Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaBlangkon - Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta
Sejarah: Blangkon atau udeng adalah kain penutup kepala tradisional kaum pria Jawa yang digunakan sebagian pelengkap busana tradisional. Bagi orang Jawa keberadaan blangkon bukan hanya sekadar untuk menutupi kepala dari panasnya matahari atau dinginnya udara malam, melainkan juga sebagai simbol status bagi pemakainya. Dalam perkembangan selanjutnya fungsi blangkon sudah mengalami pergeseran menjadi benda seni dan budaya, cinderamata, atau barang koleksi. Ada beberapa versi mengenai asal usul blangkon di tanah Jawa. Versi pertama yang didasarkan pada legenda Aji Soko mengatakan bahwa blangkon yang dahulu masih berbentuk iket kepala telah dipakai oleh Ajo Soko ketika ia berhasil mengalahkan Dewata Cengkar, raksasa penguasa tanah Jawa. Waktu itu, Aji Soko yang kemudian dikenal sebagai pencipta dan perumus permulaan tahun Jawa, menggelar iket kepalanya hingga menutupi seluruh tanah Jawa dan membunuh Dewata Cengkar. Versi kedua menyatakan bahwa pemakaian blangkon merupakan pengaruh dari budaya Hindu dan Islam yang diadopsi oleh orang Jawa. Orang-orang pembawa ajaran Islam yang berasal dari daratan Tiongkok dan Gujarat dahulu sering mengenakan sorban atau kain panjang dan lebar yang diikatkan pada kepala. Sorban inilah yang menginspirasi orang Jawa untuk membuat iket kepala yang akhirnya berkembang menjadi sebuah blangkon. Sedangkan versi yang lainnya lagi menyatakan blangkon diciptakan karena adanya krisis ekonomi akibat peperangan. Waktu itu, untuk efisiensi para petinggi di keraton Jawa meminta para seniman untuk menciptakan iket kepala dengan bahan yang hanya separuh dari iket kepala sebelumnya. Dan, iket kepala model baru yang “hemat” kain tersebut kemudian disebut sebagai blangkon. Deskripsi: Peralatan dan Bahan Pembuat Blangkon Peralatan yang digunakan dalam proses pembuatan blangkon diantaranya adalah: kelebut, papan, gunting, jepitan, pemuluk, jarum, congkeng, capi, dan solet. Sedangkan bahannya adalah: kain batik atau polos, kertas karton, dan benang. Sebagai catatan, ukuran kain atau iket atau destar biasanya disebut sekacu (kacu=sapu tangan) yakni kira-kira 105 sentimeter persegi untuk batik kejawen dan 95 sentimeter persegi untuk batik Pesisiran. Kain sekacu ini nantinya hanya digunakan setengahnya saja dalam bentuk segitiga sama kaki. Proses Pembuatan Blangkon Tahap-tahap pembuatan blangkon adalah sebagai berikut. Sebelum kain dibentuk menjadi blangkon dilakukan kegiatan mewiru, yaitu membasahi, membalik-balik, dan melipatnya dengan ukuran yang sama. Proses mewiru ini dilakukan dua kali, pertama dalam keadaan lembab dan setelah kain diletakkan di congkeng dalam keadaan kering. Pengerjaan mewiru pada saat kain telah kering dilakukan dengan menggunakan alat yang disebut capi dan solet kemudian dijahit. Proses selanjutnya adalah mencetak atau mblangkon, yaitu merapikan, menjahit bagian-bagian ujung kain, membentuk mondolan dan lain sebagainya. Pekerjaan mbangkon dilakukan di atas sebuah landasan kayu bulat sebesar kepala orang yang disebut klebut. Ukuran klebut bervariasi menurut besar kecilnya blangkon yang berkisar antara 48-56 sentimeter. Setelah proses mblangkon selesai, pekerjaan selanjutnya tinggal merapikan dan membersihkan blangkon dengan cara memukul-mukul bagian yang belum lengket benar, menggunting benang-benang yang berserabutan dan membersihkannya dari lem atau kotoran lainnya. Kemudian, blangkon disikat dan ditaruh pada klebet khusus yang terbuat dari karton agar tidak mengempis.