Data Teknis
| Kategori | Warisan Budaya |
| Kategori Sub | Warisan Budaya |
| No Inventaris | - |
| Nama | Tradisi Mamaca Macapatan - Pamekasan, Jawa Timur |
| Karya Budaya | Seni Pertunjukan |
| Karya Budaya Sub | Seni Suara |
| Kondisi Saat Ini | Terancam Punah |
| Status Budaya | Pencatatan |
| Pelaku Komunitas | H. Ridawi |
| Pencatat Karya Budaya | Sony Budiharto, SH, Msi |
| Narasumber | - |
| Provinsi | Jawa Timur |
| Kabupaten/Kota | KAB. PAMEKASAN |
| Penginput Data | Rizki Dian Saputra |
Sejarah:
ï‚·Kebijaksanaan para Wali Songo dalam usaha dakwah melalui media seni, ternyata membawa hasil luar biasa. Hampir 90 % rakyat di wilayah nusantara mengaku dirinya ber-agama Islam. Keberhasilan tersebut tentunya berkat kegigihan, keuletan, kesabaran serta pembagian program secara tererinci dan ter-organisir rapi. Walaupun hidup para Wali tidak seluruhnya satu jaman, namun perjuangan atau usahanya merupakan satu gerak langkah yang terus-menerus, teratur, rapi dan disadari (bukan suatu hal yang kebetulan belaka).
Para Wali Songo ketika berdakwah menyiarkan agama Islam di bumi nusantara. menggunakan media kesenian. Media seni tersebut antara lain, gamelan, berbagai upacara, pertunjukan wayang ataupun menciptakan bentuk tembang (nyanyian). Untuk tembang mula-mula dipakai sebagai media untuk memuji Allah SWT (pujian keagamaan), di surau-surau sebelum didirikan shalat wajib. Tembang tersebut berbahasa Jawa, penuh sentuhan lembut dan membawa kesahduan pada jiwa.
Tembang tersebut dinamakan tembang Macapat. Selain berisi pujian kepada Tuhan Pencipta alam semesta, tembang tersebut menyampaikan ajaran, anjuran, serta ajakan untuk mencintai ilmu pengetahuan, ajakan untuk bersama-sama membenahi kerusakan moral dan budi pekerti, mencari hakekat kebenaran serta membentuk manusia ber-kepribadian dan ber-budaya. Melalui tembang Macapat setiap hati manusia diketuk untuk lebih mendalami serta memahami tentang makna hidup. Lebih dalam lagi, syair-syair yang terkandung dalam tembang Macapat merupakan manifestasi hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan alam, serta ketergantungan manusia kepada Sang Penguasa Alam Semesta.
Para wali yang menciptakan tembang Macapat adalah ; (1) Sunan Giri menciptakan tembang Sinom yang berarti Nur, yaitu tentang cahaya hidup yang tak pernah tua, (2) Sunan Majagung, tembang Maskumambang yang melambangkan ilmu, (3) Sunan Kalijaga, menciptakan tembang Dandang Gula, berisi mengajak pada rasa manis, yaitu mengharap kebahagiaan, (4) Sunan Bonang, menciptakan tembang Durma “harimauâ€. Harimau adalah lambang dari 4 nafsu manusia, yaitu : ego centros – nafsu angkara, polemos – nafsu mudah marah/berangasan, eros – nafsu birahi/sofia, relegios – nafsu keagamaan, kebenaran dan kejujuran, (5) Sunan Murya, menciptakan tembang Pangkur yang melahirkan tembang pembirat, yaitu tembang yang berisi bagaimana membasmi hati yang jahat, (6) Sunan Giri Parepen, menciptakan tembang Megatruh yang berisi ajaran meninggalkan alam kotor, (7) Sunan Giri Jati, menciptakan tembang Pucung, melambangkan perasaan yang memuncak (rasa perasaan itu puncak kehendak).
Seiring dengan penyebaran dan perkembangan agama Islam di berbagai wilayah nusantara, tembang Macapat inipun menyebar sampai ke pulau Madura. Tembang Macapat Madura awal keberadaannya berasal dari tembang Macapat Jawa dan tembang Macapat Madura pada dasarnya adalah kumpulan beberapa tembang Jawa kuno. Oleh sebagian penikmatnya, tembang Macapat diterjemahkan ke dalam bahasa Madura. Namun oleh sebagian penikmat lainnya, setiap pembacaan tembang Macapat tetap menggunakan bahasa Jawa kuna (kawi). Untuk mengetahui dan memahami makna, isi serta maksud tembang tersebut, dipergunakan seorang penerjemah yang disebut “paneggesâ€.
ï‚·
Deskripsi:
Tembang Macapat Madura memiliki banyak persamaan dan kesamaan dengan tembang Macapat Jawa. Keduanya diikat oleh suatu aturan tembang, yaitu jumlah gatra (padde) dari masing-masing tembang berbeda, mengikuti aturan guru lagu dan guru wilangan yang sama. Adapun perbedaannya terletak pada syair yang dinyanyikan, pada tembang Macapat Jawa syair mengikuti aturan not balok atau angka, sedangkan di Madura lebih mengutamakan cengkok atau lagu.
Jenis tembang Macopat Madura dikategorikan dalam tiga jenis, yaitu tembang raja, tembang tengahan dan tembang Macopat atau tembang kene’. Tembang Macopa Salanget (Kinanti), (2) Pucung, (3) Mejil (Medjil), (4) Maskumambang, (5) Durma, (6) Kasmaran (Asmaradana), (7) Pangkor, (8) Senom (Sinom), (9) Artate’ (Dandanggula), (10) Megattro (Megatruh), (11) Gambuh.
Kesenian tembang atau puisi tradisional “macapat†di Pamekasan, Madura, kini terancam punah karena tidak ada generasi penerusnya. Hanya para orang tua saja yang saat ini bisa nembang. Haji Ridawi, (78th) merupakan satu dari tiga pujangga kesenian tembang macapat lainnya yang ada di desa itu. Dua pujangga lainnya ialah Suwamah dan Kamaruddin. Ada beberapa macam dalam tembang macapat dengan jumlah metrum bervariatif, mulai dari lima hingga 10 metrum. Seperti tembang Artateh, Sinum (Senum), Kinanthi, Pangkur, Pocung, Durma, Maskumambang, Asmaradana, Mijil, Jurudemung, Wirangrong, Balabak, Gambuh, Megatruh, Girisa, dan Dhandhanggula. Menurut Haji Ridawi, masing-masing tembang ini memiliki metrum dan irama tembang yang berbeda. Seperti tembang Artate sebanyak 12 macam, Asmaradana (Kasmaran) tujuh macam, pocung empat, Kinanthi empat macam, dan Pangkur tujuh macam.Kalau pada tembang permulaan biasanya tembang Artateh atau tembang Kasmaran. Di Madura, termasuk di Pamekasan jenis tembang macapat yang biasa digunakan hanya sekitar tujuh tembang, yakni Artateh, Sinum, Pangkur, Pocung, Kinanthi, Kasmaran, dan tembang Maskumambang.
Di Pamekasan, salah satu lembaga pendidikan pondok pesantren yang berupaya tetap melestarikan kesenian tembang macapat adalah pondok pesantren Sumber Anyar yang juga terletak di Desa Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan.Hampir setiap bulan di pondok ini selalu menampilkan tembang macapat untuk masyarakat sekitar. Menurut Pengasuh Pondok Pesantren itu, Habibullah Bahwi, pihaknya tetap berupaya mempertahankan kesenian tembang macapat, karena jenis kesenian itu memiliki nilai sejarah dengan penyebaran agama Islam di Nusantara. Dalam kisah tembang macapat itu tidak hanya menyajikan cerita-cerita kerajaan dan pergulatan kekuasaan saja, tetapi juga ada cerita-cerita kenabian, yakni kelahiran Nabi Muhammad SAW.