Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Jaranan Pegon - Pacitan, Jawa Timur |
Sejarah : Seni pertunjukan Jaranan atau biasa disebut Jaranan sudah ada sejak masa kerajaan atau sebelum kemerdekaan. Pada masa tersebut dikenal dua bentuk seni pertunjukan yaitu seni pertunjukan istana dan seni pertunjukan rakyat . Seni pertunjukan istana adalah seni yang hidup, tumbuh dan berkembang di kalangan istana, sedangkan seni pertunjukan rakyat adalah seni pertunjukan yang berkembang di kalangan rakyat, diantaranya adalah Jaran Kepang atau Jaranan. Ditinjau arti katanya, Jaranan berasal dari kata Jaran atau kuda dan akhiran “an” menunjukkan bentuk tidak asli atau Jaran-jaranan (mainan). Dalam budaya Jawa, “jaran” merupakan binatang simbol kekuatan, lambang keperkasaan dan lambang kesetiaan. Ketika manusia menggunakan kuda sebagai kendaraannya, maka manusia digambarkan sedang berjuang menempuh kehidupannya untuk mencapai tujuan hidupnya
Menurut sejarah, asal muasal seni jaranan atau jaran kepang diangkat dari dongeng rakyat tradisional Kediri pada Pemerintahan Prabu Amiseno yaitu Kerajaan Ngurawan, salah satu kerajaan yang terletak di Kediri sebelah timur Sungai Brantas. Konon sang Prabu berputera seorang putri sangat cantik Dyah Ayu Songgolangit. Kecantikan Songgolangit tersohor sehingga banyak raja dari luar Kediri ingin mempersuntingnya. Sonnggolangit mempunyai adik laki-laki tampan, terampil dalam olah keprajuritan, bernama Raden Tubagus Putut. Raden Tubagus Putut pamit pada ayahandanya untuk berkelana menyamar sebagai masyarakat biasa. Sementara itu Raden Tubagus Putut berminat mengabdi di Kerajaan Bantar Angin yang dipimpin Prabu Kelono Sewandono. Berkat kemampuannya olah keprajuritan ia diangkat menjadi patih kerajaan dan diberi gelar Patih Pujonggo Anom. Prabu Kelono Sewandono ingin meminang Dyah Ayu Songgo Langit , maka diutuslah Patih Pujonggo Anom untuk melamar ke Kediri. Sebelum berangkat ke Kediri Pujonggo Anom memohon petunjuk kepada Sang Dewata agar dirinya tidak diketahui oleh ayahandanya maupun kakaknya.
Di kerajaan Ngurawan berdatangan para pelamar diantaranya Prabu Singo Barong dari Lodoyo yang didampingi patihnya Prabu Singokumbang. Kedatangan Pujonggo Anom untuk melamar membuat terkejut Songgolangit, karena meskipun Pujonggoanom memakai topeng, ia mengetahui bahwa itu adiknya sendiri. Songgolangit menyampaikan ayahandanya bahwa Pujonggo Anom itu putranya sendiri. Mendengar itu murkalah sang ayah. Kemudian sang Prabu mengutuk Pujonggo Anom bahwa topeng yang dikenakan tidak bisa dilepas dari wajahnya. Pujonggo Anom mengatakan pada Songgolangit bahwa lamarannya itu untuk rajanya yaitu Prabu Kelono Sewandono. Akhirnya Songgolangit mengeluarkan sayembara: Dia menginginkan sebuah titian yang tidak berpijak pada tanah; Barang siapa dapat membuat tontonan yang belum ada di jagad ini, dan bilamana digelar dapat meramaikan jagad; serta pengarak manten menuju ke Kediri harus nglandak sahandape bantala (lewat bawah tanah) dengan diiringi tetabuhan. Barang siapa bisa memenuhi permintaan tersebut maka si pencipta berhak mempersunting Dewi Songgolangit sebagai permaisuri. Pujonggo Anom melaporkan permintaan Songgolangit kepada Prabu Kelono Sewandono. Karena merasa cukup sulit, akhirnya keduanya bersemedi memohon petunjuk Sang Dewata Agung. Dewata memberikan batang bamboo, lempengan besi serta sebuah cambuk yang disebut Pecut Samandiman. Batang bamboo untuk membuat kuda kepang , lempengan besi dijadikan bahan tetabuhan yang enak didengar. Dalam waktu singkat Kelono Sewandono beserta Pujonggo Anom sudah bisa memenuhi patembaya Dewi Songgolangit. Maka mulailah kesenian itu diberi nama Tari Jaran Kepang yang terdiri dari empat orang sebagai penari yang menggambarkan punggawa kerajaan yang sedang menunggang kuda dalam tugas mengawal raja. Tarian tersebut diiringi oleh satu unit musik gamelan jawa berupa ketuk, kenong, kempol, gong suwukan, terompet, kendang dan angklung. Di lain pihak Prabu Singo Barong merasa kedahuluan oleh Prabu Kelono Sewandono, maka marahlah Singo Barong dan terjadilah perang. Kelono Sewandono unggul dalam peperangan berkat pecut Samandiman. Singo Barong pasrah kepada Kelono Sewandono dan sanggup menjadi pelengkap dalam pertunjukkan jaranan yang digelar di Kerajaan Kediri. Dengan bergabungnya Singo Barong dan patihnya Singo Kumbang (celeng) maka genaplah penari jaranan berjumlah enam orang smpai sekarang ini.
Deskripsi : Kesenian Jaranan khususnya di Jawa Timur, terdapat di hampir semua daerah. Dari 38 kabupaten dan kota yang ada di Jawa Timur, 34 diantaranya memiliki kesenian Jaranan dan 4 daerah belum ditemukan kesenian Jaranannya, yaitu Kabupaten Bangkalan, Kabupaten Madiun, Kabupaten Ngawi dan Kabupaten Pamekasan. Pada umumnya keempat wilayah tersebut juga menggunakan kesenian Jaranan untuk berbagai kegiatan di daerahnya akan tetapi pertunjukan Jaranan “ditanggap” dari daerah lain.
Kesenian Jaranan yang menggunakan “jaran” atau kuda hidup dalam pertunjukannya adalah: Kuda Joged,Kuda Kincak,Jaran Kencak, dan Jaran Jenggo. Sedangkan kesenian Jaranan yang menggunakan properti menyerupai “jaran” yang digunakan untuk menari adalah:
Jaranan Buto, Kuda Lumping,jaranan Jur, Jaran Kepang, Jaranan Dor, Jaranan Senterewe, Jaranan Campursari, Kepang Dor, Jaranan Pogokan, Jathilan, Jaran Bodhag,Turonggo Yakso, Jaran Jawa, Jaranan Pegon, dan Jaranan Campursari. Demikian juga bentuk dan bahan properti berbeda antara Jaranan satu dengan lainnya, hal ini sesuai dengan ekspresi karakteristik budaya daerah perkembangannya. Jaranan Pegon identik dengan jaranan senterewe yaitu jaranan yang memiliki kreativitas gerak dan iringan yang dinamis. Pemakaian busana menggunakan busana seperti wayang orang.
Selain seperangkat gamelan, pagelaran jaranan juga membutuhkan sesaji sang dalang jaranan yang disebut gambuh antara lain: dupa (kemenyan yang dicampur dengan minyak wangi kemudian dibakar), buceng (berisi ayam panggang jantan dan beberapa jajan pasar, satu buah kelapa dan satu sisir pisang raja), kembang boreh (berisi kembang kanthil dan kembang kenongo), ulung-ulung (seekor ayam jantan yang sehat), kinangan (gambir, suruh, tembakau dan kapur yang dilumat menjadi satu lalu diadu dengan tembakau). Selanjutnya sang gambuh membaca mantera duduk bersila di depan sesaji berkomunikasi dengan roh leluhur dan meminta agar menyusup ke raga salah satu penari jaranan. Setelah roh yang dikehendaki hadir dan menyusup ke raga salah satu penari maka penari yang telah disusupi roh tersebut bisa menari di bawah sadar mengikuti kehendak roh yang menyusup di dalam raganya. Sambil menari, jaranan diberi makan kembang dan minum air dicampur dengan bekatul bahkan ada yang makan pecahan kaca semprong.
Alat musik Jaranan terdiri dari kenong, kempul, gong suwuk, kendang dan slompret. Walaupun alat musiknya sederhana, namun suara yang dihasilkan sangat luar biasa dan mampu mewujudkan suatu harmonisasi.