Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaUpacara Merti Dusun Goa Cerme - Kab. Bantul, D.I. Yogyakarta
Sejarah: Upacara Merti Dusun Goa Cerme merupakan tradisi yang dilaksanakan secara turun temurun. Upacara dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukukur atas rijeki yang diteima dan permohonan agar penduduk mendapat perlindungan, dan dijauhkan dari malapetaka. Upacara Merti Goa Cerme dilaksanak setiap tahun sekali yaitu pada hari Minggu Pahing di bulan Besar atau bulan Dzulkijah. Adapun yang melatarbelakangi dilaksanakannya Upacara Merti Dusun Goa adalah 1. Adanya mitos atau legenda yang berkembang di masyarakat Selopamioro. Dahulu kala ada seorang baginda raja yang bernama Raja Hanaryo Rendra dari Kerajaan Girillaya. Raja sangat sedih karena rakyat di wilayah jajahannya terserang musibah. Pada suatu hari ada penasehat raja yang menyarankan agar penduduknya membersihkan desa dari segala malapetaka yang dialaminya. Disamping mitos tersebut Upacar Jodhangan dilaksanakan berkaitan dengan adanya tokoh yang dianggap cikal bakal Dusun Srunggo dan para walisanga. Dahulu kala penduduk setempat berkeyakinan bahwa Goa Ceme pernah dijadikan sebagai ajang pertemuan para wali. 2. Di dalam gua tetempat-tempat keramat yang bernilai magis dan sering digunakan sesorang untuk ngalap berkah atau nenepi. 3. Adanya mata air yang terdapat di dalam gua yang tidak pernah kering yang dimanfakan oleh penduduk setempat untuk mengairi pertaniannya dan juga untuk kebutuhan air minum seharihari. 4. Dipilihnya Goa Ceme sebagai tempat pelaksanaan upacara karena sekaligus untuk mempromosikan sebagai tempat tujuan wisata. Deskripsi: Upacara Merti Dusun Goa Cerme merupakan tradisi yang dilaksanakan secara turun temurun di Dusun Srunggo, Desa Selopamioro, Kecamatan Imogiri, Bantul. Maksud dan tujuan upaca sebagai ungkapan rasa syukur atas rijeki yang diterima dan permohonan agar penduduk mendapat perlindungan, dan dijauhkan dari malapetaka. Upacara Merti Dusun Goa Cerme dilaksanak setiap tahun sekali yaitu pada hari Minggu Pahing di bulan Besar atau bulan Dzulkijah, bertempat di pelataran Gua Cerme. Peralatan sesaji berupa jodhangan yang berbengtuk limasan yang berisi sesaji yang dihiasi dengan sayuran yang merupakan hasil pertanian warga Srunggo. Selain itu juga berupa makanan dan minuman dan juga daun pisang sebagainkeperluan makan. Adapun sesaji berupa : nasi gurih, ayam ingkung, jajan pasar, pisang sanggan, sekar konyoh, tumpeng megonon, nasi liwet. Golong lalut, ndas kebo dan ntumpeng robyong. Jalannya upcara Merti Dusun adalah : Pagi hari menjelang pelaksanaan upacara dilakukan persiapan upacara baik yang berkaitan dengan tempat penyelenggaraan upacara maupun sarana/uba rampe pelaksanaan upacara. Upacara dimulai pukul 10 WIB diawali dengan pembukaan, dilanjutkan dengan Selawatan dan sambutan-sambutan baik dari Kepala Desa juga dari instansi terkait lainnya. Kemudian dilanjutkan dengan do’a dan diikuti dengan Pembacaan para warga yang mempunyai nadar sesuatu yang dibarengkan dengan pelaksanaan upacara. Acara diakhiri dengan makan secara bersama-sama bagi siapa saja yang hadir dilokasi upacara. Makna yang terkandung pada upacara merti dusun di Gua Cerme yaitu bahwa dalam pelaksanaan upacara adalah terkandung makna solidaritas, makna kegotongroyongan,makna kebersamaan dan makna selalu mengingat Tuhan yang Maha Kuasa.