Data Teknis
| Kategori | Warisan Budaya |
| Kategori Sub | Warisan Budaya |
| No Inventaris | - |
| Nama | Tradisi Rasulan - Gunungkidul, D.I. Yogyakarta |
| Karya Budaya | Adat Istidat Masyarakat |
| Karya Budaya Sub | Upacara Tradisional |
| Kondisi Saat Ini | Masih Bertahan |
| Status Budaya | Pencatatan |
| Pelaku Komunitas | Belum diisi |
| Pencatat Karya Budaya | Drs. Sujarno |
| Narasumber | http://gabriellaaningtyas.wordpress.com/2013/09/24/tradisi-rasulan-gunung-kidul/About these ads diunduh 27 Oktober 2013 |
| Provinsi | DI Yogyakarta |
| Kabupaten/Kota | KAB. GUNUNG KIDUL |
| Penginput Data | Rizki Dian Saputra |
Sejarah:
Masyarakat Gunung Kidul setiap tahunnya selain merayakan hari raya Idul Fitri dan Idul Adha ada juga perayaan yang selalu diadakan. Perayaan Rasulan tidak kalah ramainya dengan kedua hari raya tersebut. Tradisi rasulan itu juga ada yang menyebutnya tradisi pulang kampung. Sebab pada saat Rasulan diadakan mereka beramai-ramai untuk pulang kampung. Rasulan sendiri berarti bersih desa yang biasanya dilaksanakan setelah penen selesai. Pada saat perayaan Rasulan banyak perantau yang sengaja pulang kampung untuk bersilaturahmi dengan keluarga. Mereka bisa bertemu dengan tetangga, teman lama sehingga dapat dikatakan sebagai ajang reuni. Desa-desa di Gunung Kidul pelaksanaannya waktunya tidak sama tergantung i penanggalan masing-masing desanya.
Deskripsi:
Saat Rasulan tiba, akan diadakan arak-arakan seperti karnaval dan berbagai macam kesenian tradisional seperti jathilan atau kuda lumping, bahkan kadang ada pentas campursari atau musik dangdut. Di kalangan masyarakat Gunung Kidul Upacara Rasulan seperti halnya perayaan hari raya Idul Fintri, mereka pada umumnya masak besar dan akan menjamu siapa saja yang datang ke rumahnya. Tradisi Rasulan menjadikan para pengunjung kenyang, karena banyak makanan gratis yang bagikan. Namun demikian ada sebagian masyarakat Gunung Kidul yang merayakan Rasulan dengan mengadakan kenduri. Setiap rumah wajib membuat nasi dengan berbagai lauk pauknya kemudian dibawa ke rumah kepala dusun dan selanjutnya diarak menuju balai desa. Tradisi ini dinamakan weton.
Acara Rasulan juga menjadi berkah bagi para muda mudi, karena menjadi ajang mencari jodoh.