Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaBatik Pemakasan - Pemakasan, Jawa Timur
Sejarah: Batik Madura adalah salah satu bentuk seni budaya, batik tulis Madura banyak diminati dan populer dengan konsumen lokal dan internasional..Kebanyakan orang mengenal batik tulis Madura dengan karakter yang kuat, yang dicirikan dengan warna yang berani (merah, kuning, hijau muda). Tapi jarang yang mengetahui bahwa batik Madura mungkin telah lebih dari seribu motif dan paling terkemuka di pasar batik di indonesia maupun mancanegara. .Di Pulau Madura sendiri sudah sejak lama dikenal sejumlah sentra kerajinan batik. Misalnya di Kabupaten Pamekasan, sejak jaman dulu banyak perajin dan pengusaha batik bermukin dan mengembangkan usaha batiknya di wilayah tersebut. Sampai saat ini Kabupaten Pamekasan dikenal sebagai salah satu sentra industri kerajinan Batik di Pulau Madura. Karena, dibandingkan dengan kabupaten-kabupten lain di Pulau Madura, Kabupaten Pamekasan inilah yang paling banyak dihuni para perajin dan pengusaha batik.Tradisi mengenai kain batik yang tertanam cukup kuat di kalangan masyarakat Madura telah membuat budaya membatik dan memakai kain batik terpelihara dengan baik di kalangan mereka. Bahkan ketika kain batik belum sepopuler sepertisekarang ini, masyarakat Madura tetap memproduksi dan mengenakan pakaian batik, karena batik merupakan bagian dari adat dan budaya mereka sehari-hari. Pada 24 Juli 2009 Pemkab Pamekasan membuat terobosan dengan mencanangkan kota terse but sebagai kota batik yang ditandai dengan kegiatan “Pamekasan Membatik” yang digelar di sekitar monument Arek Lancor. Kegiatan yang masuk dalam catatan Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI) tersebut diikuti 600 pembatik, dengan panjang kain 1.530 meter, angka sesuai dengan hari jadi Kabupaten Pamekasan. Sejarah batik Madura mulai dikenal masyarakat luas pada abad ke 16 dan 17. Hal ini bermula ketika terjadi peperangan di Pamekasan Madura antara Raden Azhar (Kiai Penghulu Bagandan) melawan Ke Lesap. Raden Azhar merupakan ulama penasihat spriritual Adipati Pamekasan yang bernama Raden Ismail (Adipati Arya Adikara IV). Sedangkan Ke Lesap merupakan putera Madura keturunan Cakraningrat I dengan istri selir.Dalam peperangan itu, Raden Azhar memakai pakaian kebesaran batik dengan motif parang atau dalam bahasa Madura disebut motif leresyakni kain batik dengan motif garis melintang simetris. Ketika memakai kain batik motif parang, Raden Azhar memiliki kharisma, tampak gagah berwibawa. Sejak itulah, batik menjadi perbincangan di kalangan masyarakatMadura, terutama pembesar-pembesar di Pamekasan. Di Jogjakarta dan Solo, kain batik motif parang merupakan pakaian kebesaran para raja. Konon, rakyat biasa pantang memakai. Itu dulu, sekarang bolehlah asal tidak dipakai saat bertemu raja. Misalnya, untuk kondangan atau menghadiri rapat. Tokoh penting yang mengenalkan kain batik ke Madura adalah Adipati Sumenep, Arya Wiraraja yang merupakan sekutu dekat Raden Wijaya, pendiri kerajaan Majapahit. Motif batik madura memiliki keunikan tersendiri yang tidak dimiliki oleh batik dari daerah lain. Ciri khas batik Madura sebagai usaha rumahan yang mudah dikenali adalah selalu terdapat warna merah dalam motif bunga atau daun. Beberapa kalangan menilai, ada kesamaan motif kain batik Madura dan Jogjakarta. Adanya kesamaan motif kain batik Madura dan Jogjakarta karena ada hubungan darah antara rajaMataram dengan para pembesar di Madura. Kerajaan Bangkalan pada zaman raja Cakraningrat I adalah bawahan Kesultanan Mataram yang dipimpin Sultan Agung. Perjalanan sejarah batik Madurasaat ini boleh dikatakan mencapai kejayaan, apalagi dengan pencanangan Hari Batik Nasional tanggal 2 Oktober oleh Presiden Susilo Bambang Yudoyono. Para pengrajin batik setelah peresmian jembatan Suramadu di sentra-sentra batik Madura mengalami kegairahan membatik. Seperti sentra batik tulis Tanjung Bumi di Bangkalan, sentra batik tulis Banyumas Klampar, Pamekasan, dansentra batik tulis Pakandangan Sumenep.Seiring dengan selesainya pembangunan jembatan suramadu, Pemkab Pamekasan bahkan menetapkan desa Banyumas Klampar kecamatan Proppo sebagai desa batik. Tak hanya itu, sebuah pasar batik terbesar di dunia (dilihat dari jumlah pedagang batik) juga telah dibuka. Deskripsi: Kain batik tulis khas Madura yang bertahan dengan motif flora dan fauna itu sering digunakan sebagai bingkisan. Harga kain berballan sutra kelas menengah itu sekitar Rp 500 ribu. Sedangkarrbatik sutra kelas super Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta. Mbah Maryam (76) perajin bati mengatakan, motif fauna sering digambarkan seperti dedaunan dan bunga. Untuk motif fauna ditorehkan seperti kepala, sayap dan ekor ayam. Motif flora dan fauna itu direfleksikan menjadi motif Segar Jagat, Kenari, Jago Kluruk, Mata Ikan, dan motif Sabat.Dua motif ini sering dipakai Iantaran para perajin secara turun temurun bermukim di kawasan pertanian. Masih terawatnya motif yang lekat dengan flora dan fauna, boleh jadi karena budaya warisan leluhur. Indikasinya, lembaran batik tulis ini digarap oleh keluarga besar, Mereka terdiri dari nenek, anak bahkan cucu. Tiga generasi kerja bareng dalam satu pondok. Membatik dengan satu tungku berisi cairan malam. Seperti dilakukan keluarga Maryam yang dibantu Suhimah (45), anaknya. Begitu pula Suhimah (23), anak Suhimah yang tak lain cucu Maryam. bergabung membatik dalam satu pondok. Mereka telah membatik sejak Indonesia belum merdeka,” ujar Mbah Maryam. Cara membatik seperti itulah yang menjadikan motif flora dan fauna tetap terpelihara dengan baik sebagai ciri khas. Puluhan keluarga di Desa Klampar melakukan pekerjaan yang sama. Para pembatik ini menggarap seluruh proses pembatikan. Usai pembatikan, tembaran kain ini masuk proses pewarnaan. Tiga warna primer. Menjadi pilihan favorit, yakni warna merah. hijau. dan Kuning. Setelah pewarnaan, masuk tahap pelorotan atau membersihkan cairan malam yang memadat dan menempel di kain. Ini dilakukan dengan cara mencelupkan kain ke dalam drum berisi air panas di atas tungku api kayu bakar. Terakhir. lembaran kain batik ini dibilas dengan air bersih lalu dijemur.