Jawa, (Hutomo, 1999:67). Subalidinata (1990) membahas tata upacara atau tradisi bercocok tanam khususnya menanam padi, serta berbagai cerita Dewi Sri, antara lain: Sri Sadana, Cerita Dewi Sri dalam Serat Purwakandha, Serat Manik Maya dan Dewi Sri dalam lakon wayang Sri Mahapunggung, Sri Mantuk, dan Sri Boyong. Selain di Jawa cerita Dewi Sri juga terdapat dalam cerita rakyat dari berbagai daerah, seperti dari Sunda, berjudul Nyi Pohaci Sang Hyang Sri, Hidding (1929). Cerita ini berkaitan dengan asal mula adanya padi di Jawa Barat. Asal Mula Tanaman Padi di Madura (Hatib W.S, 1963), Asal Mula Padi, Cerita rakyat dari Bali (Raka, A.A G.1963), Asal Mula Tanaman Padi, 231 Cerita Rakyat dari Banyumas (Suwandi, 1963), dan Dewi Sri, Cerita Rakyat dari daerah Surakarta (Rumidjah, tt). Kemuning (1957) membahas cerita Mula Bukane Ana Pari, pada majalah Tjenderawasih, No. 17-18. Probohardjono (1971) membicarakan ” Sri Saddana: Tjrita Naluri lan Kapratjayaning Rakyat” dalam Almanak Dewi Sri, tahun 1971. Hutomo (1999) membahas Mitos Dewi Sri dalam Cerita Kentrung. Dalam bahasan itu dijelaskan bahwa cerita Dewi Sri sebagai mitos, memiliki banyak versi. Dalam tradisi lisan cerita Dewi Sri disesuaikan dengan keadaan atau adat-istiadat setempat. Selain dalam cerita lisan Cerita Dewi Sri Juga terdapat dalam sastra tulis dan tradisi, semua berkaitan dengan makanan pokok masyarakat. Dalam masyarakat Jawa cerita Dewi Sri cukup dominan, setiap daerah memiliki mitos dan mempercayainya. Dewi Sri juga dimanfaatkan di bidang ekonomi. Misalnya nama rumah Dewi Sri Dalam Budaya; Dalam budaya Jawa pemujaan terhadap Dewi Sri hingga saat ini masih dilestarikan. Pelesterian itu direalisasikan dalam berbagai bentuk tradisi. Misal Tradisi wiwit (methik) Yang juga dilaksanakan pada masyarakat Desa Jeruk Kecamatan Bandar, Pacitan. Diskripsi: