Upacara adat Jangkrik Genggong - Pacitan, Jawa Timur

Data Teknis
KategoriWarisan Budaya
Kategori SubWarisan Budaya
No Inventaris-
NamaUpacara adat Jangkrik Genggong - Pacitan, Jawa Timur
Karya BudayaAdat Istidat Masyarakat
Karya Budaya SubUpacara Tradisional
Kondisi Saat IniMasih Bertahan
Status BudayaPencatatan
Pelaku KomunitasMoch. Ali (Paguyuban Jangkrik Genggong)
Pencatat Karya BudayaDra. Sumintarsih, M.Hum.
Narasumberhttp://regional.kompasiana.com/2014/05/ wawancara dengan R.Katno, S.Sos, MM, Kasi Kesenian Sejarah dan Nilai Tradisi Disparbudpora Pacitan
ProvinsiJawa Timur
Kabupaten/KotaKAB. PACITAN
Penginput DataDwi Hastuti, S.Pd.
Sejarah: Kapan tradisi ini muncul tidak ada yang tahu. Tradisi ini turun-temurun sejak dulu. Jangkrik Genggong dilaksanakan oleh masyarakat Desa Sidomulyo Kecamatan Ngadirojo yang terletak di pesisir pantai. Mayoritas penduduknya adalah nelayan. Menurut mitosnya, Sang Ratu Penguasa Pantai Selatan selalu meminta Gendhing Jangkrik Genggong kepada sesepuh desa (dukun). Itulah sebabnya, upacara adat ini disebut Jangkrik Genggong. Gadhung Mlati sendiri merupakan salah satu bagian dari Cerita Rakyat Jangkrik Genggong yang dipercaya di daerah Dusun Tawang, Desa Sidomulyo, Kecamatan Ngadirojo, Pacitan. Nama Gadhung Mlathi dipercaya merupakan anak dari Kanjeng Ratu Kidul yang merupakan penjaga di salah satu danyangan di daerah Tawang. Masyarakat di sekitarnya harus menyediakan sesaji agar sang Gadhung Mlathi tidak terganggu. Hal ini terkait keyakinan warga sekitar bahwa jika Gadhung Mlathi terganggu, ia akan mengamuk dan merasuki warga di sekitarnya. Oleh karena itu dilaksanakanlah ritual bersih desa yang menyediakan sesajen lengkap dengan iringan tayub. Masyarakat Tawang meyakini bahwa setelah dilaksanakannya ritual bersih desa dan larung sesaji ini, panen ikan para nelayan akan melimpah. Diskripsi: Jangkrik Genggong dilaksanakan oleh masyarakat Desa Sidomulyo Kecamatan Ngadirojo yang terletak di pesisir pantai. Mayoritas penduduknya adalah nelayan. Upacara Adat Jangkrik Genggong merupakan upacara mewisuda anak laki-laki sebagai tanda bahwa anak tersebut telah beranjak dewasa. Usai dilaksanakan upacara adat ini, si anak baru boleh turun ke laut untuk berlayar. Dalam pelaksanaan tradisi ini selalu ada ikan kakap merah sebagai hidangan wajib yang harus disajikan. Pada malam puncaknya, selalu dilaksanakan pagelaran seni Tayub dan menurut mitosnya, Sang Ratu Penguasa Pantai Selatan selalu meminta Gendhing Jangkrik Genggong kepada sesepuh desa (dukun). Itulah sebabnya, upacara adat ini disebut Jangkrik Genggong. Kisah Gadhung Mlati yang mistis itu selanjutnya dituangkan dalam gerak penari diiringi oleh tabuhan gamelan. Setiap malam Suro, warga di desa tersebut mengadakan upacara adat, yaitu pesta tumpengan dan mengadakan pertunjukan tari jangrik genggong. Tarian jangkrik genggong diiringi musik sekelompok orang yang memainkan musik gamelan, dan beberapa penari wanita menari mengikuti irama musik. Sang penari, sampai kerasukan roh halus dan bertingkah yang tidak wajar. Warga desa, setiap tahun menjalani kegiatan tersebut, dan mewariskan tradisi turun temurun. Nenek moyang mereka menjalani upacara tersebut,karena di daerah itu terdapat sebuah sumur tua dekat pohon beringin yang sangat besar. Mereka percaya sumur tersebut dihuni makhluk halus yaitu seorang penari cantik, warga percaya yaitu dengan mengadakan upacara jangkrik genggong. Agar penunggu yang dikeramatkan tersebut tidak marah dan mendatangkan bencana.