Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaTari Bedhaya Semang - Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta
Sejarah: Dalam Babad Nitik disebutkab bahwa Bedhaya Semang diciptakan oleh tokoh mitos yaitu Ratu Kidul/Ratu Selatan. Yang memberi nama adalah penguasa kerajaan Mataram, yaitu Suyltan hamengku Buwono I. Sultan HB I memerlukan kelengkapan pengesahan sebagai sarana legitimasi. HB I sebagai raja Kasultanan Ngayogyakarta yang pertama mempelopori lahirnya tari klasik gaya Yogyakarta. Tari Bedhaya Semang disakralkan di Keraton Yogyakarta merupakan reaktualisasi hubungan mistis antara keturunan Panembahan Senapati dengan penguasa Laut Selatan (kangjeng Ratu Kidul). Reaktualisasi dari hubungan mistis antara penguasa laut selatan dengan Panembahan Senapati itulah yang kemudian menjadi ide dalam Tari Bedhaya Semang. Deskripsi: Tari Bedhaya Semang merupakan tarian pusaka kraton yang ditarikan dengan lembut, lemah gemulai, halus, penuh penghayatan, sarat akan nilai ritual yang magis dengan iringan gendhing kemanak dan menjadi bernuansa magis dan penuh keagungan. Sebagai pusaka kerajaan Bedhaya Semang diperlakukan khusus dibandingkan tarian bedhaya lainnya. Hal itu dapat dilihat pada proses rekonstruksi bentuk yang dilakukan pada tahun 2000-2002. Untuk mengawali kegiatan besar itu keratin melakukan upacara dengan mengirim sesaji ke makam Kotagede, Imogiri, Parangkusum, dan Gunung Merapi. Karena ditempatkan sebagai pusaka, maka semua yang berkaitan dengan bedhaya juga memiliki berbagai aturan dan laku khusus. Fungsi tari Bedhaya Semang adalah sebagai tuntunan atau pendidikan moral. Hal ini tampak pada simbol-simbol yang terdapat pada gerak tari, pola lantai, tat arias, dan tata busananya.