Data Teknis
| Kategori | Warisan Budaya |
| Kategori Sub | Warisan Budaya |
| No Inventaris | - |
| Nama | Upacara Tradisional Petik Laut - Jember, Jawa Timur |
| Karya Budaya | Adat Istidat Masyarakat |
| Karya Budaya Sub | Upacara Tradisional |
| Kondisi Saat Ini | Sedang Berkembang |
| Status Budaya | Pencatatan |
| Pelaku Komunitas | Komunitas larung sesaji Papuma |
| Pencatat Karya Budaya | Dra. Dwi Ratna Nurhajarini, M.Hum. |
| Narasumber | - “Larung Sesaji Papuma, Tradisi Masyarakat Jember†http://jawatimuran.wordpress.com/2012/10/24/ritual - “ Barongsai dan Wayang Kulit di Larung Sesaji Papumaâ€, Sumber : www.kphjember.com - - - - |
| Provinsi | Jawa Timur |
| Kabupaten/Kota | KAB. JEMBER |
| Penginput Data | Risma Alifatun Nada |
Sejarah:
Ritual larung sesaji Pantai Pasir Putih Malikan, termasuk dalam upacara yang belum lama digelar oleh masyarakat Wuluhan. Kegiatan tersebut baru dimulai pada tahun 2006. Walaupun begitu, masyarakat setempat telah memiliki sebuah system tradisi yang telah berkembang sejak lama yakni selamatan. Pada prinsipnya, ritual tersebut adalah sebuah selamatan yang digelar secara komunal oleh masyarakat yang tinggal di sekitar pantai Malikan. Tujuan upacara tersebut adalah untuk mohon keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dari tradisi selamatan yang sering dilakukan oleh warga, kemudian dibuatlah sebuah upacara yang dapat menyatukan berbagai elemen seperti dari kalangan Islam, Konghucu, Nasrani, Budha. Elemen itu juga tampak dari kalangan pegawai, petani, pedagang, seniman. Dengan kapasitasnya masing-masing ikut berpartisipasi dalam acara ritual. Larung sesaji adalah ungkapan syukur. Caranya, menyisihkan rezeki untuk menyelenggarakan larung sesaji tersebut. Dengan menyisihkan sebagian rezeki tersebut, masyarakat setempat berharap di tahun-tahun mendatang bisa mendapatkan rezeki yang melimpah dari yang sebelumnya.
Deskripsi:
Larung sesaji padasaranya mirip dengan upacara petik laut. Sepotong kepala kambing diletakkan di atas miniatur kapal dan diarak bersama-sama menuju samudera. Para pengaraknya memakai pakaian adat Jawa, dengan iringan reog Singo Budoyo. Mereka memasuki pekarangan vihara, dan berhenti di salah satu ceruk tempat sesaji. Di ceruk vihara itu, doa dilantunkan untuk sesaji, sebelum dibawa ke pantai. Di tengah pantai Papuma, sejumlah sesepuh dan pemimpin vihara men¬dorong ‘kapal’ sesaji itu ke tengah laut. Selain itu, rombongan tersebut juga dikirab dengan barisan hadrah, reog, serta barongsai. Oleh karena itu, suasana kirab lebih meriah dan mampu menarik perhatian pengunjung.
Sesaji tersebut dibawa ke Siti Inggil, tempat tinggi di Papuma untuk dilakukan ritual doa. setelah itu, dibawa melewati pantai Malikan menuju Gua Sri Wulan. Di gua tersebut juga dilakukan hal yang sama seperti di Siti Inggil. Kemudian, setelah ritual pembacaan doa selesai, tepat pukul 12.30 sesaji dilarung ke tengah laut.
Sesaji itu adalah perwujudan rasa syukur masyarakat nelayan di Jember bagian selatan, atas melimpahnya panen ikan. Mereka berharap, panen ikan terjadi sepanjang tahun. Larung sesaji itu sejatinya sebagai bentuk ikhtiar agar masyarakat nelayan serta petugas lebih giat bekerja untuk kemajuan Papuma
Larung sesaji yang dilakukan oleh masyarakat di Wuluhan, Ambulu, Jember dapat dikatakan sebagai lukisan harmoni masyarakat Jember selatan. Seniman, jagawana, polisi, tokoh adat, tokoh agama, dan penjaga vihara, semua ikut berpartisipasi dalam ritual tersebut. Dalam acara ritual larung sesaji juga menampilkan seni tradisi yang hidup di masyarakat, seperti, reog, barongsai, jaranan, can macanan kadhuk, menjadi pi¬lihan dalam acara hiburan. Pada malam sebelum acara ritual larung sesaji, wayang kulit sudah digelar. Bagi sebagian kalangan, larung sesaji adalah perpaduan atau sinkretisme se¬jumlah elemen agama: Islam, kejawen, Konghucu. Acara ini sudah digelar sejak tahun 2006, dan terus berlanjut sampai sekarang. Da¬lam perkembangannya semakin banyak masyarakat dan wisatawan yang tertarik pada upacara ini. Tentu saja, ini aset wisata budaya yang unik dan menarik. Tak hanya mempromosikan keindahan, tapi juga makna kedamaian sebuah perbedaan dalam masyarakat yang beragam.
Arti penting ritual larung sesaji antara lain:
- Wadah untuk komunikasi antar warga
- Harmoni dalam keberagaman di Jember
- Saling menghormati dalam perbedaan
- Kohesi social di masyarakat
- Kerukunan dan persatuan