Gumbregan - Gunungkidul, D.I. Yogyakarta

Data Teknis
KategoriWarisan Budaya
Kategori SubWarisan Budaya
No Inventaris-
NamaGumbregan - Gunungkidul, D.I. Yogyakarta
Karya BudayaAdat Istidat Masyarakat
Karya Budaya SubUpacara Tradisional
Kondisi Saat IniMasih Bertahan
Status BudayaPencatatan
Pelaku KomunitasBelum diisi
Pencatat Karya BudayaDrs. Sujarno
Narasumber-
ProvinsiDI Yogyakarta
Kabupaten/KotaKAB. GUNUNG KIDUL
Penginput DataRizki Dian Saputra
Sejarah: Banyak cara untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Salah satu ungkapan rasa syukur dilakukan oleh masyarakat Karangrejeg dengan melaksanakan tradisi Gumbregan. Upacara adat yang digelar setahun sekali bertujuan untuk menyelamati hewan ternak yang dipelihara oleh para petani atau peternak di wilayah tersebut..Tradisi ini diikuti oleh semua keluarga yang ada di Desa Karangrejek. Pada upacara tersebut tidak ada patokan yang tetap untuk pelaksanaanya, hanya hari yang ditentukan yaitu pada Selasa Wage. Deskripsi: Pada umumnya masyarakat di pedesaan memiliki hewan ternak seperti ayam, kambing, sapi, dan lainnya. Namun tidak semua wilayah dan masyarakat melakukan syukuran atau sedekah yang berkaitan dengan hewan pemeliharaannya. Di Desa Karangrejek tradisi syukuran berkaitan dengan hal tersebut masih tetap dilestarikan dan dinamakan Gumbregan. Pada prakteknya sedekah gumbregan menyuguhkan berbagai macam makanan khas hasil bumi warga masyarakat setempat. Makanan tersebut menjadi satu rangkaian sesaji berupa jadah woran berasal dari beras ketan, ketupat luar setrta aneka macam umbi-umbian. Acara tradisi gumbregan dimulai pada sore hari kurang lebih puum 16..00 WIB dan berlangsung singkat, dilakukan doa bersama (kenduri). Kemudian dilanjutkan dengan pemberian makan ternak berupa bekatul yang sebelumnya telah dikukus. Selesai acara kenduri, berbagai makanan sesaji tersebut diperebutkan oleh anak-anak. Secara bergiliran anak-anak tersebut juga menyambangi rumah-rumah penduduk yang menggelar tradisi gumbregan tersebut. Masyarakat setempat percaya bahwa kedatangan anak-anak tersebut seolah membawa berkah tersendiri bagi penyelenggara Gumbregan. Oleh karena, menurut kepercayaan habisnya makanan dalam sesaji tersebut diyakini dapat memperlancar rezki di masa yang akan datang.