Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaLedre - Bojonegoro, Jawa Timur
Sejarah : Menurut penuturan informan, awalnya ledre adalah makanan yang dibuat warga keturunan (Tiongkok) Desa Padangan pada jaman penjajahan sebelum kemerdekaan Indonesia, untuk mengisi perut saat bahan makanan sulit didapat yang dibuat dari bahan tepung gaplek. Perintis pembuat ledre adalah Mak Sinem, nenek ibu Endang Sulastri. Sayang, nama Mak Sinem yang mengembangkan ledre pertama tidak diketahui keberadaannya, karena pada perang kemerdekaan yang memisahkan keluarga mereka. Jadi, bila dihitung ibu Endang Sulastri adalah generasi ke empat dari keturunan pembuat ledre pertama Bojonegoro. Pembuat ledre hingga tahun 1990 an akhir produsen ledre hanya keluarga beliau. Namun, masa reformasi perkembangan pembuat ledre makin berkembang karena dukungan pemerintah daerah yang mengadakan pelatihan pembuatan ledre melalui PKK dan juga bantuan pengembangan ledre di wilayah Bojonegoro. Deskripsi : Bahan pokok ledre dahulu pakai tepung gaplek, namun setelah tepung beras mudah didapat hingga sekarang menggunakan tepung beras. Selain tepung beras, resep membuat ledre bahanya adalah pati (tepung tapioka), gula, santan, suwiran pisang raja. Pembuatan ledre memerlukan wajan sebagai pemanas adonan ledre. Wajan yang digunakan wajan khusus (baja), dengan bahan bakar berupa arang. Adapun adonan ledre terdiri dari bahan-bahan tersebu. Khususnya bahan pisang raja diiris-iris, karena selain untuk penguat rasa pisang, juga sebagai pelemas ledre. Setelah adonan jadi, kemudian dituangkan ke wajan yang sudah panas, selanjutnya diratakan dengan kuas (di edre-edre), diberi irisan pisang raja dan setelah kering diangkat langsung digulung. Pada awalnya ledre hanya rasa pisang, tetapi sekarang rasa ledre macam-macam seperti rasa coklat, durian, dan rasa buah-buahan yang lain. Ledre buatan ibu Endang Sulastri tetap memakai bahan alami, dengan buah-buahan alami, tidak menggunakan bahan perasa buah. Disamping itu, tetap menggunakan kemasan lama, berupa kardus putih polosan. Berbeda dengan pembuat ledre yang belum lama, ada yang mengguna-kan bahan perasa buah, dan dikemas cukup mencolok dan menarik. Menurut ibu Endang Sulastri, dulu pernah dicoba dengan kemasan yang menarik. Namun, menurut konsumen malah minta untuk tetap menggunakan ciri khas lama dengan kemasan polos, yang menunjukkan awal pembuatan ledre di Bojonegoro. Ledre produksi ibu Endang Sulastri bekerjasama dengan warga sekitar, dengan membuat ledre di rumah masing-masing, yang hasilnya disetorkan ke ibu Endang Sulastri. Produksinya ada tiga ukuran kardus dengan isi satu bungkus 20 biji, yaitu ukuran kecil isi 40 biji , ukuran sedang isi 80 biji, dan ukuran besar isi 140 biji.