Data Teknis
| Kategori | Warisan Budaya |
| Kategori Sub | Warisan Budaya |
| No Inventaris | - |
| Nama | Tari Janggrung - Gunungkidul, D.I. Yogyakarta |
| Karya Budaya | Seni Pertunjukan |
| Karya Budaya Sub | Seni Tari |
| Kondisi Saat Ini | Masih Bertahan |
| Status Budaya | Pencatatan |
| Pelaku Komunitas | Belum diisi |
| Pencatat Karya Budaya | Drs. Sujarno |
| Narasumber | - |
| Provinsi | DI Yogyakarta |
| Kabupaten/Kota | KAB. GUNUNG KIDUL |
| Penginput Data | Rizki Dian Saputra |
Sejarah:
Tarian Janggrung di Kecamatan Semanu merupakan jenis kesenian yang disakralkan. Dalam setiap acara bersih desa yang dilaksanakan setahun sekali tarian ini dipentaskan di tempat yang dikeramatkan yaitu di bawah pohon Asem dan Kepoh yang berada di adusun Munggi. Konon tempat tersebut dipercaya sebagai cikal bakan Desa Munggi.
Menurut juru kunci (Bapak Atmo Suwito) dahulu tempat inin tumbuh pohon Munggi besar yang kemudian daerah tersebut lebih dikenal dengan sebutan Desa Munggi.
Pohon Asam dan Kepoh tersebut oleh masyarakat setempat diselimuti dengan kain kafan panjang.
Deskripsi:
Menurut kepercayaan masyarakat setempat, tarian Janggrung dapat digunakan sebagai perantara penyembuhan berbagai macam penyakit. Orang yang sakit, oleh penari Janggrung dimintakan kesembuhan kepada yang mbau rekso (penguasa gaib) yang punya tempat tersebut supaya diberikan kesembuhan. Orang yang sakit diajak menari dengan iringan musik gamelan, selanjutnya dicium dan diusap mukanya dengan selendang sang penari.
Selain penari, sang juru kunci pun membacakan mantra-mantra sambil membakar kemenyan. Selain meminta kesembuhan dari sakit yang dideritanya, banyak juga warga masyarakat yang datang untuk mendatangkan berkah. Tak sedikit mereka yang datang dari daerah lain yang datang minta didoakan agar dapat mendapatkan berkah, kemurahan rezki maupun enteng jodoh.