Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaTradisi Suran Modinan - Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta
Sejarah: Asal mula upacara adat Suran Modinan adalah sebagai berikut di masa lalu ada seorang bekel mempunyai seorang anak yang sangat nakal bernama Asrah. Atas kehendak ayahnya anak ini kemudian dititipkan pada Demang Dowangan, dengan maksud agar diasuh dan dibimbing. Di rumah Demang Dowangan, Asrah diberi tugas menggembalakan itik. Setiap pulang dari menggembalakan, diwajibkan untuk membawa satu ikat kayu bakar. Pekerjaan ini oleh Asrah dapat dilakukannya dengan baik. Setelah dewasa ia suka melakukan tapa selama berbulan-bulan. Suatu ketika, saat bertapa, ia bertemu dengan seseorang yang memberinya sebuah kitab. Setelah itu, Asrah menjadi orang sakti, dengan kesaktiannya ia bisa menumpas kejahatan. Oleh karena jasanya menumpas kejahatan, ia oleh Belanda diangkat menjadi mandor perkebunan pabrik gula di daerah Demak Ijo. Di kemudian hari ia dikenal sebagai Demang Cokrodikromo. Dalam kehidupan sehari-hari, Demang Cokrodikromo selalu melakukan laku prihatin, tidak makan garam. Setiap malam hari ia melakukan tapa bisu mengelilingi rumah. Ia mandi hanya setahun sekali, yaitu pada tanggal 7 malam 8 bulan Sura di sumur belakang rumahnya. Demang Cokrodikromo juga suka memberi hidangan pada tamu yang datang padanya, hidangan khasnya adalah kendhi ijo; nasi dilengkapi lauk pauk berupa sayur tholo dan gudhangan bumbu tumbuk, yang dibungkus dengan daun pisang berwarna hijau. Kebiasaan Ki Demang kemudian dilestarikan oleh anak cucunya. Masyarakat berdatangan dari berbagai daerah ke sumur peninggalan Ki Demang dengan harapan mendapat berkah. Dinamakan upacara adat Suran Modinan karena upacara ini selalu dilaksanakan setiap tahun pada bulan Sura. Upacara adat ini dilaksanakan di sumur bekas tempat mandi Ki Demang Cokrodikromo yang terletak di Dusun Modinan, Desa Banyuraden, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Upacara adat suran Modinan dilaksanakan setiap bulan Sura, pada tanggal 7 tengah malam menjelang tanggal 8 Sura. Dilaksanakan pada tengah malam, karena dipercaya pada masa dahulu Ki Demang juga melakukannya di tengah malam setelah mendapatkan wangsit. Upacara adat Suran Modinan dilaksanakan untuk menghormati sesepuh atau leluhur desa Modinan yaitu Ki Demang Cokrodikromo. Selain itu masyarakat yang hadir ingin mendapatkan berkah dan kesehatan dengan mandi di sumur peninggalan Ki Demang Cokrodikromo. Deskripsi: 1.Upacara Suran Modinan merupakan penghormatan masyarakat Dusun Modinan atas jasa dari Demang Cokrodikromo. 2.Demang Cokrodikromo bernama kecil Asrah anak dari seorang bekel yang dititipkan pada Demang Dowangan. 3.Berkat kesaktiannya, Demang Cokrodokromo oleh Belanda diangkat menjadi mador di perkebunan tebu di daerah Demak Ijo. 4.Di masa hidupnya Demang Cokrodikromo suka laku prihatin, tidak makan garam. 5. Beliau hanya mendi sekali di bukan Sura yaitu tanggal 7 malam. 6.Di sumur yang berada di belakang rumahnya. 7.Suka menolong orang dan memberi makan orang yang datang ke rumahnya. 8. Makanan yang sering di hidangkan pada tamu yang datang adalah sayur tela dan gudangan bumbu tumbuk. 9.Kebiasaan tersebut kemudian diteruskan oleh anak cucuk dan masyarakat setempat dengan mengadakan upacara setiap bulan Sura. 10.Upacara tersebut dapat memotifasi generasi muda, supaya jangan mudah putus asa dalam usahanya meraih kesuksesan.