Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Tradisi Ritual Samman - Pamekasan, Jawa Tengah |
Sejarah:
Pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19 di beberapa bagian pulau Madura terdapat hiburan rakyat yang populer disebut dengan samman. Samman tersebut dimungkinkan berasal dari ritualritual sufi tarekat sammaniyah, yang juga terdapat di Banten dan Aceh Tarekat Sammaniyah dalam masyarakat Madura lebih dikenal dengan istilah samman, yang selalu dikaitkan dengan seorang tokoh yang bernama Syekh Muhammad Abdul Karim al-Sammani sebagai pendiri tarekat Sammaniyah
Tradisi ritual samman sebenarnya tetap eksis di empat kabupaten yang ada di Pulau Madura, walaupun frekuensi tradisi ritual samman sekarang telah berkurang. Salah satu penyebabnya tentu sudah bisa ditebak, yaitu perkembangan jaman dengan budaya modernismenya dan perkembangan industri dengan penemuan sains-teknologi yang begitu cepat merasuki kehidupan keseharian masyarakat Madura, sehingga bentuk kesenian tradisonal, seperti samman menjadi termarjinalkan.
Deskripsi:
Tradisi ritual samman pada masyarakat Madura merupakan bentuk kesenian tradisional yang menampilkan aspek gerak dan suara. Tradisi inidi samping memuat unsur nilai estetis, juga mengandung nilai religius. Prosesi ritual samman selalu berisi pujian terhadap Allah swt secara berulangulang. Seluruh prosesi tradisi ritual samman telah lama dipraktikkan secara turun-temurun memiliki tiga aspek penting, yaitu bacaan, gerakan, dan formasi. Salah satu prosesi tradisi ritual samman adalah suara yang ditampilkan merupakan lantunan pujian suci (dzikir) yang dilantunkan secara berulang-ulang, berirama, dan bersama-sama dalam satu kelompok. Di antara dzikir yang selalu diucapkan adalah kalimat “lâ ilâha illallâhdan Allâh Allâh”. Dzikir tersebut seringkali berkolaborasi dengan alat-alat musik seperti gendang dan rebana. Prosesi lainnya adalah gerakan tarian ayunan tubuh yang disertai ayunan tangan sambil bertepuk tangan. Lantunan dzikir yang dilafadzkan selalu seirama dengan tepukan tangan dan gerakan tubuh yang diayun. Suasana sakral semakin terasa setelah sekian lama prosesi berlangsung. Sementara posisi gerakan kaki biasanya selalu bergerak ke depan dan ke belakang dalam posisi kaki menyilang bergerak bergeser ke samping dengan bentuk formasi melingkar, sehingga selalu terlihat gerakan pergeseran yang tetap dalam formasi melingkar.
Tradisi ritual samman sebagian besar berisi dzikir kepada Allah swt, yang dilaksanakan dalam berbagai kesempatan penting. Dzikirt diucapkan dengan suara keras sambil diiringi dengan bunyi-bunyian. Salah satu keistimewaan tarekat Sammaniyah dalam berdzikir adalah dengan ucapan lâ ilâha illâ Allâh dilagukan, dan kemudian berganti pada bacaan Hu, Hu, Hu, yang artinya Dia, Dia, Dia (Allâh).9 Tradisi ritual samman dilaksanakansedikitnya 5 babak (ghâbhâk), masing-masing babak memiliki formasi yang berbeda. Babak pertama formasinya dimulai dengan posisi duduk di atas lutut seperti posisi tasyahud awal dalam shalat dengan formasi membentuk lingkaran sambil bertepuk tangan secara teratur, bergantian mengiringi irama bacaan, bertepuk secara serentak ketika sedang melafadzkan kalimat “Allâh”. Formasi tersebut berlangsung selama kurang lebih 15 menit. Kemudian dilanjutkan dengan posisi berdiri membentuk lingkaran, sesekali formasi lingkaran agak menguncup ketika posisi menghadap ke depan dan agak melebar ketika sedang menghadap ke belakang. Pada posisi inilah ada seorang pemimpin yang mengatur irama tepuk tangan selama 15 menit dan diakhiri dengan kalimat-kalimat pujian dan shalawat kepada Rasulullah (Allâhumma shalli alâ Muhammad).Sepanjang babak ini berlangsung, tiada henti-hentinya melafadzkan kalimat “Allâh….Allâh….” yang diiringi dengan irama tepukan dan bacaan dari salah seorang yang menjadi pimpinan. Seringkali bacaannya diperkeras ketika terjadi pergantian dari menghadap ke depan berganti menghadap ke belakang Babak kedua dimulai dengan posisi yang berbeda, yaitu posisi duduk dengan kaki sebelah ditekuk ke belakang, yang sebelah lagi ditekuk ke atas, kemudian berdiri sambil menghadap ke kiri dan ke kanan secara beraturan mengiringi irama bacaan (nasyid) dengan formasi tetap pada lingkaran. Kemudian dilanjutkan dengan posisi formasi berdiri sambil menghadapkan badan ke kiri dan ke kanan dan setiap menghadapkan badannnya ke kanan maupun ke kiri diiringi dengan mundur satu langkah, sehingga selama samman berlangsung para anggotanya berada pada tempat yang berbeda sampai babak ini selesai, dan pada akhirnya mereka kembali ke tempat duduk semula. Dalam setiap pergantian melangkah maju maupun mundur selalu diselingi dengan tepuk tangan satu kali. Pada babak ini ada beberapa bacaan yang dibawakan oleh mereka sesuai dengan tugasnya. Salah seorang dari mereka yang memang sudah terbiasa menjadi pembawa lagu maupun bacaan lainnya (nasyid) melantunkan nyanyian bernada pujian kepada Nabi maupun putri Nabi, Siti Fatimah. Kemudian digantikan dengan seorang Nasyid lainnya dan melantunkan bacaan Shalawat. Sedangkan para anggota yang lain melantunkan kalimat dzikir “Allâh… hasbunallâh” secara berulang ulang tanpa henti mengiringibacaan nasyid dan selingan tepuk tangan, sehingga membentuk irama yang teratur. Babak ketiga diawali dengan formasi melingkar dalam posisi duduk dengankaki ditekuk ke belakang (seperti posisi tasyahhud awal dalam shalat), diiringi dengan tepuk tangan dalam irama yang teratur. Kemudian dilanjutkan dengan posisi berdiri sambil bergerak menghadapkan badan ke kiri dan ke kanan yang diiringi dengan bacaan dzikir berupa lafadz “Yâ Huwa Allâh…”. Sesekali lantunan lafadz Allâh dikeraskan dan diakhiri dengan tepuk tangan sesuai komando dari pimpinan. Setiap anggota tetap pada posisinya sampai selesainya babak ini.
Adapun bacaan yang dikumandangkan pada babak ini ada 2: Pertama, bernada dzikir, yaitu lafadz Jalâlah “Yâ Huwa Allâh…” yang diucapkan oleh separuh anggota, sedangkan separuh lainnya melafadzkan kalimat-kalimat hiburan berupa pantun yang mereka buat sendiri dalam bahasa Madura. Pantun tersebut berisi wejangan atau peringatan untuk semua orang yang mendengarnya, seperti: