Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaWayang Krucil - Bojonegoro, Jawa Timur
Sejarah : Menurut keterangan Bapak Gatot Sujarwo, Wayang Krucil ada yang mengatakan tinggalan Prabu Brawijaya, ada yang berpendapat ciptaan Sunan Kudus, ada yag mengatakan ciptaan raja Kartasura, Untuk daerah Padangan masyarakat meyakini ciptaan dari kelurga Sultan Hadiwijaya yaitu Pangeran Jati Kusumo dan Pangeran Jatikusworo. Wayang Krucil di desa ini, merupakan gaya campuran antara budaya perbatasan (Jawa Tengah-Jawa Timur) yaitu Jipang, Cepu,Padangan dan sekitarnya. Wayang krucil ini juga ada dibeberapa daerah antara lain di Nganjuk, Jombang, Lamongan, dan Kudus. Untuk yang ditekuni wayang krucil dari Blora bagian timur dan Bojonegoro bagian barat. Gaya Blora diiringan sinden dan gamelan pelok slendro, sehingga yang ditekuni gaya Padangan dan sekitarnya. Deskripsi : Wayang Krucil yang ditekuni Bapak Gatot Sujarwo, dengan ciri menggunakan bonang 2, kempul 1, saron, demung, kendang, gambang, rebab dan tanpa sinden. Wayang Krucil, yang utama untuk ruwatan bagi masyarakat desa, sedangkan yang lain syarat untuk sedekah bumi, manganan, dan nadzar. Waktu pementasan sekitar pukul 13.00-17.00 untuk siang, sedangkan malam hari pukul 21.30-03.30. Untuk upacara manganan atau sedekah bumi biasanya hari Jum’at. Sebelum ruwatan atau manganan dhalang melakukan rituil. Ada beberap sesaji atau ubarampe yang perlu disiapkan sajen di suatu tempat yaitu di punden. Secara umum sajen berisi kembang telon, kembang macan kerah, kembang boreh, kembang wangi, klopo ijjo,klopo gading, ingkung ayam panggang, dawet, kemangi, sambel korek, api blencong nyala, dan dhalang harus mengginggit sirih, kinang, minum air kendi. Mengenai urutan cara melakukan upacara ruwatan sedang disusun. Untuk biaya biasanya tidak ditentukan sesuai keikhlasan yang punya hajat, yang penting untuk transport pergi pulang diurus dengan 9 pengrawit.