Data Teknis
| Kategori | Warisan Budaya |
| Kategori Sub | Warisan Budaya |
| No Inventaris | - |
| Nama | Wayang Thengul - Bojonegoro, Jawa Timur |
| Karya Budaya | Seni Pertunjukan |
| Karya Budaya Sub | Seni Visual |
| Kondisi Saat Ini | Sudah Berkurang |
| Status Budaya | Penetapan |
| Pelaku Komunitas | Belum diisi |
| Pencatat Karya Budaya | Drs. Sukari |
| Narasumber | - |
| Provinsi | Jawa Timur |
| Kabupaten/Kota | KAB. BOJONEGORO |
| Penginput Data | Juliana Amalia Warman |
Sejarah : Menurut Santosa (62 tahun) salah satu dalang wayang thengul dan wayang krucil yang sekaligus menjadi perajin kedua jenis wayang tersebut, menceritera-kan bahwa wayang thengul muncul sekitar tahun 1930. Seorang pemuda bernama Samijan dari Desa Banjarjo Kecamatan Padangan membuat wayang boneka yang menyerupai wayang menak yang pada waktu itu sudah terkenal di wilayah Kudus. Kemungkinan Samijan terinspirasi wayang menak Kudus, yang penyebaran meluas sampai Padangan berbatasan dengan Cepu Kabupaten Blora, yang pada waktu itu wayang menak Kudus sebagai media siar agama Islam. Bapak Samijan membuat wayang thengul selain untuk mengembangkan kreatifitas seninya, juga untuk mencari nafkah, karena tahun 1930an perekonomian rakyat sangat sulit. Beliau membuat wayang thengul untuk mengamen, berniat keliling dari desa satu ke desa lainnya (mengembara)
Niat yang kuat untuk keliling (mengembara) dalam bahasa Jawa “menthentheng niyat ngulandara†dengan mengamen mendalang wayang boneka kayunya, yang dijadikan nama wayangnya dengan sebutan thengul (theng dari akronim methen theng, dan ngul dari kata ngul -andara). Satu kotak wayangnya yang untuk ngamen keliling dinamakan Wayang Geyer. Nama ini bisa jadi karena beratnya wayang satu kotak, sehingga membawanya yang dengan cara dipikul hingga nggeyer-nggeyer (merasa beratnya mengangkat beban). Dari nama Wayang Geyer ini, nama Samijan pun terkenal dengan sebutan Ki Dalang Nggeyer.
Keternaran Dalang ngGeyer Samijan dengan wayang thengulnya berjalan hingga tahun 1950 an. Nama geyer identik dengan wayang thengul, sehingga seorang dalang wayang thengul di Bojonegoro pun pada akhirnya dikenal dengan sebutan dalang geyer. Penerus Samijan adalah Tayib dari Desa Caper Kecamatan Batokan yang sebelumnya sebagai penabuh gamelan (niyaga) yang setia mengikuti Samijan. Karena Samijan tidak memiliki anak, maka penerusnya bukan keturunannya tetapi orang lain.
Niat Samijan membuat wayang thengul yang semula hanya untuk mengamen, ternyata dari hari ke hari yang menanggap semakin banyak. Bukan hanya di wilayah Padangan, tetapi sampai ke wilayah Bojonegoro, Dander, Kanor bahkan sampai wilayah Tuban. Yang menanggap tidak hanya sekedar hiburan, bahkan untuk hajat mulai berkembang.
Sekitar tahun 1959 wayang thengul digemari masyarakat sekitar Padangan daripada wayang kulit. Kemudian Bapak Santoso tertarik untuk belajar wayang thengul langsung kepada Bapak Samijan, yang pada waktu itu masih usia sekitar 14 tahun, dengan mengikuti Bapak Samijan tampil dimana-mana. Menurut Bapak Santoso pernah mengamen sampai ke desa-sa dengan diirngi 8 orang pengrawit, dan bila ingin lengkap sampai 20 orang pengrawit. Tanggapan yang sering untuk acara hajatan, manganan, dan ruwatan, dengan cerita hampir sama cerita kethoprak seperti cerita Panji, Minak dan Anglingdarma.
Deskripsi : Wayang Thengul Bojonegoro, mengambil bentuk dan pakaian mirip kethoprak. Lakon-lakon yang digelar sangat variatif, terutama dalam kisah babad atau cerita rakyat. Untuk wilayah Bojonegoro yang terkenal dengan kisah atau cerita Anglingdarma, Babad Jipang, Babad Ronggolawe, Cerita Panji, Babad Majapahit juga sering dipentaskan.
Gamelan pengiring menggunakan gamelan laras slendro atau pelog, juga diiringan waranggana. Layar bagian tengah terbuka, berbeda dengan layar (geber) wayang kulit yang layara background-nya berupa lembaran kain penuh. Pada pakeliran wayang thengul yang bagian tengah yang terbuka diperuntukkan sebagai media pementasan gerak wayang, sehingga kalau ditonton dari belakang layar akan tampak bentuk wayang dan pergerakan dalang, lain halnya dengan wayang kulit yang terlihat bayangan siluetnya karena sorotan cahaya (lighting) dari arah muka.
Wayang-wayang lainnya dijajar di sisi kiri dan kanan dari bagian layar yang terbuka. Gunungan (kayon, makara) terbuat dari ikatan bulu ekor merak, diikat berjajar. Dalam satu kotak wayang thengul terdiri dari 70-80 buah. Tempat dudukan (tancapan) wayang menggunakan batang pisang.
Wayang thengul tidak jauh berbeda dengan wayang Golek Menak Kudus, atau wayang Golek Jawa Barat, di mana bagian kepalanya dapat digerakkan ke kanan ke kiri, bahkan mendongak ke atas. Pakem bentuk wayang hanya tokoh-tokoh tertentu. Untuk peran tokoh raja, ksatrya atau patih yang tidak populer bisa menggantikan peran lain yang selaras. Tokoh-tokoh seperti Minak Jingga, Kencanawungu, Damarwulan, Maudara, Arya Penangsang, Ronggolawe, dan lainnya yang memiliki spesifikasi karakter, dibuatkan bentuk tersendiri.
Dalam pergelaran wayang thengul tidak ada tokoh punakawan, spsifikasinya hanya menyesuaikan. Untuk babad Majapahit ada punakawan yang dikenal dengan nama Nayagenggong dan Sabdapalon, untuk cerita panji dikenal punakawan Bancak dan Doyok. Dalam cerita babad atau cerita sejarah jarang menampilkan tokoh punakawan, kalau pun ada nama tokoh punakawan yang ditampilkan tergantung dari kreatifitas dan imajinasi dari dalang itu sendiri, sebagai selingan.
Wayang thengul yang awalnya untuk mengamen, dalam perkembangannya juga untuk pagelaran hajatan, seperti khitanan, perkawinan, membayar nazar, untuk upacara adat seperti bersih desa, di Bojonegoro dengan istilah manganan. Lama pergelaran 6-7 jam, terkadang juga siang malam.