Data Teknis
| Kategori | Warisan Budaya |
| Kategori Sub | Warisan Budaya |
| No Inventaris | - |
| Nama | Nyadran Grenjeng Sedekah Bumi/Manganan di sumur manten - Bojonegoro, Jawa Timur |
| Karya Budaya | Adat Istidat Masyarakat |
| Karya Budaya Sub | Perayaan - Perayaan |
| Kondisi Saat Ini | Masih Bertahan |
| Status Budaya | Pencatatan |
| Pelaku Komunitas | Haryanto Abdoellah |
| Pencatat Karya Budaya | Drs. Sukari |
| Narasumber | - |
| Provinsi | Jawa Timur |
| Kabupaten/Kota | KAB. BOJONEGORO |
| Penginput Data | Juliana Amalia Warman |
Sejarah : Upacara nyadran/sedekah bumi/manganan di lokasi Sumur Manten, berdasarkan cerita para pendahulu mengenai sejarah Desa Sraturejo, dimana di Dusun grenjeng tedapat petilasan Sumur Nganten. Peninggalan situs yang ada di dusun tersebut berupa pondasi bekas bangunan kuno berbahan batu bata ukuran besar (20x35 cm). Kalau ini diselaraskan dengan sejarah baku, berkisar pada masa pemerintahan Prabu Kertajaya di Kediri (tahun 1182-1222 M). Raja terakhir Kediri sebelum dimulainya jaman kerajaan Tumapel (Singhasari) ini bergelar Sri Maharaja Sri Sarweswara Triwikramawatara Anindhita Srenggalancana Digjaya Uttunggadewa. Berakhirnya tampuk kekuasaan Kertajaya karena ditaklukka oleh Ken Arok yang sebelumnya merebut tahta ukuwu Tunggul Ametung di Tumapel
Menyimak jejak cerita dan materilal yang ditemukan di lokasi Sumur Nganten terlihat mendekati masa itu, diantaranya ada nama petilasan “Sawah Panjiâ€, “sawah Kepyakâ€,“Randha (Ragil) Kuningâ€,â€Kucing Lamurâ€, “Botobangâ€,â€Mojosijiâ€,â€Sendang Ratuâ€dan “Sumur Begandringâ€. Memungkinkan dulunya kawasan Sumur Nganten adalah wilayah kekuasaan seorang akuwu yang dikenal dengan nama Lembu Amisena atau Basunanda (disebut para sesepuh desa setempat). Wilayah pakuwonnya bernama Ngurawan Bauwarna. Akuwu Lembu Amisena beristrikan Nyi Lebdasari.
Lokasi instana pakuwon berada di petilasan Sumur Nganten yang masih dilestarikan. Setiap tahun seusai panen padi masih digunakan sebagai tempat kegiatan adat tadisi Sedekah Bumi (Nyadran). Sumur di lokasi tersebut selalu dikunjungi pasangan pengantin yang baru saja mengucapkan ikrar ijab-kabul (akad nikah). Mereka akan membasuh muka, tangan dan kaki bersama pasangannya secara bergantian, dengan memohon rindho kepada Tuhan Yang Maha Esa agar pernikahannya lestari, jauh dari cobaan, murah rejeki dan dikaruniai keturunan yang tanpa cacat, berbakti pada orang tua, agama dan negara.
Didekat Situs Sumur Nganten ada dua makam dalam satu cungkup, yaitu makam Mbah Krebut kakung dan Mbah Krebut putri. Menurut kepercayaan masyarakat setempat Mbah Krebut merupakan tokoh dari masa Kerajaan Kediri, kemungkinan pejabat stingkat akuwu di wilayah Bojonegoro sekarang.
Deskripsi : Upacara Nyadran Grenjeng/sedekah bumi/manganan, dahulu yang dibawa adalah jodhang dengan isi kue-kue makanan jajan pasar dan encek (anyaman bambu dilapisi daun pisang), kemudian dibawa ke Sumur Manten untuk doa dan makan bersama. Kini yang dikirab berupa gunungan terdiri dari buah-buahan dan hasil bumi lainnya. Peserta dari masyarakat Dusun Grenjeng dan Jomblong.
Upacara Nyadran/sedekah bumi diselenggarakan pada hari Senin Pon setelah panen raya di Desa Sraturejo. Khusu untuk pamong des diwajibkan membawa ayam panggang dalam satu baki dengan nasi dan lauk pauk sayuran. Adapun masyarakat umu membawa seikhlasnya, yang nantinya dimakan bersama setelah dibacakan doa.
Prosesi upacara ini dimulai sekitar jam 12.00 (ba’da sholat Dzuhur) dari halaman masjid desa dengan iring-iringan gunungan berjalan menuju Balai Desa menjemput Perangkat Desa, dilanjutkan keliling dusun menuju lokasi nyadran yaitu di Petilasan Sumur Manten. Setelah sampai di lokasi diadakan upcara dengan sambutan-sambutan yaitu Kepala Desa Sraturejo dan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bojonegoro, Namun, sebelumnya dibacakan Asal-usul Sumur Nganten, dan dibacakan doa oleh kaum/modin.
Mengenai gunungan, yang seharusnya diperebutkan setelah doa selesai, tetapi sebelum doa masyarakat sudah berebut. Namun, perebutan itu dilakukan setelah gunungan sampai di lokasi Sumur Manten, pada saat diarak keliling tidak ada yang berani merebutkan atau mengambil dari bagian gunungan.
Setelah rangkaian acara nyadran selesai sekitar jam 14.00, selanjutnya masyarakat setempat dan umum dapat hiburan pertunjukkan tayub. Pertunjukan tayub sepertinya wajib dalam rangkaian upacara nyadran ini.Tayub ini biasanya dilaksanakan sore, kemudian istirahat dilanjutkan malam hari sampai selesai.
Upacara Nyadran Genjeng/sedekah bumi ini diharapkan bisa memberi makna sebagai berikut:
1. Sebagai media peningkatan keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
2. Sebagai media penghormatan kepada leluhur/nenek moyang perintis dan pendiri Dusun sekaligus pelestari budaya dan adat istiadat
3. Sebagai media untuk mempererat silaturahmi, memperkokoh tali persatuan dan kesatuan