Kerajinan Gerabah - Bojonegoro, Jawa Timur

Data Teknis
KategoriWarisan Budaya
Kategori SubWarisan Budaya
No Inventaris-
NamaKerajinan Gerabah - Bojonegoro, Jawa Timur
Karya BudayaKemahiran Kerajinan Tradisional
Karya Budaya SubKerajinan Tradisional
Kondisi Saat IniSudah Berkurang
Status BudayaPencatatan
Pelaku KomunitasMoh. Zear
Pencatat Karya BudayaDrs. Sukari
NarasumberSumber lisan dari pelaku bapak Moh. Zear (67 tahun)
ProvinsiJawa Timur
Kabupaten/KotaKAB. BOJONEGORO
Penginput DataJuliana Amalia Warman
Sejarah : Sejak orang tua dulu yang semula membuat genteng, kemudian beralih kerajinan gerabah terutama berupa celengan (untuk menyimpan uang). Awalnya yang mulai membuat nenek moyang namanya Mbah Kaliyo sekitar tahun 1940 an. Ide membuat kerajinan muncul setelah melihat tanah di hutan dapat dibuat gerabah. Semula bentuk ayam, waluh, terutama kendhi yang masih kecil-kecil. Kerajinan gerabah berupa celengan ini mulai berubah menjadi besar tahun 1970 an, jumlahnya sekitar 50 perajin, sekarang sekitar 100 orang. Deskripsi : Bahan baku untuk kerajinan gerabah dari tanah liat yang diambil dari daerah pegunungan. Membuat kerajinan gerabah ini seninya membuat atau mengarang sendiri. Pengalaman menjadi perajin juga pernah ikut pelatihan di Kasongan Yogyakarta tahun 1977. Pengambilan bahan baku dengan transport sepeda karena lokasi di daerah gunung. Bila membeli bahan baku ini satu angkutan sepeda 30 ribu rupiah (tiga sak pupuk). Jenis produksi atau hasil kerajinan berupa macan, singa, gajah, sapi, kuda dan lainnya. Pemasaran hasil kerajinan waktu masih muda hampir wilayah Jawa, sekarang dipasarkan anaknya. Kadang dipasarkan sendiri seperti acara Dhugderan di Semarang, Cembengan (giling tebu) di PG Madukismo Bantul Yogyakarta. Harga jual berupa hewan yang besar mencapai 100 ribu rupiah per biji., dan yang paling kecil 10 ribu rupiah. Sebagian hasil kerajinan ada yang dibeli bakul (pengepul) masih kondisi mentah, kemudian dibakar sendiri. Peralatan berupa merbot. Cara membuat, tanah dijemur (dikeringkan) terus rendam seharai semalam, dicampur pasir (2:1), baru kemudian di molen (digiling). Hasil membuat sehari paling 1 jenis hewan, karena harus bertahap seperti membuat kaki, kepala sendiri (dicetak), baru digabung pada saat masih basah.